TOBELO, HALMAHERA UTARA – Pelaksanaan kegiatan pasar murah yang berlangsung di kawasan Hibualamo, Tobelo, pada 2 Oktober 2026 menuai sorotan dari berbagai kalangan. Mulai dari lembaga adat, organisasi kemasyarakatan, hingga Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Halmahera Utara, menyampaikan perhatian terhadap penggunaan Hibualamo sebagai lokasi kegiatan perdagangan.
Sorotan tersebut muncul lantaran Hibualamo dikenal sebagai rumah adat sekaligus simbol budaya dan warisan leluhur masyarakat Halmahera Utara yang memiliki nilai historis, filosofis, serta kehormatan adat yang harus dijaga dan dilestarikan.
Andre Djodjo, salah satu pengurus PAC GPM Kabupaten Halmahera Utara, menyampaikan bahwa pihaknya pada prinsipnya sangat mengapresiasi langkah pemerintah daerah melalui Dinas Perindagkop dalam menyelenggarakan pasar murah untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Menurut Andre, kebijakan tersebut merupakan langkah konkret pemerintah daerah dalam merespons kenaikan harga rica (cabai) di pasaran yang disebut mencapai Rp150.000 per kilogram. Melalui kegiatan pasar murah, pemerintah daerah menyediakan rica dengan harga Rp80.000 per kilogram, dengan total pasokan mencapai 3,2 ton bagi masyarakat Halmahera Utara.
“Kami sangat mengapresiasi langkah pemerintah daerah dengan mengadakan pasar murah bagi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Namun, jangan sampai kita mencederai nilai-nilai Hibualamo sebagai rumah adat dan warisan para leluhur yang telah dijaga sejak lama,” ujar Andre.
Lebih lanjut, Andre menegaskan bahwa pelaksanaan pasar murah seharusnya tidak menggunakan Hibualamo sebagai tempat penjualan. Ia menilai pemerintah daerah perlu mempertimbangkan lokasi alternatif yang lebih sesuai dengan fungsi kegiatan perdagangan.
Salah satu lokasi yang disarankan adalah bangunan Pasar Rakyat yang berada di sebelah barat area parkiran angkutan kota Tobelo–Galela. Menurutnya, bangunan tersebut telah lama dibangun pada periode pemerintahan sebelumnya, namun hingga saat ini belum difungsikan secara optimal.
“Pemerintah daerah melalui Dinas Perindagkop semestinya menggunakan tempat lain untuk melaksanakan pasar murah atau proses penjualan rica. Misalnya, bangunan Pasar Rakyat yang berlokasi di sebelah barat parkiran angkutan kota Tobelo–Galela yang telah lama ditelantarkan atau tidak difungsikan lagi,” tegas Andre.
Ia mempertanyakan alasan penggunaan Hibualamo sebagai lokasi kegiatan, sementara terdapat bangunan pasar yang dinilai lebih tepat untuk menunjang aktivitas perdagangan masyarakat.
“Kenapa dalam pelaksanaan pasar murah tidak menggunakan bangunan tersebut, malah Hibualamo dijadikan sebagai korban dari seluruh kegiatan ini? Hibualamo itu bukan pasar, melainkan rumah adat yang harus kita hormati,” lanjutnya.
Andre juga meminta Bupati Halmahera Utara agar melakukan evaluasi terhadap Kepala Dinas Perindagkop terkait pemilihan lokasi pelaksanaan pasar murah tersebut.
Menurutnya, evaluasi diperlukan agar ke depan setiap program pemerintah daerah tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Halmahera Utara.
“Bupati Halmahera Utara harus mengevaluasi Kepala Dinas Perindagkop agar tidak lagi menggunakan Hibualamo sebagai tempat penjualan. Hibualamo bukan pasar, tetapi rumah adat dan warisan para leluhur bagi kita sekalian,” tegas Andre.
Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih bijaksana dalam menentukan lokasi kegiatan pemerintahan maupun program pelayanan publik, dengan tetap memperhatikan aspek budaya dan kehormatan adat.
Di akhir pernyataannya, Andre mengajak seluruh elemen masyarakat Halmahera Utara untuk tetap mendukung kebijakan pemerintah daerah yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Namun, dukungan tersebut harus berjalan beriringan dengan komitmen menjaga dan melestarikan nilai-nilai Hibualamo sebagai ikon budaya serta warisan leluhur masyarakat Halmahera Utara.
“Marilah kita bersama-sama mendukung seluruh kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Utara, tetapi tetap menjaga marwah dan nilai-nilai Hibualamo sebagai ikon budaya dan warisan leluhur kita sekalian,” tutup Andre Djodjo.
(Mirwan Taher)






