Prof. Sutan Nasomal Dukung Presiden Prabowo Perluas Kerja Sama dengan Negara Maju: Indonesia Jangan Mau Diancam Negara Manapun!

JAKARTA KRIMSUS86.COM – Pakar Hukum Internasional sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam memperluas kerja sama strategis dengan negara-negara maju di bidang teknologi internet dan telekomunikasi.

Menurutnya, kerja sama internasional tersebut penting untuk memperkuat kedaulatan digital, ketahanan infrastruktur komunikasi, serta keamanan nasional Indonesia di tengah perkembangan teknologi global.

Berita Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Prof. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online dalam maupun luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari kantornya di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (1/11/2026).

Prof. Sutan Nasomal menilai Indonesia memiliki potensi pasar digital yang sangat besar. Oleh sebab itu, pemerintah perlu membuka peluang kemitraan teknologi dengan berbagai negara, termasuk Jepang, China, dan negara-negara Eropa, dengan tetap mengedepankan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto apabila memperluas kerja sama dengan negara-negara maju dalam bidang teknologi internet. Silakan bekerja sama dengan siapa pun, asalkan saling menguntungkan dan tetap mengutamakan kepentingan, keamanan, serta kedaulatan bangsa Indonesia,” ujar Prof. Sutan Nasomal.

Prof. Sutan Nasomal mengingatkan bahwa kebutuhan internet nasional jangan sampai menjadi celah bagi pihak asing untuk memberikan tekanan politik maupun ekonomi terhadap Indonesia.

Ia menilai potensi gangguan atau ancaman pemutusan akses jaringan internet internasional merupakan persoalan serius yang perlu diantisipasi melalui kebijakan strategis pemerintah.

“Indonesia adalah bangsa besar dan berdaulat. Jangan sampai hanya karena membutuhkan akses internet, negara kita bisa diancam, diintimidasi, bahkan didikte oleh negara lain. Jika ada mitra yang terbukti melakukan ancaman seperti itu, pemerintah harus berani mengevaluasi kerja samanya,” tegasnya.

Meski demikian, ia tidak menyebutkan secara spesifik negara yang dimaksud maupun bukti adanya ancaman pemutusan jaringan internet. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai peringatan terhadap risiko ketergantungan teknologi dan pentingnya menjaga kemandirian digital nasional.

Lebih lanjut, Prof. Sutan Nasomal menjelaskan bahwa kabel serat optik bawah laut merupakan salah satu infrastruktur penting dalam mendukung konektivitas internet global. Namun, infrastruktur tersebut tetap memiliki risiko gangguan, baik akibat kerusakan teknis, bencana alam, maupun situasi geopolitik.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat alternatif konektivitas melalui pengembangan teknologi satelit komunikasi, pembangunan infrastruktur jaringan domestik, serta diversifikasi jalur koneksi internet internasional.

“Kabel internet bawah laut bukan satu-satunya jalan. Masih banyak teknologi dan negara maju yang dapat diajak bekerja sama. Indonesia harus memiliki berbagai pilihan agar tidak bergantung pada satu jalur ataupun satu negara,” jelasnya.

Menurutnya, sistem jaringan nasional harus dibangun agar lebih tangguh, aman, dan mampu menjamin keberlangsungan komunikasi masyarakat, aktivitas ekonomi, serta pelayanan pemerintahan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sutan Nasomal juga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) agar memperluas peluang kerja sama internasional, khususnya dengan negara-negara yang memiliki kemampuan teknologi telekomunikasi dan satelit.

Ia menekankan bahwa setiap kerja sama harus memperhatikan perlindungan data nasional, keamanan siber, kepentingan ekonomi dalam negeri, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam menguasai teknologi.

“Komdigi harus membuka pintu selebar-lebarnya bagi negara maju yang ingin membangun kerja sama teknologi dengan Indonesia. Namun, kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas. Jangan sampai bangsa ini hanya menjadi pasar tanpa memperoleh manfaat teknologi yang nyata,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan infrastruktur digital tidak hanya menyangkut kebutuhan komunikasi masyarakat, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sektor ekonomi, pendidikan, pertahanan, keamanan, dan pelayanan publik.

Sebagai Ketua Umum PAMID sekaligus pemerhati persoalan nasional, Prof. Sutan Nasomal berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong kemandirian teknologi Indonesia melalui kerja sama internasional yang terukur dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang bangsa.

Menurutnya, menjalin kemitraan dengan negara asing merupakan bagian dari upaya mempercepat pengembangan teknologi nasional. Namun, Indonesia harus tetap memiliki kendali, kemampuan, dan alternatif dalam mengelola infrastruktur digitalnya.

“Indonesia harus mandiri dan merdeka dalam penguasaan teknologi internet. Kita boleh bekerja sama dengan negara mana pun, tetapi jangan sampai kehilangan kedaulatan. Indonesia tidak boleh direndahkan, diancam, ataupun didikte hanya karena persoalan kebutuhan internet,” pungkas Prof. Sutan Nasomal.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya membangun ketahanan infrastruktur digital nasional, memperluas pilihan mitra teknologi internasional, serta memastikan setiap bentuk kerja sama memberikan manfaat nyata bagi kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia.

NARASUMBER:

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H.

Pakar Hukum Internasional dan Ekonom

Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID)

Association of Young Indonesian Advocates

REDAKSI MEDIA CETAK ONLINE KRIMSUS86.COM

Tegas, Lugas, Terpercaya.

Pos terkait