Krimsus86.com Indramayu, 28 April 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan akan disertai fenomena El Niño. Langkah ini dilakukan melalui konsolidasi lintas sektor hingga ke tingkat desa guna meminimalisir dampak bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa setiap musim memiliki karakteristik risiko kebencanaan yang berbeda. Setelah sebelumnya berfokus pada penanganan bencana hidrometeorologi di musim hujan, kini perhatian diarahkan pada ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
“Jika sebelumnya kita fokus pada mitigasi hidrometeorologi, saat ini menghadapi kemarau panjang, kami melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak. BPBD menjadi leading sector dan memastikan koordinasi berjalan hingga ke daerah,” ujarnya di Gedung Sate, Senin (27/4/2026).
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berkoordinasi dengan 27 kabupaten/kota untuk meningkatkan peran aktif dalam edukasi masyarakat. Upaya ini dinilai penting guna meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi saat musim kemarau.
BPBD di tingkat kabupaten/kota juga diminta memperkuat koordinasi dengan camat, kepala desa, dan lurah guna mendorong deteksi dini di lapangan. Deteksi cepat dinilai krusial dalam mencegah meluasnya kebakaran.
Selain itu, pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap ancaman kekeringan yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian. Wilayah lumbung padi seperti Karawang dan Indramayu, khususnya di kawasan Pantai Utara, menjadi prioritas pengawasan karena rawan mengalami kekurangan pasokan air.
Herman menegaskan pentingnya peran dinas pertanian dalam memastikan infrastruktur irigasi tetap berfungsi optimal. Ia mengingatkan bahwa keterbatasan air dapat semakin diperparah apabila saluran irigasi tidak dalam kondisi baik.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah mendorong penyaluran bantuan pompa air kepada kelompok tani. Bantuan ini dinilai efektif dalam mengatasi keterbatasan air dengan memanfaatkan sumber air dari sungai selama musim kemarau.
Lebih lanjut, capaian produksi padi Jawa Barat yang mencapai lebih dari 10 juta ton gabah kering giling menjadi indikator keberhasilan yang harus dipertahankan melalui kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
“Seluruh pihak harus proaktif agar ketahanan pangan tetap terjaga di tengah ancaman El Nino,” pungkasnya.(Wardono//red)






