WONOSOBO, KRIMSUS86.COM — Semangat gotong royong masyarakat Dusun Diwek, Desa Selomanik, Kabupaten Wonosobo, patut mendapat perhatian. Di tengah harapan akan pembangunan infrastruktur desa, warga setempat terpaksa mengumpulkan dana secara swadaya untuk melakukan pengecoran jalan usaha tani (JUT) sekaligus akses menuju makam Kyai Plulutan yang disebut belum pernah tersentuh bantuan pemerintah.
Kegiatan gotong royong tersebut dilaksanakan pada Minggu, 10 Oktober 2026. Warga bersama-sama membangun jalan sepanjang kurang lebih 350 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Pembangunan itu menggunakan dana murni hasil iuran masyarakat dan dukungan para dermawan setempat.
Bagi warga Dusun Diwek, pembangunan jalan tersebut bukan sekadar memperbaiki akses menuju area pemakaman, melainkan juga mendukung aktivitas pertanian masyarakat yang sehari-hari memanfaatkan jalan untuk menuju sawah dan ladang.
Namun, di balik semangat kebersamaan itu, tersimpan keprihatinan warga karena mereka mengaku belum pernah menerima bantuan pembangunan untuk ruas jalan tersebut, baik dari pemerintah desa maupun pemerintah terkait.
Hasil Musyawarah, Warga Sepakat Bergotong Royong
Kaur Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Agus Prasetyo, menyampaikan bahwa kegiatan pembangunan jalan merupakan hasil musyawarah masyarakat yang dilaksanakan pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026.
Dari hasil musyawarah tersebut, warga sepakat melaksanakan pengecoran jalan usaha tani di wilayah RT 18/RW 06 dan melanjutkan kegiatan pembangunan pada 10 Oktober 2026.
Agus mengapresiasi kekompakan masyarakat yang secara sukarela mengumpulkan dana dan tenaga demi kepentingan bersama.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat Dusun Diwek. Kebersamaan seperti ini harus terus ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan positif demi kemajuan Dusun Diwek khususnya dan Desa Selomanik pada umumnya,” ungkap Agus.
Ia menegaskan bahwa pembangunan tersebut dilaksanakan menggunakan dana swadaya masyarakat, bukan anggaran pemerintah.
Warga Pertanyakan Perhatian Pemerintah terhadap Jalan Usaha Tani
Keprihatinan serupa disampaikan salah seorang tokoh masyarakat Dusun Diwek yang juga menjabat sebagai Ketua RT 19/RW 06.
Menurutnya, masyarakat berharap pembangunan jalan usaha tani menjadi salah satu prioritas pemerintah karena keberadaan infrastruktur tersebut sangat penting dalam menunjang kegiatan pertanian dan meningkatkan kemudahan akses warga.
Namun, ia menilai kondisi yang dialami masyarakat Dusun Diwek belum sesuai dengan harapan tersebut. Karena bantuan yang dinantikan belum kunjung diterima, warga akhirnya mengambil inisiatif untuk membangun jalan melalui pengumpulan dana secara bersama-sama.
“Kami sangat prihatin. Selama ini jalan usaha tani dan jalan menuju makam Kyai Plulutan belum tersentuh bantuan yang kami harapkan. Akhirnya, masyarakat bergotong royong mengumpulkan dana untuk pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 350 meter,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap kebutuhan infrastruktur di Dusun Diwek, khususnya jalan yang digunakan untuk menunjang aktivitas pertanian dan kepentingan masyarakat.
Menurutnya, warga membutuhkan tindakan nyata agar pembangunan infrastruktur dapat dirasakan secara lebih merata.
Tokoh Pemuda Soroti Ketimpangan Pembangunan
Sementara itu, tokoh pemuda setempat, Sutris, mengungkapkan keprihatinan sekaligus kekecewaannya atas kondisi jalan di Dusun Diwek yang hingga kini dibangun menggunakan dana swadaya masyarakat.
Ia menyebut jalan menuju makam sekaligus jalan usaha tani tersebut memiliki panjang sekitar 350 meter dan lebar kurang lebih 1,5 meter. Seluruh proses pengecoran dilakukan dengan mengandalkan semangat gotong royong warga.
Sutris mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan pembangunan infrastruktur di wilayahnya, terlebih jalan tersebut memiliki fungsi penting bagi masyarakat yang beraktivitas di sawah dan ladang.
“Kami sangat prihatin dan kecewa. Indonesia sudah 81 tahun merdeka, tetapi masyarakat Dusun Diwek masih harus mengumpulkan dana sendiri untuk membangun jalan usaha tani dan jalan menuju makam. Kami membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar janji,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi jalan di wilayah desa lain yang menurut pengamatannya telah mendapatkan pembangunan berupa betonisasi maupun pengaspalan, sementara warga Dusun Diwek masih mengandalkan kemampuan sendiri.
Meski demikian, ia berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian serius pemerintah desa dan instansi terkait agar kebutuhan infrastruktur masyarakat dapat ditangani sesuai kondisi dan skala prioritas pembangunan.
Warga Berharap Ada Tindak Lanjut Pemerintah
Warga Dusun Diwek berharap pemerintah desa dan pemerintah daerah melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi jalan usaha tani dan akses menuju makam Kyai Plulutan tersebut.
Masyarakat juga berharap ada kejelasan mengenai status ruas jalan itu dalam perencanaan pembangunan desa, termasuk apakah kebutuhan perbaikannya telah diusulkan atau tercantum dalam dokumen perencanaan pembangunan.
Menurut warga, keberadaan jalan usaha tani yang layak sangat penting untuk mendukung mobilitas petani, memudahkan akses menuju lahan pertanian, serta membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Semangat swadaya yang ditunjukkan masyarakat Dusun Diwek menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong. Namun, warga berharap semangat tersebut tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan kebutuhan pembangunan infrastruktur dasar yang memerlukan dukungan bersama.
Masyarakat kini menantikan perhatian dan tindak lanjut nyata dari pihak terkait agar pembangunan di Dusun Diwek, Desa Selomanik, dapat berjalan lebih merata dan sesuai dengan kebutuhan warga.
Pewarta: Tim KJN
Editor: Redaksi KRIMSUS86.COM






