Workshop Tari Mare-Mare Perkuat Upaya Pelestarian Warisan Budaya Musi Banyuasin

 

SEKAYU, KRIMSUS86.COM – Workshop bertajuk “Dari Tradisi ke Generasi: Workshop Tari Mare-Mare sebagai Identitas Budaya Muba dalam Mendukung Usulan Warisan Budaya Tak Benda” resmi dibuka di Museum Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Penghulu Muhammad Soleh, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 6–7 Juni 2026, menjadi langkah strategis dalam mendukung pelestarian, pewarisan, dan dokumentasi Tari Mare-Mare sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Musi Banyuasin.

Berita Lainnya

Ketua Pelaksana kegiatan, Rosita Wulandari, S.E., menjelaskan bahwa workshop diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan komunitas seni di Kabupaten Musi Banyuasin. Menurutnya, Tari Mare-Mare bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai moral, pendidikan karakter, tata krama, serta semangat pengabdian kepada daerah.

“Tari Mare-Mare mengisahkan perjalanan seorang gadis yang merantau untuk menuntut ilmu dan kembali membangun kampung halamannya. Nilai-nilai tersebut penting untuk diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Rosita menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan data dukung dalam proses pengusulan Tari Mare-Mare sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Melalui metode pembelajaran yang menggabungkan penyampaian materi, diskusi, praktik gerak tari, evaluasi, hingga pementasan, peserta diharapkan mampu memahami filosofi sekaligus menguasai teknik penyajian Tari Mare-Mare secara utuh.

Mewakili Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan, Pamong Budaya Mayrosis menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap workshop ini dapat menjadi langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan Tari Mare-Mare agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Semoga kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam upaya pelestarian Tari Mare-Mare sehingga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin melalui Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Musi Banyuasin, Habiburrahman, S.Pd., M.M., mengapresiasi sinergi antara Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dalam mendukung pemajuan kebudayaan daerah.

Menurutnya, workshop ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran seni tradisi, tetapi juga merupakan bagian penting dalam memperkuat proses pengusulan Tari Mare-Mare sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah Tari Mare-Mare, nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, teknik dasar gerakan, hingga praktik penyajian tari yang dipandu oleh narasumber dan pelatih berpengalaman. Selain itu, kegiatan ini juga menghasilkan dokumentasi berupa foto, video, dan arsip materi yang akan menjadi bagian dari kelengkapan dokumen pengusulan WBTb.

Pelaksanaan workshop didukung melalui Dana Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang disalurkan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sumatera Selatan. Dukungan tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pewarisan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda sebagai bagian dari implementasi program pemajuan kebudayaan nasional.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya mampu menampilkan Tari Mare-Mare dengan baik dan benar, tetapi juga memahami serta menghayati nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, Tari Mare-Mare dapat terus hidup sebagai identitas budaya Musi Banyuasin yang diwariskan dari generasi ke generasi dan semakin memperkuat peluangnya untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

(Enismiyana)

Pos terkait