BUOL, KRIMSUS86.COM — Kabupaten Buol sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XXIV Sulawesi Tengah Tahun 2026 seharusnya memiliki kebanggaan sekaligus momentum besar untuk menunjukkan prestasi terbaik di hadapan masyarakat sendiri.
Namun, harapan tersebut belum mampu diwujudkan secara maksimal. Salah satu yang menjadi perhatian masyarakat adalah perjalanan tim sepak bola Kabupaten Buol yang harus mengakhiri perjuangan lebih awal pada babak penyisihan.
Bermain di Stadion Kuonoto, tim sepak bola Buol lebih dahulu mengalami kekalahan 1–2 dari Kabupaten Tolitoli. Pada pertandingan berikutnya, Buol kembali harus mengakui keunggulan Kota Palu dengan skor 1–6.
Dua hasil tersebut membuat peluang tim sepak bola Buol untuk melanjutkan perjuangan ke fase berikutnya tertutup. Sebagai tuan rumah, hasil ini tentu menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat yang sebelumnya menaruh harapan besar kepada para atlet muda daerah.
Bukan Sekadar Persoalan Kekalahan
Kegagalan dalam sebuah kompetisi olahraga tentu tidak dapat serta-merta dibebankan kepada satu pihak. Namun hasil yang diraih menjadi bahan evaluasi penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga pelajar di Kabupaten Buol.
Mulai dari proses seleksi atlet, kualitas pembinaan, kesiapan fisik, strategi pertandingan, hingga kepemimpinan teknis pelatih dan ofisial perlu menjadi perhatian serius.
Sejumlah pandangan yang berkembang di masyarakat menilai bahwa kualitas persiapan dan pembinaan atlet perlu dievaluasi lebih mendalam. Ada pula sorotan terhadap proses seleksi yang diharapkan dapat dilakukan secara terbuka, objektif dan transparan agar seluruh talenta muda di Kabupaten Buol memperoleh kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Penilaian tersebut tentu perlu dikaji secara objektif dan tidak dapat langsung dianggap sebagai kesimpulan tanpa evaluasi resmi dari pihak yang berwenang.
Namun, satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa Buol memiliki banyak potensi atlet muda. Talenta olahraga tidak hanya berada di pusat kota, tetapi tersebar di desa-desa dan kecamatan.
Karena itu, sistem pencarian dan pembinaan bakat harus mampu menjangkau seluruh wilayah agar atlet terbaik benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan membawa nama daerah.
Buol Pernah Memiliki Catatan Prestasi
Masyarakat Buol juga mengingat bahwa daerah ini pernah memiliki perjalanan prestasi olahraga yang membanggakan. Pada sejumlah ajang POPDA di masa sebelumnya, atlet-atlet Buol mampu menunjukkan kemampuan dan membawa nama daerah bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Catatan tersebut menjadi bukti bahwa Kabupaten Buol sebenarnya memiliki sumber daya atlet yang potensial.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah sistem pembinaan yang berjalan saat ini sudah cukup kuat untuk melanjutkan dan meningkatkan prestasi tersebut?
Ataukah terdapat persoalan dalam proses pembinaan yang menyebabkan potensi atlet belum berkembang secara maksimal?
Pertanyaan tersebut patut dijawab melalui evaluasi yang terbuka, jujur dan berorientasi pada perbaikan.
Evaluasi Menyeluruh Dibutuhkan
Kegagalan pada POPDA XXIV tidak seharusnya hanya dilihat sebagai persoalan kekalahan di lapangan. Lebih dari itu, hasil tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan olahraga pelajar di Kabupaten Buol.
Evaluasi dapat mencakup sejumlah aspek, antara lain:
Sistem seleksi atlet dari tingkat desa dan kecamatan.
Program pembinaan jangka panjang bagi atlet pelajar.
Kualitas dan kompetensi pelatih serta tenaga teknis.
Kesiapan fisik dan mental bertanding para atlet.
Ketersediaan fasilitas latihan yang memadai.
Efektivitas penggunaan anggaran pembinaan olahraga.
Transparansi dalam penunjukan atlet, pelatih dan ofisial.
Pemerintah daerah, dinas terkait, organisasi olahraga, sekolah, pelatih serta masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun ekosistem olahraga yang sehat.
Anak-anak muda Buol membutuhkan ruang yang adil untuk menunjukkan kemampuan mereka. Prestasi tidak akan lahir hanya dari persiapan menjelang kompetisi, tetapi dari pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Saatnya Bangkit
Menjadi tuan rumah namun belum mampu memberikan hasil maksimal tentu menjadi pengalaman pahit. Namun kekalahan tidak harus menjadi akhir dari perjuangan.
Justru dari kegagalan inilah Kabupaten Buol dapat mengambil pelajaran untuk membangun sistem olahraga yang lebih baik.
Masyarakat berhak bertanya, berhak memberikan kritik dan berhak meminta evaluasi. Namun kritik tersebut seharusnya menjadi dorongan untuk melakukan perbaikan, bukan sekadar mencari kambing hitam.
Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang salah, tetapi apa yang harus diperbaiki dan siapa yang bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Jika seluruh pihak mampu melakukan evaluasi secara terbuka dan serius, maka kegagalan di POPDA XXIV dapat menjadi titik awal kebangkitan olahraga pelajar Kabupaten Buol.
Potensi atlet muda Buol masih ada. Semangat masyarakat juga masih ada. Yang dibutuhkan adalah sistem pembinaan yang adil, profesional, terbuka dan berorientasi pada prestasi.
Jangan sampai anak-anak berbakat dari desa dan kecamatan kehilangan kesempatan hanya karena sistem pencarian bakat tidak berjalan maksimal.
Mumpung evaluasi atas pelaksanaan POPDA XXIV masih relevan, seluruh pihak diharapkan dapat menjadikan hasil kompetisi ini sebagai bahan introspeksi bersama.
Agar pada ajang berikutnya, Kabupaten Buol tidak lagi hanya dikenal sebagai tuan rumah yang menyelenggarakan pertandingan, tetapi mampu berdiri sebagai daerah yang melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Kekalahan hari ini harus menjadi bahan pembelajaran. Karena dari evaluasi yang jujur, pembinaan yang serius dan kesempatan yang adil, Buol dapat kembali bangkit dan menorehkan prestasi.
Penulis: Syafri Sakula, S.IP
Jurnalis/Biro Buol KRIMSUS86.COM






