WARGA MELAWI MENJERIT, HARGA PERTALITE DI PENGECER CAPAI RP19.000/LITER

Himbauan Harga Rp15.000 Dipertanyakan, Pengecer Sebut Harga dari Pemasok Sudah Tinggi

MELAWI, KALIMANTAN BARAT — KRIMSUS86.COM, Sabtu, 5 September 2026 — Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di tingkat pengecer dikeluhkan sejumlah warga Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Harga yang ditemukan di sejumlah pom mini disebut mencapai Rp19.000 per liter, atau sekitar Rp4.000 lebih tinggi dibanding harga Rp15.000 per liter sebagaimana himbauan Pemerintah Kabupaten Melawi.

Berita Lainnya

Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat, terlebih di tengah musim kemarau panjang dan meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat.

Himbauan Pemerintah Daerah Dipertanyakan

Bupati Melawi, H. Dadi Sunarya Usfa, sebelumnya disebut telah mengeluarkan himbauan agar harga Pertalite yang dijual di tingkat pengecer tidak melebihi Rp15.000 per liter. Himbauan tersebut juga disertai penegasan bahwa pelanggaran dapat ditindak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, masih ditemukan sejumlah pom mini, salah satunya di ruas jalan Sidomulyo, Kabupaten Melawi, yang menjual Pertalite dengan harga sekitar Rp19.000 per liter.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan masyarakat mengenai efektivitas pengawasan dan mekanisme distribusi BBM di tingkat pengecer.

Pengecer: Harga dari Pemasok Sudah Rp17.000

Salah seorang pemilik pom mini di wilayah Sidomulyo menjelaskan bahwa tingginya harga jual bukan semata-mata karena keinginan pengecer untuk mengambil keuntungan besar.

Menurutnya, harga BBM yang diterima dari pihak pengantar atau pemasok sudah mencapai sekitar Rp17.000 per liter.

“Kami bukan sengaja menaikkan harga sembarangan. Yang jual ke kami sudah Rp17.000 per liter. Kalau kami jual Rp15.000, kami justru rugi. Kalau Satpol PP atau pihak terkait datang, akan kami sampaikan apa adanya. Ini harga yang kami terima dari pengantar,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya persoalan pada rantai distribusi sebelum BBM sampai ke tingkat pengecer.

Meski demikian, informasi mengenai harga dari pemasok tersebut masih perlu ditelusuri dan diverifikasi lebih lanjut oleh instansi berwenang untuk mengetahui asal-usul pasokan, mekanisme distribusi, serta faktor yang menyebabkan harga di tingkat pengecer meningkat.

Warga Minta Pemerintah dan Aparat Turun Tangan

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Melawi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, aparat pengawasan, Kepolisian, serta instansi terkait segera melakukan pengecekan terhadap kondisi tersebut.

Warga meminta agar pemerintah memastikan beberapa hal, antara lain:

Menelusuri rantai pasok Pertalite hingga ke tingkat pengecer.

Memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM bagi masyarakat.

Mengawasi praktik penjualan BBM di tingkat pengecer agar tidak merugikan konsumen.

Menindak apabila ditemukan pelanggaran, sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai penyebab tingginya harga BBM di lapangan.

Di tengah kondisi kemarau dan potensi karhutla, ketersediaan BBM dengan harga yang wajar dinilai penting untuk menunjang mobilitas masyarakat sekaligus mendukung kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Masyarakat juga berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada pengecer sebagai pihak paling depan dalam rantai penjualan, tetapi turut ditelusuri hingga sumber pasokan apabila memang ditemukan adanya persoalan dalam distribusi.

Hingga berita ini diterbitkan, informasi mengenai dugaan adanya permainan harga atau pihak tertentu yang mengambil keuntungan secara tidak wajar masih memerlukan pemeriksaan dan pembuktian dari aparat serta instansi terkait.

KRIMSUS86.COM akan terus memantau perkembangan persoalan harga Pertalite di Kabupaten Melawi dan memberikan ruang konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat.

(RED//TIM)

Pos terkait