PROF DR SUTAN NASOMAL : LANTAI ISTANA SEMAKIN LICIN OLEH LIUR PARA PENJILAT DAN ALERGI DENGAN SUARA RAKYAT INDONESIA

JAKARTA — KRIMSUS86.COM — 17 September 2026 — Suhu politik nasional yang dinilai mulai menghangat menjelang Pemilu 2029 menjadi perhatian sejumlah tokoh masyarakat. Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., pemerhati masyarakat dan pakar hukum internasional, menyerukan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh dinamika serta tarik-menarik kepentingan politik.

Pernyataan tersebut disampaikan Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online, melalui sambungan telepon pada 15 September 2026. Ia menilai masyarakat saat ini lebih membutuhkan kepemimpinan yang memiliki perhatian terhadap persoalan ekonomi dan kehidupan sehari-hari rakyat.

Berita Lainnya

“Harapan masyarakat Indonesia ke depan adalah munculnya pemimpin, baik presiden, menteri, gubernur, bupati maupun wali kota, yang memiliki keberpihakan kepada rakyat dan mampu menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Sutan Nasomal.

Menurutnya, dinamika politik menjelang Pemilu 2029 sudah mulai terlihat sejak pertengahan 2026. Ia juga menyinggung munculnya berbagai isu mengenai perubahan konfigurasi politik nasional serta wacana pergantian kekuasaan.

Sutan Nasomal mengingatkan masyarakat agar tidak terbawa arus konflik politik antarkelompok. Menurut dia, persoalan yang lebih mendesak bagi masyarakat adalah kesulitan ekonomi, harga kebutuhan pokok, kesempatan berusaha, serta akses terhadap pelayanan pemerintahan.

Ia juga menyoroti berbagai keluhan masyarakat terkait proses perizinan dan pelayanan administrasi pemerintahan. Sutan Nasomal menyebut adanya dugaan praktik pungutan atau “uang pelicin” dalam sejumlah proses birokrasi. Namun, tudingan tersebut, menurutnya, perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan mekanisme hukum yang berlaku.

“Kalau memang ada oknum yang meminta uang pelicin dalam pelayanan masyarakat, hal tersebut harus diperiksa dan ditindak sesuai ketentuan. Pelayanan publik seharusnya memberikan kemudahan kepada masyarakat, bukan justru menjadi beban tambahan,” katanya.

Soroti Kondisi Ekonomi Masyarakat

Selain dinamika politik, Sutan Nasomal turut menyoroti kondisi ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah. Ia menyampaikan bahwa kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan terbatasnya pendapatan dapat memberikan tekanan terhadap rumah tangga kecil.

Menurut dia, persoalan ekonomi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah di tingkat pusat maupun daerah. Kebijakan penarikan pajak dan penegakan aturan, katanya, perlu mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat.

Ia juga mempertanyakan akurasi pendataan kelompok masyarakat penerima bantuan maupun masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut Sutan Nasomal, ketidaktepatan data dapat berdampak pada ketidaktepatan sasaran program pemerintah.

“Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya membutuhkan justru tidak terdata atau tidak mendapatkan bantuan karena persoalan administrasi. Data harus diperbaiki dan diverifikasi secara berkala,” ujarnya.

Sutan Nasomal kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya keterbukaan pemerintah dalam menerima aspirasi masyarakat.

Ia menggunakan ungkapan metaforis bahwa “lantai istana semakin licin oleh liur para penjilat dan alergi dengan suara rakyat Indonesia”. Pernyataan tersebut ia gunakan untuk mengkritik pihak-pihak yang menurutnya berpotensi menjadi penghalang antara suara masyarakat dengan pengambil kebijakan.

Menurutnya, kritik masyarakat seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Di tengah meningkatnya perbincangan politik nasional, Sutan Nasomal meminta masyarakat kecil tidak terprovokasi oleh berbagai informasi yang beredar.

Ia menilai perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi, tetapi tidak seharusnya berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.

“Masyarakat kecil jangan terpancing atau terbawa arus. Perbedaan politik jangan sampai membuat sesama anak bangsa saling bermusuhan,” tuturnya.

Ia berharap para pemimpin nasional maupun daerah lebih banyak mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama menyangkut kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, kemudahan usaha, pelayanan publik dan perlindungan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Di akhir pernyataannya, Sutan Nasomal mengajak masyarakat tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan melalui jalur yang sesuai dengan ketentuan hukum.

“Berdoalah kepada Tuhan yang tidak pernah tidur dan lantainya tidak pernah licin. Doa dari rakyat pasti didengar dan diijabah,” pungkasnya.

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H. — Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID/Association of Young Indonesian Advocates), Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, S.H., M.H., Rektor Universitas STIA/STIH Pronass, Pendiri/Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, serta Ketua Umum YPP Brigade Global Indonesia Plus (YPP.BRIGIP).

Pos terkait