BNPT dan Densus 88 Perkuat Kolaborasi Lindungi Generasi Muda di Era Digital

JAKARTA KRIMSUS86.COM | Sinergi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Densus 88 Antiteror Polri terus diperkuat melalui pendekatan perlindungan anak, literasi digital, dan penguatan ketahanan masyarakat sebagai langkah strategis menghadapi tantangan ruang digital yang berkembang pesat.

Penguatan kolaborasi tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” yang digelar pada Rabu (20/5/2026) di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menghadirkan unsur pemerintah, aparat keamanan, akademisi, psikolog, hingga pakar teknologi untuk membahas dinamika ancaman digital terhadap generasi muda.

Berita Lainnya

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menegaskan bahwa membangun ketahanan masyarakat di era digital membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

“Membangun ketahanan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan seluruh elemen bangsa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda,” ujar Eddy Hartono.

Ia menjelaskan bahwa upaya pencegahan harus terus diperkuat melalui pendidikan, penguatan literasi digital, serta deteksi dini berbasis komunitas agar masyarakat mampu mengenali perubahan sosial dan meresponsnya secara tepat.

Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 yang menempatkan kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi sebagai bagian dari upaya bersama lintas sektor.

“Pencegahan yang efektif tumbuh dari lingkungan terdekat masyarakat. Karena itu, penguatan keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang sosial menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan bersama,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penguatan sinergi, BNPT juga terus mendorong keterlibatan berbagai unsur melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), program berbasis komunitas, serta penguatan sistem edukasi dan literasi di berbagai daerah.

Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo menekankan pentingnya perlindungan anak, pendampingan, dan penguatan ketahanan psikologis di tengah perkembangan ruang digital.

“Anak perlu dipahami sebagai pihak yang harus dilindungi dan diperkuat ketahanannya. Karena itu, penguatan literasi digital, lingkungan sosial yang sehat, dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan,” ujar Sentot Prasetyo.

Ia menambahkan bahwa pendekatan perlindungan akan semakin efektif melalui collaborative approach, yakni kolaborasi aktif antara keluarga, sekolah, pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

Pandangan tersebut diperkuat oleh sejumlah akademisi dan pakar yang hadir dalam diskusi. Psikolog forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai penguatan perlindungan psikologis dan deteksi dini menjadi semakin penting di tengah perubahan pola interaksi generasi muda.

“Pendekatan perlindungan dan deteksi dini terhadap anak menjadi semakin penting agar mereka memiliki ketahanan menghadapi berbagai tantangan sosial maupun digital,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Harkristuti Harkrisnowo mengingatkan bahwa penguatan kebijakan harus tetap mengedepankan hak asasi manusia dan pendekatan berbasis bukti ilmiah agar perlindungan berjalan secara proporsional dan inklusif.

Dari perspektif psikologi, Dra. Adityana Kasandra Putranto menekankan pentingnya ketahanan mental dan dukungan lingkungan sebagai faktor protektif bagi generasi muda.

Sedangkan Dr. Ismail Fahmi menyoroti perlunya literasi digital dan edukasi publik berbasis data agar masyarakat semakin siap memahami dinamika ruang digital secara bijak.

Diskusi tersebut mempertegas bahwa perlindungan generasi muda di era digital membutuhkan kolaborasi yang kuat antara negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Kolaborasi yang kuat akan melahirkan ketahanan masyarakat yang kuat. Perlindungan generasi muda dimulai dari lingkungan terdekat mereka,” tutup Eddy Hartono.

Sinergi antara BNPT dan Densus 88 menjadi penegasan bahwa membangun masa depan yang aman bagi generasi muda harus dimulai dari pendidikan, perlindungan, literasi digital, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa.(red//tim)

Pos terkait