DARI WARISAN BUDAYA HINGGA MUSEUM BUOL, BUPATI DORONG SEJARAH DAN BUDAYA DAERAH TERUS DIHIDUPKAN

BUOL, SULAWESI TENGAH — KRIMSUS86.COM – Kabupaten Buol kembali mencatatkan kebanggaan di bidang kebudayaan. Uunogon dan pakaian adat Buol dinyatakan lolos sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Buol sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang perlu terus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan kepada generasi mendatang.

Berita Lainnya

Sebelumnya, sejumlah warisan budaya Buol juga telah ditetapkan sebagai WBTB, di antaranya Monuni, Lyabulyo, Tombouwat, Bahasa Buol, dan Mongunom Manginano.

Sejumlah warisan budaya lainnya diharapkan dapat menyusul, antara lain Motolyo Gua Palre, Vhuolyo Lripu Koponuku, serta Tari Pogogul.

Pada 2026, Sulawesi Tengah juga mencatat sejumlah karya budaya yang lolos atau ditetapkan sebagai WBTB. Selain Uunogon dan pakaian adat Buol, terdapat Salomunting dari Banggai Kepulauan, Lagandeang dari Tolitoli, Uta Kelo dari wilayah Kaili, Bahasa Lauje dari Parigi Moutong, Gampiri, Nokeso, serta Ada Paboti Tori Kaili.

WBTB Bukan Sekadar Pengakuan

Penetapan sebagai WBTB bukanlah akhir dari upaya pelestarian budaya. Sebaliknya, pengakuan tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga, mendokumentasikan, mengembangkan, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Warisan budaya tidak hanya hidup dalam dokumen maupun sertifikat penghargaan. Budaya hidup melalui bahasa yang digunakan masyarakat, pakaian adat yang dikenakan, tradisi yang dijalankan, cerita yang dituturkan, makanan yang diwariskan, hingga nilai-nilai kehidupan yang terus dipraktikkan.

Karena itu, budaya Buol diharapkan tidak berhenti sebagai simbol kebanggaan atau sekadar ditampilkan dalam kegiatan seremonial. Pelestarian perlu dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda tetap mengenal dan memahami akar identitas daerahnya.

Bupati Buol Dorong Percepatan Museum

Sejalan dengan capaian kebudayaan tersebut, Bupati Buol H. Risharyudi Triwibowo mendorong percepatan pendirian Museum Buol.

Menurutnya, Kabupaten Buol memiliki perjalanan sejarah pemerintahan dan peradaban yang panjang, mulai dari masa kerajaan hingga terbentuknya pemerintahan modern.

Berbagai peninggalan sejarah dan prasejarah disebut masih tersebar di rumah-rumah warga maupun sejumlah lokasi di daerah tersebut. Benda bersejarah, artefak, catatan, dokumen, serta berbagai kisah perjalanan Buol dinilai perlu dihimpun dan didokumentasikan dalam sebuah museum.

“Alhamdulillah, ayo percepat pendirian Museum Buol. Kita punya sejarah panjang pemerintahan, dari kerajaan sampai kini. Kita punya banyak peninggalan sejarah dan prasejarah yang tersebar di banyak rumah dan banyak tempat. Ayo satukan sejarah kita di museum, dalam bentuk tulisan, catatan, benda-benda bersejarah, dan artefak-artefak.”

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa Museum Buol tidak semata-mata dipandang sebagai pembangunan sebuah gedung, tetapi sebagai bagian dari upaya menyelamatkan memori sejarah daerah.

Keberadaan museum nantinya diharapkan dapat menjadi ruang edukasi, pusat dokumentasi, sarana penelitian, sekaligus tempat untuk memperkenalkan sejarah dan identitas Buol kepada masyarakat luas.

Generasi Muda Harus Mengenal Sejarah

Bupati Buol juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memahami sejarah dan budaya daerah.

“Buol masa depan akan kuat bila generasi penerus kita sebanyak-banyaknya tahu, paham, dan mengerti secara mendalam sejarah budayanya.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pemahaman terhadap sejarah dan budaya juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter serta identitas generasi penerus.

Untuk itu, sejarah dan budaya Buol perlu diperkenalkan melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, dokumentasi digital, kunjungan ke situs sejarah, forum diskusi, hingga keterlibatan langsung generasi muda dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Museum sebagai Rumah Ingatan Buol

Jika diwujudkan, Museum Buol dapat menjadi ruang untuk menyatukan berbagai potongan sejarah yang selama ini tersebar di tengah masyarakat.

Sejarah kerajaan, tokoh-tokoh daerah, perjuangan masyarakat, perkembangan pemerintahan, bahasa, adat istiadat, kesenian, hingga kehidupan sosial masyarakat dapat dihimpun dan disusun menjadi sebuah narasi sejarah yang lebih utuh.

Museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi “rumah ingatan” masyarakat Buol.

Namun, proses pendirian dan pengelolaannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, sejarawan, akademisi, masyarakat, hingga keluarga yang selama ini menyimpan benda-benda bersejarah.

Pendataan dan pengumpulan benda bersejarah juga perlu dilakukan secara transparan dan hati-hati, dengan tetap memperhatikan asal-usul, nilai budaya, kepemilikan, serta hak masyarakat yang selama ini merawat peninggalan tersebut.

Jangan Biarkan Sejarah Buol Hilang

Dorongan percepatan pendirian Museum Buol menjadi penting mengingat sejumlah peninggalan sejarah masih tersimpan secara terpisah dan belum seluruhnya terdokumentasikan secara optimal.

Jika tidak segera dilakukan pendataan dan pelestarian, berbagai benda maupun catatan sejarah berpotensi rusak, hilang, berpindah tangan, atau bahkan tidak lagi diketahui asal-usulnya.

Sejarah Buol tidak semestinya hanya tersimpan dalam ingatan generasi tua. Sejarah perlu dicatat, didokumentasikan, diteliti, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Museum bukan tempat untuk mengubur masa lalu. Museum merupakan ruang untuk menghidupkan kembali sejarah, membangun kesadaran, serta memperkuat identitas masyarakat.

Menjaga Budaya, Merawat Masa Depan

Pengakuan terhadap Uunogon dan pakaian adat Buol diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya di Kabupaten Buol.

Warisan budaya tidak cukup hanya dikenang ketika mendapatkan pengakuan atau penghargaan. Pelestariannya perlu hadir dalam pendidikan, kegiatan masyarakat, ruang publik, agenda pemerintahan, serta kehidupan sehari-hari.

Apabila segera diwujudkan dengan konsep yang kuat dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, Museum Buol dapat menjadi simbol kesungguhan daerah dalam merawat sejarah dan budaya.

Di tempat tersebut, generasi mendatang dapat melihat jejak perjalanan leluhurnya, memahami identitas daerah, sekaligus menemukan alasan untuk terus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan.

Sebab, daerah yang kuat bukan hanya daerah yang maju dalam pembangunan, tetapi juga daerah yang tidak kehilangan ingatan, tidak meninggalkan akar budayanya, serta mampu menjaga sejarah agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Buol memiliki sejarah panjang. Tugas generasi hari ini bukan sekadar membanggakannya, tetapi menyelamatkan, mendokumentasikan, merawat, dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.

Reporter: Syafri Sakula, S.IP

BIRO BUOL, SULTENG / KRIMSUS86.COM

Pos terkait