JAKARTA — KRIMSUS86.COM — Profesor Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., meminta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto segera mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kemarau dan kelangkaan air yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Sutan Nasomal, kondisi kekeringan tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi menyebabkan gagal panen, kerugian petani, menurunnya produksi perikanan air tawar hingga meningkatnya harga kebutuhan pangan di sejumlah daerah.
“Di mana-mana sebagian wilayah Indonesia, pertanian terancam gagal panen akibat sumber perairan yang dangkal, tersendat bahkan mengering. Pemerintah perlu segera mengantisipasi agar masyarakat tidak mengalami kesulitan pangan akibat kemarau,” ujar Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Ia berharap Presiden Prabowo dapat menginstruksikan berbagai kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial serta unsur terkait lainnya untuk bergerak bersama menangani daerah yang mengalami krisis air.
Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu mendapatkan dukungan untuk menyalurkan bantuan air kepada masyarakat yang terdampak kekeringan, terutama wilayah pedesaan yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih maupun air untuk kebutuhan pertanian.
Petani dan Peternak Ikan Terancam Merugi
Sutan Nasomal menilai dampak kemarau terhadap sektor pertanian dan perikanan air tawar harus menjadi perhatian serius negara. Kemarau yang berlangsung beberapa bulan telah membuat lahan pertanian mengering dan sebagian peternak ikan air tawar menghadapi ancaman kerugian karena kekurangan air.
“Modal petani dan peternak ikan bisa tidak kembali apabila tanaman maupun ikan tidak dapat dipelihara hingga masa panen. Karena itu, pemerintah harus hadir memberikan solusi,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan kekeringan yang menurutnya telah berlangsung berulang selama bertahun-tahun. Karena itu, pembangunan infrastruktur air harus benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sutan Nasomal mempertanyakan efektivitas sejumlah bendungan dan danau yang telah dibangun dengan anggaran besar apabila belum mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat, khususnya petani dan peternak ketika musim kemarau.
“Jangan sampai bendungan dan danau dibangun tetapi tidak optimal dalam menyediakan air ketika masyarakat sangat membutuhkan. Infrastruktur tersebut harus dipastikan berfungsi dan memberikan manfaat bagi ketahanan pangan,” tegasnya.
Normalisasi Sungai dan Pembangunan Infrastruktur Air
Untuk menghadapi ancaman kekeringan, Sutan Nasomal mendorong pemerintah melakukan normalisasi serta pengerukan sungai di berbagai wilayah Indonesia yang mengalami pendangkalan.
Ia juga mengusulkan pembangunan danau atau embung baru di wilayah yang rawan kekeringan, sehingga air hujan dapat ditampung dan dimanfaatkan ketika memasuki musim kemarau.
Selain itu, potensi sumber air bawah tanah, menurutnya, perlu dikaji dan dimanfaatkan secara bijaksana untuk menambah cadangan air bersih dan mendukung kebutuhan pertanian.
“Pemerintah bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, serta unsur TNI dan Polri dapat dilibatkan dalam gerakan terpadu menghadapi kekeringan. Penanganannya tidak boleh bersifat parsial,” ujarnya.
Bendungan dan Hutan Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Sutan Nasomal juga mendorong pemerintah melakukan rehabilitasi terhadap bendungan yang tidak optimal serta memperkuat pembangunan sarana penyimpanan air.
Di sisi lain, kerusakan hutan di kawasan pegunungan dinilai perlu mendapatkan perhatian karena keberadaan tutupan vegetasi sangat penting dalam menjaga tata air dan ketersediaan sumber air.
Menurutnya, penghijauan dan rehabilitasi kawasan hutan harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan, terlebih di tengah ancaman cuaca ekstrem.
“Kerusakan hutan dan perubahan fungsi lahan harus menjadi perhatian. Kita harus memperkuat kembali kawasan yang berfungsi menjaga sumber air agar kebutuhan masyarakat dan pertanian tetap tersedia,” katanya.
Ancaman Harga Pangan
Dampak kekeringan juga dinilai mulai berpotensi memengaruhi pasokan komoditas pertanian. Jika petani gagal panen, pasokan sayur-mayur dan kebutuhan pangan dari desa ke pasar akan berkurang sehingga harga dapat mengalami kenaikan.
Sutan Nasomal meminta pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan saat krisis terjadi, tetapi juga menyiapkan sistem mitigasi kekeringan yang terintegrasi.
Ia mendorong pengembangan teknologi pengelolaan dan konservasi air yang dapat membantu masyarakat menghadapi musim kemarau, sekaligus meningkatkan edukasi kepada petani mengenai teknik pertanian yang adaptif terhadap perubahan cuaca.
“Ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto akan lebih mudah diwujudkan apabila persoalan air dapat diselesaikan. Petani dan peternak membutuhkan kepastian ketersediaan air agar dapat berproduksi secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Sutan Nasomal berharap seluruh bendungan, danau, embung, jaringan irigasi dan sumber air yang ada dapat dievaluasi serta diperbaiki agar mampu menampung dan mendistribusikan air secara optimal pada saat musim kemarau.
Narasumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional dan Ekonom; Presiden Partai Oposisi Merdeka; Jenderal Kompii; Pendiri/Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID); Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, S.H., M.H.; serta Rektor Universitas STIA/STIH Pronass.
(Red//tim)






