Sintang Krimsus86.com, 24 Mei 2026 — Para petani kelapa sawit di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya biaya operasional, khususnya harga bahan bakar minyak (BBM), serta regulasi pemerintah yang dinilai belum memberikan kepastian dan perlindungan bagi petani kecil.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga TBS sawit di tingkat petani saat ini hanya berada di kisaran Rp1.300 hingga Rp1.600 per kilogram. Angka tersebut dinilai jauh di bawah biaya produksi yang harus dikeluarkan petani, mulai dari biaya perawatan kebun, pemupukan, hingga biaya pengangkutan hasil panen menuju tempat penimbunan atau pabrik pengolahan.
Salah satu petani sawit asal Desa Entogong, Agus (45), mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para petani saat ini. Menurutnya, penurunan harga sawit bukan hanya dipengaruhi faktor pasar global, melainkan juga akibat kebijakan dan regulasi yang dinilai berubah-ubah serta tidak memberikan kepastian bagi petani kecil.
“Kami menjerit rasanya. Biaya hidup mahal karena harga BBM tinggi, sementara harga buah sawit kami jatuh bebas. Aturan pemerintah sering berubah, mulai dari kebijakan ekspor hingga ketentuan lainnya, tetapi yang paling merasakan dampaknya selalu petani kecil,” ungkap Agus, Minggu (24/5/2026).
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sintang maupun Pemerintah Pusat dapat turun langsung melihat kondisi masyarakat di lapangan dan tidak hanya menerima laporan dari pihak perusahaan semata. Menurutnya, mayoritas masyarakat di Kecamatan Kayan Hulu menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit sehingga diperlukan kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan petani.
“Kami tidak meminta bantuan terus-menerus. Kami hanya ingin kebijakan yang jelas, stabil, dan menjamin harga sawit yang wajar agar hasil kerja kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” tambahnya.
Tokoh masyarakat setempat juga menilai persoalan anjloknya harga sawit tidak dapat dipisahkan dari tingginya biaya transportasi akibat mahalnya BBM di wilayah pedalaman. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan petani semakin tipis karena biaya angkut hasil panen terus meningkat.
Masyarakat berharap pemerintah segera memfasilitasi dialog terbuka antara petani, pengusaha, dan pemerintah daerah guna mencari solusi bersama demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat pedalaman, khususnya di Kabupaten Sintang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Perkebunan maupun instansi terkait mengenai keluhan para petani sawit di Kecamatan Kayan Hulu.
Perwarta: Hendrikus Tingang






