WONOSOBO, KRIMSUS86.COM – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah, terus diintensifkan. Polda Jawa Tengah bersama tim gabungan berupaya melokalisasi titik api agar tidak meluas ke kawasan hutan pinus, lahan pertanian, maupun permukiman warga.
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan meninjau langsung lokasi kebakaran pada Rabu (21/10/2026). Dalam peninjauan tersebut, ia menegaskan bahwa upaya pemadaman terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel dan masyarakat.
Menurut Kapolda, personel gabungan masih berjuang menjangkau titik-titik api di kawasan atas gunung. Selain mengoptimalkan pemadaman melalui jalur darat, pihaknya juga menjajaki kemungkinan penggunaan helikopter untuk pemadaman melalui udara atau water bombing.
“Personel di lapangan terus berjuang naik ke atas, membatasi dan melokalisir api agar tidak melebar. Saat ini kondisi masih menyala dan kita terus berupaya padamkan. Kami juga menjajaki pengerahan helikopter water bombing yang disiagakan dari Gunung Lawu jika kondisi medan memungkinkan,” ujar Kapolda.
Medan Ekstrem Jadi Kendala Pemadaman
Kapolda menjelaskan, kondisi medan Gunung Sumbing yang terjal dan ekstrem menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Karena itu, strategi penanganan dilakukan dengan mengoptimalkan peralatan pemadaman darat, melibatkan masyarakat, serta mempertimbangkan dukungan pemadaman udara.
Demi mencegah jatuhnya korban, seluruh jalur pendakian Gunung Sumbing dan gunung-gunung lain di Jawa Tengah diberlakukan penutupan secara ketat sesuai kebijakan yang berlaku.
Sebelumnya, tim gabungan telah mengevakuasi seluruh pendaki yang berada di kawasan gunung dalam kondisi selamat. Sekitar 162 pendaki berhasil dievakuasi turun sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan kebakaran.
Luas Kebakaran Diperkirakan Capai 306 Hektare
Sementara itu, Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja menjelaskan bahwa pemerintah daerah bersama unsur terkait mendorong penetapan status tanggap darurat. Langkah tersebut dinilai diperlukan untuk mempercepat dukungan personel, peralatan, dan sumber daya dalam penanganan kebakaran yang berdampak luas.
Berdasarkan data Polres Wonosobo, total area terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 306 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 140 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Saat ini, tim gabungan masih memusatkan penanganan pada dua hamparan titik api aktif yang masing-masing diperkirakan seluas 90 hektare dan 70 hektare.
“Sebanyak 180 personel yang terbagi dalam enam peleton kami sebar ke titik-titik kritis, seperti kawasan Banyumudal. Selain membuat sekat bakar (firebreak), kami juga dibantu warga petani setempat yang mengerahkan mesin pompa steam air untuk membasahi area rawan,” jelas Kapolres.
Pembuatan sekat bakar dilakukan untuk menghambat penjalaran api ke kawasan lain yang berpotensi terdampak. Di sisi lain, keterlibatan warga setempat menjadi dukungan penting dalam membantu upaya pengendalian kebakaran di lapangan.
Masyarakat Diimbau Tidak Membakar Lahan
Kapolda Jawa Tengah mengimbau masyarakat serta pengelola kawasan Perhutani agar meningkatkan kewaspadaan dan disiplin dalam menjaga lingkungan, khususnya di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembersihan atau pembukaan lahan (land clearing) dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas dan membahayakan keselamatan warga.
Selain itu, masyarakat dan calon pendaki diminta mematuhi penutupan jalur pendakian sampai situasi benar-benar dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Polda Jawa Tengah bersama unsur pemerintah daerah, petugas terkait, dan masyarakat akan terus mengintensifkan upaya pengendalian api. Pelokalisiran titik kebakaran menjadi prioritas agar api tidak merambat ke wilayah yang lebih luas, sembari menyiapkan opsi dukungan pemadaman udara apabila kondisi memungkinkan.
Pewarta: Camet KJN
Redaksi: KRIMSUS86.COM






