LAMPUNG TENGAH, KRIMSUS86.COM — Perjalanan hidup Bripka Tasirin, S.H., anggota Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 308 Presisi Polres Lampung Tengah, menjadi gambaran bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Terlahir dari keluarga petani tradisional, Tasirin berhasil mewujudkan impiannya menjadi anggota Polri tanpa melupakan akar kehidupan dan perjuangan kedua orang tuanya.
Bripka Tasirin merupakan putra kedua dari lima bersaudara, buah hati pasangan Syahrul bergelar Minak Radin Muhamad dan Heliyana bergelar Minak Daturi. Ia lahir pada 2 Januari 1986 di Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, dalam keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari hasil sawah dan ladang.
Sejak kecil, Tasirin telah terbiasa menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Kedua orang tuanya menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja di sawah dan ladang demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sepulang sekolah, Tasirin tidak langsung bermain seperti anak-anak seusianya. Ia terlebih dahulu membantu pekerjaan orang tuanya. Setelah menyelesaikan berbagai tugas di rumah dan di ladang, malam harinya ia mengaji sebelum beristirahat untuk kembali menjalani aktivitas keesokan hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, Tasirin tumbuh dengan nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras, kepatuhan, serta penghormatan kepada orang tua. Sesekali, ia menikmati kebersamaan dengan teman-teman sebayanya dengan mandi di Way Seputih, sungai yang menjadi salah satu bagian dari kenangan masa kecilnya.
Pengalaman hidup tersebut membentuk karakter Tasirin menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki tekad kuat untuk memperbaiki kehidupan keluarganya.
Baginya, doa dan restu kedua orang tua merupakan modal penting dalam meraih cita-cita. Ia meyakini bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan merupakan jalan untuk mengubah masa depan.
Tasirin menyelesaikan pendidikan dasar di SDN I Kampung Mataram Ilir pada 2000. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Seputih Surabaya dan lulus pada 2003.
Demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Tasirin merantau ke Kota Metro dan bersekolah di SMA Kartika hingga lulus pada 2006.
Dengan tekad kuat untuk mewujudkan cita-citanya, pada 2006 Tasirin mendaftarkan diri sebagai calon anggota Polri. Perjuangan tersebut mengantarkannya menjadi anggota Polri setelah menjalani pendidikan di SPN Kemiling, Gelombang II Tahun 2006.
Keberhasilannya menjadi anggota kepolisian menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang anak petani yang tumbuh dalam kesederhanaan, Tasirin kini menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Di balik kesibukannya menjalankan tugas sebagai anggota Tekab 308 Presisi Polres Lampung Tengah, Tasirin tetap mempertahankan kedekatannya dengan dunia pertanian.
Ia tidak melupakan sawah dan perkebunan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup keluarganya. Sejumlah lahan sawah dan perkebunan kelapa sawit yang diwariskan leluhurnya tetap mendapat perhatian dan pengawasan.
Bagi Tasirin, bertani bukan sekadar pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan orang tuanya yang selama ini menghidupi keluarga melalui hasil pertanian.
Ia berpandangan bahwa seseorang perlu mempersiapkan kehidupan setelah masa pengabdian sebagai anggota Polri berakhir.
“Gaji sebagai anggota Polri cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau punya rumah, motor, dan mobil, maka harus memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani,” jelas Bripka Tasirin.
Menurutnya, setiap anggota Polri memiliki batas masa dinas dan pada waktunya akan memasuki masa pensiun. Karena itu, memiliki keterampilan dan usaha produktif menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dalam kehidupan pribadinya, Tasirin telah membina rumah tangga bersama Dwitata Surywati. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang putra, yakni Ciko Alfaeizi Yusuf dan Niko Albifari Yusuf.
Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman dibesarkan oleh orang tua yang bekerja keras membuat Tasirin memahami pentingnya tanggung jawab, pendidikan, dan pembentukan karakter bagi anak-anak.
Ia mengingat bahwa seluruh anak dalam keluarganya dididik dengan disiplin dan kerja keras. Nilai-nilai itulah yang terus dipegangnya hingga dewasa, baik dalam menjalankan tugas kepolisian maupun mengelola kehidupan keluarga.
“Saya terlahir dari keluarga sederhana yang hidup di kampung. Semua kakak dan adik saya dididik keras oleh kedua orang tua,” tuturnya.
Tasirin juga mengenang petuah leluhur yang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, bahwa mendidik anak dengan disiplin sejak kecil merupakan bagian penting dalam membentuk pribadi yang bertanggung jawab ketika dewasa.
Hampir 17 tahun menjalani pengabdian sebagai anggota Polri, Tasirin mengaku telah memperoleh berbagai pengalaman, prestasi, dan penghargaan dalam perjalanan tugasnya. Namun, di balik pencapaian tersebut, kenangan tentang masa kecil dan perjuangan kedua orang tuanya tetap membekas dalam ingatannya.
Ia menyadari bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata hasil usaha pribadi, melainkan juga berkat doa orang tua, dukungan keluarga, serta kesempatan yang diperoleh melalui kerja keras dan ketekunan.
“Keluarga saya orang kecil, masyarakat yang susah. Untuk hidup hanya mengandalkan hasil dari kebun dan sawah. Alhamdulillah, semua bisa berubah seiring waktu,” katanya dengan mata berkaca-kaca saat mengenang masa kecilnya.
Kisah Bripka Tasirin menjadi pengingat bahwa latar belakang keluarga sederhana tidak harus membatasi masa depan seseorang. Dengan kemauan kuat, disiplin, pendidikan, dan kerja keras, peluang untuk meraih cita-cita tetap terbuka.
Lebih dari sekadar kisah perjalanan seorang anggota Polri, pengalaman Tasirin juga menunjukkan pentingnya menghargai asal-usul, menjaga hubungan dengan keluarga, serta mempersiapkan masa depan melalui usaha yang produktif.
Dari sawah dan ladang di Kampung Mataram Ilir hingga pengabdian sebagai anggota Tekab 308 Presisi Polres Lampung Tengah, Tasirin membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus membuat seseorang melupakan akar kehidupannya.
(Sahrul/Tim)
KRIMSUS86.COM — Tegas, Lugas, Terpercaya.






