Palembang | Krimsus86.com – Provinsi Sumatera Selatan diproyeksikan menjadi salah satu lumbung energi nasional melalui optimalisasi potensi sumber daya energi yang dimiliki. Hal tersebut mengemuka dalam forum diskusi bertajuk “Memperkuat Kontribusi Strategis Provinsi Sumatera Selatan dalam Mewujudkan Swasembada Energi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional” yang digelar Dewan Pertahanan Nasional (DPN) di Hotel Novotel Palembang, Kamis (30/7/2026).
Deputi Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., menjelaskan bahwa kunjungan DPN ke Sumatera Selatan bertujuan meninjau secara langsung potensi serta berbagai tantangan dalam pelaksanaan program strategis Presiden terkait swasembada energi nasional.
“Kami melihat secara langsung program-program swasembada energi di Sumatera Selatan, sekaligus menampung aspirasi, masukan, dan tantangan dari para pemangku kepentingan di lapangan,” ujar Yayat.
Menurutnya, Sumatera Selatan memiliki posisi strategis sebagai daerah yang telah mengalami surplus energi sehingga berpotensi menjadi penopang kebutuhan energi nasional. Namun demikian, potensi tersebut masih perlu terus dioptimalkan agar mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi daerah lain di Indonesia.
“Pemenuhan energi di Sumatera Selatan sudah surplus. Tinggal bagaimana meningkatkan potensinya agar dapat mendukung daerah lain,” katanya.
Yayat menambahkan, Sumatera Selatan memiliki berbagai sumber energi unggulan, di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumsel 8 berkapasitas 2 x 150 Megawatt. Selain itu, peluang pengembangan energi baru dan terbarukan juga sangat besar, meliputi energi panas bumi, energi surya, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi listrik.
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Unggul Priyanto, menegaskan bahwa arah kebijakan energi nasional ke depan akan difokuskan pada transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060 melalui pengembangan teknologi dan hilirisasi sumber daya energi.
Ia menjelaskan bahwa batu bara tidak akan serta-merta ditinggalkan, melainkan diarahkan agar memiliki nilai tambah melalui proses hilirisasi menjadi berbagai produk strategis seperti metanol, bahan bakar, pengganti LPG, hingga bahan baku pupuk.
“Ke depan kita tidak hanya menggunakan bahan baku mentah, tetapi bagaimana sumber daya tersebut diolah dengan teknologi yang lebih tinggi sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, DPN juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas sosial di kawasan pengembangan energi. Yayat menyampaikan bahwa masih terdapat sejumlah persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian bersama agar tidak menghambat pembangunan sektor energi.
“Kami mendukung program Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menuju zero conflict. Harapannya ada penegakan hukum yang baik dan masyarakat merasa aman sehingga pembangunan sektor energi dapat berjalan lancar,” ungkapnya.
Seluruh masukan dan hasil diskusi dalam forum tersebut akan dihimpun oleh Dewan Pertahanan Nasional sebagai bahan rekomendasi kepada Presiden melalui Menteri Pertahanan guna memperkuat kebijakan swasembada energi nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pewarta: Hendri Gradak Editor: Redaksi Krimsus86.com






