ANAK ADAT PERBUMI: KAIN BERANG DAN LENSO KAPALA ADALAH SIMBOL KEHORMATAN, KEBERANIAN, DAN KEDAULATAN TANAH ADAT BUPOLO

BURU, MALUKU | Krimsus86.com – Kain berang (kain merah) yang bersilang di dada dan lenso kapala (ikat kepala) yang dikenakan oleh Anak Adat Perbumi bukanlah sekadar atribut budaya atau pelengkap busana adat. Kedua simbol tersebut merupakan identitas hakiki yang melekat kuat pada jati diri penduduk asli atau putra daerah di Bumi Bupolo.

Bagi masyarakat adat, penggunaan kain berang dan lenso kapala memiliki makna mendalam yang mencerminkan kehormatan, tanggung jawab, serta komitmen untuk menjaga warisan leluhur. Atribut tersebut menjadi penanda bahwa pemakainya adalah bagian dari masyarakat adat yang memiliki hubungan historis, sosial, dan kultural dengan tanah adat Bupolo.

Berita Lainnya

Kain berang yang melintang di dada melambangkan keberanian, keteguhan, dan kesiapan untuk berdiri di garis terdepan dalam memperjuangkan keadilan serta mempertahankan hak-hak masyarakat adat. Simbol ini juga menjadi representasi sumpah setia kepada tanah leluhur dan komitmen menjaga kekayaan alam serta wilayah adat dari berbagai bentuk ketidakadilan.

Sementara itu, lenso kapala yang dikenakan di kepala melambangkan kehormatan adat, kebijaksanaan, dan kesatuan pikiran dalam menjalankan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Perpaduan antara lenso kapala dan kain berang mencerminkan keseimbangan antara keberanian dalam bertindak dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Dalam berbagai kegiatan adat, penyelesaian persoalan masyarakat, maupun upaya menjaga wilayah petuanan, atribut tersebut menjadi simbol kewibawaan, persatuan, dan tanggung jawab moral yang dihormati oleh masyarakat. Kehadirannya tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menegaskan eksistensi dan kedaulatan masyarakat adat di Bumi Bupolo.

Sebagai warisan leluhur yang sarat makna, kain berang dan lenso kapala akan terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai simbol harga diri, kehormatan, serta kecintaan terhadap tanah adat Bupolo.

Pewarta: Yano Tasane

Pos terkait