MUSI BANYUASIN, KRIMSUS86.COM — Ancaman kekeringan mulai menjadi perhatian serius DPRD Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Pemerintah Kabupaten Muba didesak segera mengambil langkah antisipatif menyusul potensi menyusutnya sumber air masyarakat akibat musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung panjang.
Desakan tersebut disampaikan anggota Komisi II DPRD Muba, H. Amri Andi, ST, dalam rapat paripurna DPRD Muba, Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Amri meminta Pemkab Muba melalui instansi terkait segera melakukan pemeriksaan dan pengerukan atau pendalaman waduk di Kecamatan Jirak Jaya dan wilayah Kecamatan Sungai Keruh sebelum kondisi sumber air semakin kritis.
Menurutnya, waduk menjadi salah satu sumber penting bagi masyarakat. Apabila hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, debit air dikhawatirkan terus menyusut dan berpotensi mengganggu kebutuhan dasar warga.
“Jangan menunggu air habis baru kita bergerak. Sebelum puncak kemarau, waduk harus segera diperdalam,” tegas Amri.
Excavator dan Dumptruck Diminta Segera Diturunkan
Amri menegaskan, pengerukan waduk tidak boleh berhenti sebatas wacana. Ia mendorong Pemkab Muba menyiapkan langkah teknis dengan segera mengerahkan excavator dan dumptruck untuk memperdalam waduk sekaligus meningkatkan kapasitas tampungan air.
Menurutnya, pendalaman waduk bukan hanya solusi menghadapi kemarau saat ini, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air masyarakat.
Dengan kapasitas tampungan yang lebih besar, air hujan pada musim penghujan dapat ditampung secara optimal sehingga cadangan air tetap tersedia ketika memasuki periode kemarau.
“Ini bukan sekadar proyek pengerukan. Ini menyangkut ketahanan air masyarakat,” ujarnya.
Tak Berhenti di Paripurna, Amri Langsung Koordinasi
Perhatian terhadap persoalan air tersebut tidak berhenti di ruang rapat. Amri menyampaikan bahwa dirinya langsung melakukan koordinasi dengan Dinas PUPR terkait kondisi waduk serta langkah penanganan yang diperlukan.
Koordinasi juga dilakukan dengan PDAM untuk merespons persoalan distribusi air yang sempat dikeluhkan masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting karena air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat menunggu terlalu lama. Ketika distribusi air terganggu, masyarakat secara langsung merasakan dampaknya.
PDAM Dapat Apresiasi, Malam Itu Air Kembali Mengalir
Di tengah persoalan tersebut, Amri juga memberikan apresiasi kepada PDAM yang dinilai cepat merespons keluhan masyarakat.
Setelah dilakukan koordinasi, persoalan distribusi air segera ditindaklanjuti sehingga pada malam harinya aliran air kembali dapat dinikmati masyarakat.
Respons tersebut, menurut Amri, menunjukkan pentingnya pelayanan publik yang cepat dan tanggap terhadap laporan warga.
Namun demikian, pemulihan distribusi air dalam jangka pendek tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan ancaman kekeringan yang lebih besar.
Gangguan hari ini harus diselesaikan, tetapi ancaman kekeringan esok hari juga harus dipersiapkan.
Jangan Tunggu Waduk Kering
DPRD Muba mendorong Pemkab menjadikan kondisi tersebut sebagai peringatan dini. Waduk di Jirak Jaya dan wilayah Sungai Keruh perlu diperiksa secara menyeluruh, mulai dari tingkat sedimentasi, kedalaman, kapasitas tampungan hingga kebutuhan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut.
Kajian teknis dinilai penting agar pengerukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal.
Apabila sedimentasi telah mengurangi kapasitas waduk, pengerukan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengembalikan daya tampungnya.
“Jangan menunggu masyarakat kesulitan mendapatkan air baru pemerintah bergerak,” tegasnya.
Air Bukan Sekadar Infrastruktur
Persoalan air tidak semestinya dipandang hanya sebagai urusan pekerjaan fisik. Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga, sanitasi, kebersihan dan berbagai aktivitas sehari-hari.
Karena itu, pengelolaan sumber air membutuhkan kebijakan yang bersifat preventif, bukan sekadar reaktif.
Kemarau panjang harus dihadapi dengan perencanaan. Ancaman kekeringan harus dijawab dengan antisipasi, sementara sumber air masyarakat harus dipersiapkan sebelum kondisinya benar-benar kritis.
DPRD Dorong Pemkab Bergerak Sebelum Krisis
DPRD Muba berharap Pemkab melalui Dinas PUPR segera melakukan pemeriksaan dan kajian teknis terhadap waduk yang menjadi sumber air masyarakat.
PDAM juga diharapkan mempertahankan respons cepat terhadap gangguan distribusi air. Di sisi lain, koordinasi antarinstansi perlu diperkuat agar persoalan air tidak ditangani secara parsial.
Sebab, semakin panjang kemarau berlangsung, tekanan terhadap sumber air akan semakin besar.
Setiap tetes air menjadi semakin berharga.
Usulan H. Amri Andi pada akhirnya bukan semata-mata mengenai pengerukan waduk. Lebih jauh, hal tersebut merupakan dorongan agar pemerintah membangun ketahanan air masyarakat sebelum persoalan berkembang menjadi krisis.
Masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang baru bergerak setelah waduk mengering. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang mampu membaca ancaman, bergerak lebih awal dan memastikan kebutuhan dasar tetap terlindungi.
Menghadapi kemarau panjang bukan waktunya menunggu keadaan memburuk.
Lebih baik memperdalam waduk hari ini daripada mencari air ketika waduk sudah kehilangan daya tampungnya.
(Enis//red)






