HILA, Maluku Tengah Krimsus86.com – Suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berlangsung penuh khidmat sekaligus semarak dengan digelarnya tradisi adat “Lawa Pipi”, sebuah ritual budaya turun-temurun yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Tradisi yang dikenal sebagai prosesi membawa lari kambing kurban tersebut kembali digelar usai pelaksanaan Salat Idul Adha dan disambut antusias oleh ratusan warga dari berbagai kalangan. Gema takbir yang berkumandang berpadu dengan sorak-sorai masyarakat, menciptakan suasana religius sekaligus penuh kebersamaan di sepanjang jalan Negeri Hila.
“Lawa Pipi” bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang telah diwariskan selama ratusan tahun oleh para leluhur masyarakat Jazirah Leihitu.
Secara harfiah, “Lawa” berarti membawa lari atau menggiring dengan cepat, sedangkan “Pipi” merupakan sebutan lokal untuk kambing. Tradisi ini mengandung filosofi keikhlasan, kebersamaan, dan rasa syukur dalam pelaksanaan ibadah kurban.
Prosesi dimulai dengan ritual memandikan dan menghias kambing kurban pilihan. Hewan-hewan tersebut dibersihkan dan diberi tanda khusus sebagai bentuk penghormatan sebelum dikurbankan.
Selanjutnya, kambing dilepas dari kawasan Rumah Raja Hila atau rumah tua Ollong, salah satu pusat sejarah peradaban Islam tertua di Maluku. Setelah doa bersama dipanjatkan oleh imam dan tokoh adat, tali pengikat kambing diserahkan kepada para pemuda negeri.
Ketegangan dan kemeriahan pun pecah saat kambing-kambing mulai digiring dan dibawa berlari melewati jalan-jalan utama kampung. Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, ikut berlari dan bersorak mengikuti jalannya prosesi.
Momen-momen lucu pun kerap terjadi ketika kambing tiba-tiba berbelok arah atau melompat, mengundang tawa masyarakat yang menyaksikan dari pinggir jalan dan teras rumah.
Meski berlangsung meriah, nuansa religius tetap terasa kuat. Sepanjang prosesi, gema takbir terus dikumandangkan oleh para tokoh agama, tetua adat, dan kelompok majelis taklim yang mengiringi jalannya tradisi.
Setelah mengelilingi rute kampung yang telah ditentukan, kambing-kambing tersebut kemudian digiring kembali menuju area penyembelihan di sekitar masjid untuk dilaksanakan prosesi kurban sesuai syariat Islam.
Salah satu tokoh pemuda Negeri Hila, Erwin B. Ollong, menyampaikan bahwa “Lawa Pipi” merupakan momentum yang paling dinantikan masyarakat setiap Hari Raya Idul Adha.
“Tradisi ini bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan serta mengumpulkan seluruh anak cucu Negeri Hila dalam semangat kebersamaan dan pelestarian budaya leluhur,” ujarnya.
Masyarakat berharap tradisi “Lawa Pipi” tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya dan kekayaan adat Negeri Hila yang menjadi kebanggaan Maluku Tengah.
(Erwin B. Ollong)






