JAKARTA, KRIMSUS86.COM – Sebuah tonggak penting dalam pengembangan literasi akademik dan inovasi berbasis pengalaman empiris tercatat dalam Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional bertajuk “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” yang digelar di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu lalu.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Mega Press Nusantara tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring. Acara mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Dalam keterangannya kepada awak media, Kamis (30/7/2026), penulis buku sekaligus mahasiswa Semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), Muhammad Ja’far Hasibuan (NIM 257032012), menyampaikan bahwa peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Buku tersebut diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Muhammad Ja’far Hasibuan.
Dalam buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut, Ja’far mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai anak yatim dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Berbekal uang Rp70.000, ia merantau dan membiayai pendidikannya dengan berjualan roti sambil menempuh pendidikan.
Berbagai keterbatasan akses informasi, sumber daya, serta tantangan sosial dan ekonomi justru menjadi pijakan dalam melakukan riset lapangan, pengujian laboratorium, hingga melahirkan inovasi Biofar SS, yang formulanya tetap dirahasiakan.
Menurut Ja’far, kepercayaan yang diberikan negara melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi amanah untuk terus mengembangkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan. Dukungan pimpinan institusi dan para dosen menjadi landasan metodologis dan etis dalam setiap proses penelitian,” jelasnya.
Keunggulan buku tersebut terletak pada kemampuannya mengintegrasikan pengalaman hidup penulis dengan lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin. Buku ini tidak hanya menyajikan kisah inspiratif, tetapi juga menjadi referensi akademik yang membahas berbagai teori besar seperti Teori Modal Sosial, Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, Teori Keadilan Kesehatan, Determinan Sosial Kesehatan, hingga berbagai teori psikologi perkembangan, resiliensi, growth mindset, CFIR, serta pendekatan manajemen modern seperti Prinsip Pareto, Matriks Eisenhower, metode RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).
Acara dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa karya Muhammad Ja’far Hasibuan membuktikan potensi anak bangsa tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kejujuran, disiplin, kerja keras, ketekunan, dan kepedulian sosial.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku tersebut memiliki nilai akademik tinggi karena berhasil menghubungkan pengalaman hidup yang autentik dengan teori-teori mutakhir di bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan. Ia juga menyebut karya tersebut telah menjadi bahan diskusi di kalangan profesor dan membuka peluang bagi Muhammad Ja’far Hasibuan untuk melanjutkan studi doktoral (S3) di Harvard University.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, menjelaskan bahwa perjalanan hidup Ja’far dapat dipahami melalui perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri. Menurutnya, pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru menjadi proses pembentukan karakter dan ketangguhan.
Apresiasi juga disampaikan Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., yang menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan keluarga, almamater, dan bangsa karena menunjukkan bahwa kerja keras, integritas, serta doa mampu melahirkan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan.
Dukungan turut datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., yang menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Selain itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menetapkan buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi. Melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan pengalaman empiris dengan teori ilmiah, buku tersebut diharapkan menjadi rujukan bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan, sekaligus menginspirasi generasi muda bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan.
(Megy//red)






