Jejak Wakaf Kiai Marogan Ditelusuri dari Tanah Suci, Tim Riset PMPB Sumsel Temui Zuriat Ulama Besar Palembang di Makkah

MAKKAH | Krimsus86.com – Perkumpulan Masyarakat Palembang Bersatu (PMPB) Sumatera Selatan terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan sejarah dan nilai-nilai perjuangan ulama besar Palembang. Melalui Tim Riset PMPB Sumsel, organisasi tersebut melakukan penelitian lapangan dengan mengunjungi kediaman Masagus Haji Fauzi, salah satu cicit (zuriat) Kiai Marogan, di kawasan Tan’im, Kota Makkah, Arab Saudi.

Kunjungan yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan itu menjadi bagian dari upaya penelusuran sejarah serta pengembangan konsep wakaf produktif yang diwariskan Kiai Marogan. Selain mempererat tali silaturahmi, pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menghimpun data, informasi, dan berbagai catatan sejarah mengenai perjalanan dakwah serta pengelolaan aset wakaf peninggalan ulama besar asal Palembang tersebut.

Berita Lainnya

Kegiatan riset ini diinisiasi dan difasilitasi sepenuhnya oleh Ketua Umum PMPB Sumatera Selatan, M. Yusuf Malaya, sebagai bentuk keseriusan organisasi dalam menjaga, mengkaji, dan mengembangkan warisan keilmuan serta sejarah Islam di Sumatera Selatan.

Dari Tanah Suci Makkah, Tim Riset PMPB Sumsel turut menyampaikan doa dan apresiasi kepada Ketua Umum PMPB Sumsel atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan penelitian tersebut.

“Salam dari Kota Makkah. Doa kami bersama dari Tim Riset PMPB Sumatera Selatan untuk Ketua Umum PMPB Sumsel, Bapak M. Yusuf Malaya, semoga senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta dimudahkan segala urusannya. Semoga seluruh kebutuhan penelitian ini dapat terpenuhi sehingga menghasilkan kajian yang bermanfaat bagi umat Islam, khususnya di Sumatera Selatan dan Indonesia,” ujar perwakilan tim riset.

Sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga besar Kiai Marogan, Tim Riset PMPB Sumsel menyerahkan tanjak, penutup kepala khas Melayu Palembang, kepada Masagus Haji Fauzi. Sebagai balasan, keluarga besar Kiai Marogan memberikan cenderamata istimewa berupa sepotong kiswah, kain penutup Ka’bah, yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi.

Cenderamata tersebut dititipkan melalui Pembina PMPB Sumsel, Profesor Adil, untuk disampaikan kepada Ketua Umum PMPB Sumsel, M. Yusuf Malaya, sebagai simbol eratnya hubungan silaturahmi antara keluarga besar Kiai Marogan di Tanah Suci dengan masyarakat Palembang.

Dalam pertemuan tersebut, Tim Riset PMPB Sumsel juga memperoleh berbagai informasi penting yang selama ini belum banyak diketahui publik. Di antaranya mengenai perjalanan dakwah Kiai Marogan serta riwayat ayahandanya, Syekh Masagus Mahmud Kanang, yang diketahui dimakamkan di Aden, Yaman. Temuan ini dinilai akan memperkaya kajian akademik mengenai sejarah ulama Palembang dan jaringan dakwah Islam di kawasan Timur Tengah.

Setelah seluruh rangkaian penelitian lapangan selesai, PMPB Sumsel akan melanjutkan proses penelitian sesuai kaidah ilmiah melalui seminar, kajian akademik, verifikasi data, hingga penyusunan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Tim peneliti yang terdiri dari para profesor, doktor, dan akademisi berharap hasil penelitian tersebut mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan dan pengelolaan wakaf produktif berbasis sejarah serta nilai-nilai keislaman.

Selain menjalankan misi penelitian, rombongan PMPB Sumsel juga memperkenalkan berbagai simbol budaya Melayu Palembang kepada keluarga besar Kiai Marogan melalui penyerahan cenderamata khas daerah, seperti tanjak, kopondang inggap, dan gandik, sebagai bentuk pelestarian identitas budaya Palembang di tingkat internasional.

Dari Kota Suci Makkah, langkah yang dilakukan Tim Riset PMPB Sumatera Selatan diharapkan menjadi awal lahirnya kajian komprehensif mengenai warisan Kiai Marogan. Penelitian ini tidak hanya bertujuan mengungkap fakta sejarah, tetapi juga membuka peluang pengembangan wakaf produktif yang modern, profesional, dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan manfaat luas bagi kemaslahatan umat serta mendukung pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat Sumatera Selatan maupun Indonesia.

(Enis //red)

Pos terkait