BUOL, SULTENG — KRIMSUS86.COM — 16 September 2026 — Antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, termasuk SPBU 74.945.09 Kampung Bugis dan SPBU Kali, mendapat perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Buol.
Berdasarkan hasil koordinasi dan klarifikasi antara Pemerintah Daerah Kabupaten Buol dengan pengelola SPBU pada Rabu (16/9/2026), antrean tersebut berkaitan dengan adanya penyesuaian realisasi pasokan BBM dibandingkan dengan jumlah yang diajukan oleh pihak SPBU.
Pertemuan tersebut melibatkan Asisten II Setda Kabupaten Buol, Syarif Pusadan, SE., bersama Plt. Kabag Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Buol, Ir. Ani Siti Hanifah, ST., MT., dengan Penanggung Jawab SPBU Kampung Bugis, Cipto, serta pihak SPBU Kali, Wayan.
Dalam kondisi normal, kebutuhan dan permintaan pasokan BBM yang diajukan SPBU berada di kisaran 32 kiloliter (KL).
Namun, dalam sekitar dua pekan terakhir, terdapat perbedaan antara jumlah BBM yang diminta dengan realisasi pengiriman. Pada salah satu pengiriman, dari permintaan sebanyak 32 KL, realisasi pasokan yang diterima hanya sekitar 16 KL.
Pada pengiriman berikutnya, dari permintaan sebesar 24 KL, realisasi yang diterima sekitar 8 KL atau disesuaikan dengan kuota yang direalisasikan.
Kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan BBM harian di tingkat SPBU dan pada akhirnya menyebabkan antrean kendaraan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam koordinasi tersebut, terdapat beberapa faktor yang disebut berkaitan dengan kendala pasokan, di antaranya keterlambatan armada tanker, kondisi stok pada depot penyimpanan, serta pengaturan dan penyesuaian distribusi untuk menjaga ketahanan stok secara berkala.
Dengan adanya penyesuaian tersebut, jumlah pasokan yang diterima SPBU tidak selalu sama dengan jumlah permintaan yang
Selain persoalan distribusi, peningkatan kebutuhan BBM bersubsidi juga menjadi salah satu hal yang dibahas.
Peralihan sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi disebut turut meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan BBM di lapangan. Dalam informasi yang disampaikan, peningkatan kebutuhan pada periode Juni hingga Agustus 2026 berada pada kisaran 10 hingga 15 persen.
Situasi tersebut juga disebut dapat diperburuk oleh pembelian dalam jumlah berlebihan atau panic buying. Sementara itu, dugaan penimbunan oleh oknum masih memerlukan penelusuran dan pembuktian lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Pemerintah Daerah Kabupaten Buol bersama Satgas BBM dan pengelola SPBU berkomitmen melakukan pemantauan terhadap kondisi distribusi BBM di wilayah tersebut.
Pemda juga mendorong penyampaian informasi secara transparan dan tertulis kepada masyarakat agar perkembangan terkait pasokan BBM tidak menimbulkan multitafsir.
Koordinasi dengan pihak Pertamina akan terus dilakukan guna memastikan distribusi BBM ke Kabupaten Buol dapat kembali berjalan lancar serta penyalurannya tetap sesuai ketentuan dan tepat sasaran.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, sembari menunggu normalisasi pasokan.
Reporter: Syafri Sakula, S.IP
BIRO BUOL, SULTENG
KRIMSUS86.COM






