Krimsus86.com Singapura, 21 April 2026 — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar, menjadi pembicara dalam kuliah pakar di National University of Singapore (NUS), salah satu perguruan tinggi terbaik dunia.
Kehadiran Kepala BPOM RI di forum akademik internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, seiring dengan capaian strategis BPOM yang telah memperoleh status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025. Status ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator negara maju dan menjadi pengakuan internasional atas kredibilitas sistem pengawasan obat dan makanan Indonesia.
Dalam kuliah pakarnya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh insan BPOM.
“Capaian ini bukan tentang individu, melainkan buah dari kerja keras dan dedikasi seluruh keluarga besar BPOM dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa keberhasilan meraih status WLA menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi sistem pengawasan berbasis teknologi dan kolaborasi global.
Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar juga memperkenalkan konsep strategis ABG (Academic, Business, Government) sebagai pilar utama dalam mendorong kemajuan bangsa. Konsep ini menekankan pentingnya sinergi antara dunia akademik, sektor industri, dan pemerintah dalam menciptakan inovasi serta kebijakan yang berkelanjutan.
Transformasi BPOM RI, lanjutnya, didukung oleh dua strategi utama, yaitu digitalisasi pengawasan guna meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan publik, serta penerapan reliance mechanism untuk mempercepat proses registrasi produk kesehatan dengan tetap menjaga standar keamanan dan mutu.
“Kolaborasi antar regulator menjadi kunci dalam mempercepat akses masyarakat terhadap produk kesehatan yang aman, bermutu, dan berkhasiat,” tegasnya.
Selain aspek pengawasan, Taruna Ikrar juga menyoroti bahwa sektor yang berada dalam lingkup BPOM, seperti obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik, dan suplemen kesehatan, memiliki nilai ekonomi strategis yang signifikan dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan capaian tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor produk farmasi dan pangan, memperkuat kepercayaan global, serta menarik investasi di sektor kesehatan.
Kehadiran Kepala BPOM RI di NUS turut didampingi oleh staf khusus kepala BPOM, Wachyudi Muchsin, sekaligus menjadi simbol meningkatnya peran Indonesia dalam percaturan global, tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebijakan kesehatan dunia.
Melalui momentum ini, Indonesia menegaskan kesiapan untuk terus melangkah maju dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kepemimpinan yang diakui secara internasional.(Mj@19//red)






