KUNINGAN, KRIMSUS86.COM – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Fast Respon Indonesia Center (FRIC) Kabupaten Kuningan, Trisno/Magrib, menyampaikan keprihatinannya atas minimnya pelibatan anggota FRIC dalam sejumlah kegiatan resmi di lingkungan Polres Kuningan.
Ia berharap pihak kepolisian dapat mengevaluasi pola komunikasi dan mekanisme pelibatan media agar kemitraan antara Polri dan insan pers dapat berjalan secara terbuka, profesional, serta mengedepankan prinsip kesetaraan.
Menurut Trisno/Magrib, selama ini anggota FRIC berupaya aktif menjalankan fungsi jurnalistik, termasuk memberitakan kegiatan kepolisian dan mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif.
Namun, ia menyayangkan adanya kegiatan tertentu yang dinilai hanya melibatkan sebagian wartawan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme undangan dan kesempatan peliputan bagi organisasi media lainnya.
“Terus terang, saya sebagai Ketua DPC FRIC Kabupaten Kuningan sangat menyayangkan kondisi ini. Ketika ada kegiatan penting di lingkungan Polres Kuningan dan sejumlah wartawan diundang, tentu muncul pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan media yang dilibatkan. Kami selama ini berupaya menjaga marwah Polri melalui pemberitaan, tetapi anggota kami justru merasa jarang mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan resmi,” ungkap Trisno/Magrib kepada tim media.
Soroti Transparansi Kemitraan dan Pokja Media
Trisno/Magrib mempertanyakan kejelasan status FRIC dalam kelompok kerja (Pokja) media Polres Kuningan, termasuk mekanisme pendataan, undangan, dan koordinasi peliputan yang berlaku.
Menurutnya, kejelasan tersebut penting untuk mencegah kesalahpahaman di antara organisasi media yang selama ini menjalin komunikasi dengan institusi kepolisian.
Ia menilai, hubungan kemitraan yang sehat harus dibangun melalui komunikasi dua arah, keterbukaan informasi, serta penghormatan terhadap peran masing-masing pihak.
“Jangan sampai muncul kesan ada media yang lebih dekat dan lebih sering dilibatkan, sementara yang lain merasa tidak mendapat ruang. Kami berharap mekanisme kemitraan dapat dijelaskan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan kecemburuan di antara sesama insan pers,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik tersebut bukan bentuk permusuhan terhadap Polri, melainkan masukan agar hubungan yang telah terjalin dapat diperbaiki dan semakin kuat.
Ketika Ada Pemberitaan Negatif, Komunikasi Diharapkan Tetap Terbuka
Dalam keterangannya, Trisno/Magrib turut menyoroti pentingnya komunikasi antara media dan kepolisian ketika muncul persoalan atau pemberitaan negatif yang menyangkut institusi Polri.
Menurutnya, media dapat berperan membantu menyampaikan informasi secara berimbang, melakukan konfirmasi, serta mencegah berkembangnya informasi yang belum terverifikasi.
Namun, ia berharap komunikasi yang terjalin dalam situasi tersebut juga diimbangi dengan kesempatan peliputan dan koordinasi yang baik ketika kepolisian menggelar kegiatan resmi.
“Ketika ada pemberitaan miring tentang Polri, kami berusaha membangun komunikasi agar persoalan dapat dilihat secara berimbang dan informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap bertanggung jawab. Karena itu, kami berharap komunikasi dan kemitraan juga berjalan baik dalam kegiatan resmi kepolisian,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan media tidak seharusnya dipandang hanya sebagai sarana publikasi, tetapi juga sebagai mitra yang memiliki fungsi jurnalistik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Bukan Berebut Kepentingan, tetapi Mengharapkan Kemitraan yang Adil
Trisno/Magrib menegaskan, FRIC tidak bermaksud memperebutkan keuntungan materi maupun kesempatan dengan organisasi media lainnya.
Menurutnya, harapan utama FRIC adalah terbangunnya kebersamaan, silaturahmi, dan komunikasi yang baik antara seluruh insan pers dengan jajaran kepolisian di Kabupaten Kuningan.
“Di sini kami bukan berebut nasi dengan rekan-rekan media lainnya. Kami hanya mengharapkan kemitraan yang baik, saling menghargai, dan tidak membeda-bedakan. Ada atau tidak ada imbalan, komitmen kami untuk menjalankan tugas jurnalistik secara profesional harus tetap dijaga,” tegasnya.
Ia menyebut, semangat anggota FRIC selama ini didorong oleh komitmen organisasi sebagaimana yang mereka pahami dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), termasuk mendukung terciptanya situasi daerah yang aman dan kondusif.
Meski demikian, ia mengakui bahwa minimnya kesempatan peliputan yang dirasakan anggota dapat memengaruhi semangat mereka dalam membangun komunikasi dengan institusi kepolisian.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi tersebut pernah menjadi bahan pembicaraan dan ejekan dari rekan media lainnya, terutama karena FRIC dinilai banyak memberitakan kegiatan kepolisian, tetapi anggotanya sendiri merasa jarang dilibatkan dalam agenda resmi.
Minta Polres Kuningan Membuka Ruang Komunikasi
Atas kondisi tersebut, Trisno/Magrib berharap Kapolres Kuningan beserta jajaran yang membidangi hubungan masyarakat dapat membuka ruang dialog dan mengevaluasi mekanisme pelibatan media.
Ia meminta agar organisasi media yang memenuhi ketentuan dan menjalankan tugas jurnalistik secara profesional memperoleh informasi yang jelas mengenai prosedur peliputan, pendataan wartawan, serta mekanisme undangan kegiatan.
Menurutnya, keterbatasan kapasitas dalam suatu kegiatan dapat saja mengharuskan panitia mengatur jumlah peserta. Namun, mekanisme yang digunakan perlu dikomunikasikan secara transparan agar tidak menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda.
“Harapan kami sederhana. Tolong rangkul FRIC bersama organisasi media lainnya. Jangan sampai hanya segelintir pihak yang merasa dekat dan terus mendapat kesempatan, sedangkan yang lain merasa tidak dianggap. Kami ingin kemitraan berjalan baik, profesional, dan saling menghormati,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa menjaga marwah Polri bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Sebaliknya, kepercayaan publik dapat diperkuat melalui keterbukaan, penyampaian informasi yang bertanggung jawab, serta kritik konstruktif yang disampaikan sesuai kaidah jurnalistik.
Humas Polda Jabar Tekankan Prinsip Kemitraan dengan Pers
Sementara itu, dalam keterangan terpisah, pihak Humas Polda Jawa Barat disebut menegaskan pentingnya memperlakukan insan pers sebagai mitra strategis kepolisian dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.
Menurut keterangan yang disampaikan kepada tim media, prinsip kemitraan tersebut mencakup keterbukaan komunikasi, pemberian informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta evaluasi apabila terdapat keluhan mengenai mekanisme undangan atau koordinasi peliputan di tingkat kewilayahan.
Apabila ditemukan persoalan komunikasi antara jajaran humas kepolisian dan wartawan, evaluasi internal serta pembinaan terhadap pihak terkait dinilai dapat menjadi langkah untuk memperbaiki hubungan kemitraan.
Pihak Humas Polda Jabar juga disebut menekankan bahwa media nasional maupun lokal memiliki peran penting dalam mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat.
Catatan redaksi: Pernyataan mengenai sikap resmi Humas Polda Jawa Barat tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada pejabat atau sumber yang berwenang, termasuk memastikan kutipan langsung, konteks pernyataan, dan langkah evaluasi yang dimaksud sebelum dipublikasikan sebagai pernyataan resmi institusi.
Menunggu Penjelasan Polres Kuningan
Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi Polres Kuningan mengenai keluhan DPC FRIC terkait pelibatan anggota dalam kegiatan kepolisian, serta status FRIC dalam Pokja media Polres Kuningan, belum tersedia dalam naskah ini.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Polres Kuningan maupun pihak terkait untuk menjelaskan mekanisme kemitraan, pendataan media, serta prosedur undangan peliputan yang diterapkan.
Klarifikasi tersebut penting agar pemberitaan tetap berimbang, tidak menimbulkan kesimpulan sepihak, dan memberikan kesempatan kepada seluruh pihak untuk menyampaikan keterangan berdasarkan fakta.
FRIC berharap komunikasi yang lebih terbuka dapat memperkuat hubungan antara Polri dan insan pers, sekaligus menjaga profesionalisme jurnalistik serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
(RED/TIM MEDIA FRIC)






