MAKASSAR — KRIMSUS86.COM — Maraknya aktivitas geng motor dan aksi kekerasan yang melibatkan kalangan remaja di Kota Makassar menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan seluruh elemen masyarakat. Berbagai insiden kekerasan yang menimbulkan korban luka hingga hilangnya nyawa menjadi pengingat bahwa persoalan konflik antarpelajar dan kenakalan remaja membutuhkan penanganan serius, terukur, dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Makassar, Muhajir, menyerukan agar seluruh pihak tidak sekadar menyampaikan keprihatinan, tetapi mengambil langkah nyata untuk mencegah kekerasan serta menyelamatkan generasi muda dari pergaulan negatif.
Muhajir secara terbuka menantang Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), seluruh kepala SMP di Kota Makassar, serta organisasi Atlantara agar menunjukkan kontribusi konkret dalam membantu menyelesaikan persoalan konflik antarpelajar.
Seruan tersebut disampaikan dengan semangat khas Makassar, “Wattunami Appa Tujui Makassar!” sebagai ajakan untuk bergerak bersama, meninggalkan perdebatan yang tidak produktif, dan mengutamakan keselamatan serta masa depan generasi muda.
Muhajir: Kami Tidak Mau Semakin Banyak Korban
Muhajir menegaskan, persoalan kekerasan remaja bukan sekadar menyangkut citra kota maupun nama baik kelompok tertentu. Lebih dari itu, persoalan tersebut menyangkut keselamatan, masa depan, dan kualitas generasi penerus bangsa.
“Kami jelas tidak mau semakin banyak korban. Kami juga tidak rela anak-anak kami terjerumus dalam pergaulan negatif. Masa depan bangsa dan Kota Makassar ini, gambaran ke depannya adalah kondisi pemudanya hari ini. Mau dikenal sebagai apa bangsa ini nantinya?” tegas Muhajir.
Menurutnya, perhatian terhadap generasi muda tidak boleh berhenti pada pembicaraan mengenai reputasi atau pencitraan. Hal yang lebih penting adalah memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, memperoleh pembinaan yang tepat, dan memiliki kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.
“Bukan juga soal citra dan sebatas nama semata. Tapi persoalan kehidupannya, keturunan ta, kondisinya ke depan bagaimana?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menangani kekerasan remaja. Pengawasan, pendidikan karakter, komunikasi keluarga, serta pembinaan di lingkungan sekolah dan masyarakat perlu berjalan beriringan agar potensi konflik dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.
“Kalau Bukan Ki Saling Membantu, Siapa Pale Lagi?”
Muhajir turut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian dalam menghadapi persoalan kepemudaan. Ia mengingatkan bahwa situasi tersebut bukan momentum untuk saling menyalahkan ataupun mempertajam perbedaan.
“Kalau bukan ki saling membantu, saling peduli, saling sayang, siapa pale lagi kasian? Bukan mi waktunya saling menyalahkan, bukan mi juga soal siapa paling jago. Tapi bagaimana kemuliaan hati ta dan peran ta yang nyata,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi seruan agar kepedulian diwujudkan melalui tindakan konkret. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas pemuda, dan organisasi kemasyarakatan perlu membangun koordinasi serta mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing.
Keberanian sejati, dalam konteks ini, bukan ditunjukkan melalui kekuatan atau konflik, melainkan melalui kesediaan mengambil tanggung jawab, melindungi generasi muda, dan menyelesaikan persoalan secara damai.
MKKS dan Kepala Sekolah Ditantang Hadirkan Inovasi
Secara khusus, Muhajir menantang MKKS dan seluruh kepala sekolah SMP di Kota Makassar agar memperkuat peran pendidikan karakter serta menghadirkan inovasi yang relevan untuk mencegah perilaku berisiko di kalangan pelajar.
“Wattunami Appa Tujui Makassar! Kalau memang mau kasih lihat jago ta, kasih lihat mi di sini bagaimana jago ta kasih selesai dan mana peranta selesaikan ini masalah,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap persoalan pelajar harus dibuktikan melalui program dan tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya.
“Saya ini Kabid SMP tantang kepala sekolah, MKKS juga harus berperan aktif. Apa inovasi ta, mana peran dan kepedulian? Jangan hanya bicara peduli, baru tidak ada aksi,” lanjut Muhajir.
Dorongan tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan pendidikan antikekerasan, pembinaan kedisiplinan, layanan konseling, pelatihan kepemimpinan, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, serta pembentukan komunitas pelajar yang mendorong pergaulan positif.
Sekolah juga perlu memperkuat komunikasi dengan orang tua, mengenali lebih awal perubahan perilaku peserta didik yang membutuhkan pendampingan, serta berkoordinasi dengan pihak terkait apabila ditemukan indikasi ancaman atau potensi konflik.
Atlantara Diminta Menunjukkan Kontribusi Nyata
Sorotan terhadap peran Atlantara menjadi bagian dari ajakan agar organisasi dan komunitas yang berkaitan dengan pembinaan generasi muda turut mengambil tanggung jawab sosial. Keterlibatan tersebut diharapkan diwujudkan melalui kegiatan yang terarah, dialog antarpelajar, pendampingan remaja, dan kolaborasi dengan sekolah serta orang tua.
Penyelesaian konflik tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Diperlukan pembagian peran yang jelas, komunikasi terbuka, dan program pencegahan yang berkelanjutan agar upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak berhenti pada seruan semata.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang untuk membangun karakter, menumbuhkan empati, dan mengajarkan peserta didik menyelesaikan perbedaan secara bermartabat.
Seruan Muhajir menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Kota Makassar: sudah waktunya kepedulian dibuktikan dengan aksi nyata. Keselamatan pelajar dan masa depan generasi muda harus menjadi kepentingan bersama, di atas ego, perbedaan, maupun kepentingan kelompok.
(Robby Rambi//Tim)
KRIMSUS86.COM — Tegas, Lugas, Terpercaya






