Dari Tidore ke Cape Town, Universitas Nuku Gelar Dialog Internasional Afrika Selatan–Tidore–Indonesia

TIDORE KEPULAUAN — KRIMSUS86.COM — 15 September 2026 — Universitas Nuku, Tidore Kepulauan, Maluku Utara, akan menggelar Dialog Internasional Afrika Selatan–Tidore–Indonesia dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-25 Universitas Nuku.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 25 September 2026 di Universitas Nuku, Soasio, Tidore Kepulauan. Dialog ini akan mengangkat sejarah perjalanan dan kontribusi Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam, yang dalam sejarah Afrika Selatan dikenal dengan sebutan Tuan Guru, serta hubungan historis antara Tidore, Indonesia, dan Afrika Selatan.

Berita Lainnya

Agenda tersebut merupakan kolaborasi Universitas Nuku bersama Yayasan Negeri Rempah Jakarta, bekerja sama dengan URSSAS Nuku. Forum diharapkan menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif sejarah, antropologi, keagamaan, tradisi keluarga, serta penelitian mengenai hubungan Nusantara dan Afrika Selatan.

Rektor Universitas Nuku, Idris Sudin, S.P., M.Si., menjadi bagian dalam agenda akademik tersebut. Sementara Ketua Komite Kegiatan, Abdul Kader Ali Setring, memastikan dialog akan menghadirkan narasumber dari Indonesia maupun Afrika Selatan.

Dari Indonesia, narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain Yanwar Sukur, antropolog Universitas Khairun; Dr. Nani Jafar, sejarawan; serta Amin Faruq, yang berasal dari keluarga Tuan Guru di Tidore.

Sementara dari Afrika Selatan, dialog dijadwalkan menghadirkan Shafiq Morton, Prof. Muhammad Harun, serta Syekh Muttakin Rakib, yang memiliki hubungan keluarga dengan tradisi Tuan Guru di Afrika Selatan.

Jejak Sejarah Tidore hingga Cape Town

Sejumlah kajian sejarah mencatat Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam atau Tuan Guru sebagai tokoh yang berasal dari Tidore dan kemudian menjalani pengasingan ke Cape, Afrika Selatan, pada masa kolonial.

Menurut narasi sejarah yang menjadi dasar dialog tersebut, Tuan Guru lahir di Tidore pada 1712 dan tumbuh dalam lingkungan keilmuan Islam. Dalam dinamika politik Kesultanan Tidore dan persaingan kekuatan kolonial di Maluku, ia kemudian mengalami pengasingan oleh VOC ke wilayah Cape pada 1780.

Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Afrika Selatan.

Di Cape Town, Tuan Guru dikenal memiliki peran dalam pengembangan pendidikan Islam bagi komunitas Muslim Cape. Ia dikaitkan dengan pendirian madrasah dan perkembangan tradisi pendidikan Islam di kawasan tersebut. Warisan sejarahnya juga memiliki keterkaitan dengan Masjid Auwal di Cape Town, yang merupakan salah satu situs penting dalam sejarah awal komunitas Muslim di Afrika Selatan.

Jejak tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan, tradisi keagamaan, dan jaringan intelektual dari Nusantara dapat berkembang melampaui batas geografis hingga ke Afrika Selatan.

Sejarah yang Menyeberangi Samudra

Perjalanan Tuan Guru menjadi salah satu gambaran mengenai luasnya jaringan hubungan Nusantara dengan berbagai wilayah dunia pada masa lalu.

Tidore sebagai bagian dari kawasan Maluku memiliki sejarah panjang dalam jaringan maritim, perdagangan, politik, keagamaan, dan pertukaran pengetahuan. Dalam konteks tersebut, perjalanan Tuan Guru menunjukkan bahwa hubungan sejarah antara Nusantara dan Afrika tidak hanya dapat dilihat dari aspek perdagangan, tetapi juga dari perpindahan manusia, ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan.

Karena itu, Dialog Internasional Afrika Selatan–Tidore–Indonesia diharapkan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kembali berbagai sumber sejarah, termasuk arsip, penelitian akademik, sejarah lisan, serta pengetahuan yang diwariskan melalui keluarga.

Kehadiran keluarga Tuan Guru dari Tidore dan Afrika Selatan juga menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Pertemuan lintas generasi itu diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai perjalanan sejarah Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam dan warisannya di kedua wilayah.

Dorong Kajian Sejarah Lebih Lanjut

Universitas Nuku melalui momentum Dies Natalis ke-25 diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi penelitian mengenai sejarah Tidore dalam perspektif regional dan global.

Sejumlah topik yang dapat dikembangkan antara lain perjalanan Tuan Guru, jaringan ulama Tidore, hubungan keluarga Tuan Guru di Indonesia dan Afrika Selatan, perkembangan Islam di Cape Town, serta hubungan historis antara Maluku Utara dan Afrika Selatan.

Dialog tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menempatkan sejarah lokal dalam konteks sejarah dunia. Dari Soasio di Tidore hingga Cape Town di Afrika Selatan, perjalanan Tuan Guru menunjukkan bahwa sejarah suatu daerah dapat memiliki keterkaitan dengan perkembangan masyarakat di belahan dunia lainnya.

Lebih dari dua abad setelah perjalanan Tuan Guru dari Tidore menuju Afrika Selatan, Universitas Nuku kini menghadirkan kembali kisah tersebut di tanah asalnya.

Dialog Internasional Afrika Selatan–Tidore–Indonesia pada 25 September 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi awal penguatan kerja sama akademik, penelitian, dan pertukaran kebudayaan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

(Mirwan Taher//red)

Pos terkait