GARUT, KRIMSUS86.COM — 28 Oktober 2026,Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Drs. H. Nanang, SH, mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya mengejar prestasi dan kesuksesan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, pendidikan, serta kelestarian lingkungan.
Ajakan tersebut disampaikan melalui refleksi bertajuk “Indonesia Tidak Kekurangan Pemuda Hebat, tetapi Membutuhkan Pemuda yang Peduli.” Tulisan ini menekankan bahwa kecerdasan, kreativitas, dan keberhasilan generasi muda akan semakin bermakna apabila digunakan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Nanang, Indonesia memiliki potensi generasi muda yang sangat besar. Mereka hadir di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dunia usaha, teknologi, olahraga, hingga kegiatan sosial. Namun, potensi tersebut perlu diiringi karakter, empati, dan tanggung jawab sosial agar mampu mendorong kemajuan bangsa.
“Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang pintar, tetapi pemuda yang menggunakan kepintarannya untuk mencerdaskan. Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang sukses, tetapi juga pemuda yang membuka jalan bagi orang lain untuk meraih kesuksesan,” demikian pesan yang disampaikan dalam refleksi tersebut.
Nanang menyoroti besarnya jumlah penduduk usia muda sebagai modal penting dalam pembangunan nasional. Berdasarkan publikasi Statistik Pemuda Indonesia 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa.
Besarnya jumlah tersebut merupakan peluang strategis untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing. Meski demikian, bonus demografi tidak otomatis menghasilkan kemajuan apabila tidak didukung pendidikan berkualitas, keterampilan, kesempatan kerja, serta ruang partisipasi bagi generasi muda.
Karena itu, pemuda diharapkan mampu menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, mandiri, dan peduli. Penguasaan teknologi serta kemampuan bersaing di tingkat global harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS). Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, persoalan keluarga, dan tuntutan ekonomi menjadi sejumlah faktor yang dapat menghambat anak-anak dalam memperoleh hak pendidikan.
Dalam refleksinya, Nanang mengajak generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa, untuk terlibat dalam kegiatan pendampingan belajar, gerakan literasi, serta membantu menghubungkan anak-anak yang tidak bersekolah dengan lembaga pendidikan formal maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Upaya tersebut, menurutnya, perlu dilakukan melalui kerja sama antara pemuda, pemerintah desa, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Mengatasi persoalan ATS bukan semata-mata mengembalikan anak ke ruang kelas, melainkan memulihkan hak, harapan, dan kesempatan mereka untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Ukuran kemajuan bangsa, lanjutnya, tidak cukup dilihat dari banyaknya pemuda yang berhasil meraih gelar pendidikan, tetapi juga dari sejauh mana anak-anak yang tertinggal mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Selain pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan hidup juga menjadi bagian penting dari refleksi Hari Sumpah Pemuda tahun ini.
Nanang mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 harus diiringi dengan upaya nyata menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah, merawat pohon, melindungi sumber air, dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam.
Data pengelolaan sampah nasional yang disinggung dalam refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan sampah masih membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Generasi muda dapat mengambil peran melalui gerakan memilah sampah, mengembangkan bank sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengadakan kegiatan kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Namun, gerakan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Pohon yang ditanam harus dirawat, sampah yang dikumpulkan harus dikelola dengan benar, dan lingkungan yang dibersihkan harus dijaga agar tetap lestari.
Nanang juga menegaskan bahwa Indonesia tetap membutuhkan generasi muda yang berprestasi di berbagai bidang, seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, kesehatan, olahraga, seni, dan kepemimpinan.
Akan tetapi, prestasi akan semakin bernilai ketika memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Mahasiswa dapat membantu sekolah memanfaatkan teknologi digital. Pengusaha muda dapat membuka lapangan pekerjaan dan mendampingi pelaku usaha mikro. Pelajar berprestasi dapat membantu teman-temannya memahami pelajaran, sementara komunitas pemuda bisa menyelenggarakan pelatihan keterampilan bagi masyarakat.
Menurutnya, pemuda tidak harus menunggu menjadi tokoh besar untuk memberikan kontribusi. Perubahan dapat dimulai melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Prestasi membuat seseorang dikenal, tetapi kepedulian membuat kehadirannya bermakna. Kecerdasan membuka jalan menuju keberhasilan, sedangkan empati mengajarkan bagaimana keberhasilan tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang berakar pada peristiwa 28 Oktober 1928 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan tanggung jawab kebangsaan.
Nanang mengingatkan bahwa semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata sesuai tantangan zaman.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, pemuda diharapkan tidak hanya menunjukkan kepedulian melalui media sosial, tetapi juga hadir secara langsung ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Generasi muda juga didorong untuk berani menyampaikan kebenaran, mengawal kebijakan publik, membela kelompok yang terpinggirkan, serta ikut mencari solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kritik harus disampaikan berdasarkan data, sementara kepedulian diwujudkan melalui tindakan yang nyata dan berkelanjutan.
Di sisi lain, tanggung jawab membangun bangsa tidak hanya berada di pundak pemuda. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang adil, dunia usaha membuka kesempatan, lembaga pendidikan memperkuat karakter, dan masyarakat membangun solidaritas. Pemuda harus diberikan ruang untuk berpartisipasi sebagai mitra perubahan.
Dari lingkungan keluarga, kampung, sekolah, kampus, hingga komunitas, perubahan dapat dimulai dengan membantu seorang anak kembali bersekolah, membersihkan lingkungan, mendampingi usaha kecil, atau menggerakkan kegiatan sosial.
Langkah yang sederhana, apabila dilakukan bersama-sama dan berkelanjutan, dapat memberikan dampak yang luas.
Menutup refleksinya, Nanang menegaskan bahwa cinta tanah air tidak cukup hanya diucapkan dalam pidato atau ditunjukkan melalui upacara peringatan. Patriotisme harus dibuktikan melalui kepedulian dan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Indonesia membutuhkan pemuda yang berprestasi sekaligus berempati, cerdas sekaligus rendah hati, sukses sekaligus peduli, serta berani mengejar cita-cita tanpa meninggalkan mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Persoalan kemiskinan, anak tidak sekolah, dan kerusakan lingkungan bukan semata-mata urusan kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.
“Jangan biarkan Sumpah Pemuda berhenti sebagai hafalan. Jangan biarkan patriotisme berhenti sebagai upacara. Jangan biarkan empati berhenti sebagai rasa iba. Turunkan semuanya menjadi tindakan nyata!” menjadi pesan utama dalam refleksi tersebut.
Nanang mengajak seluruh generasi muda untuk memulai perubahan dari hal-hal sederhana di lingkungan masing-masing. Tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Indonesia tidak kekurangan pemuda hebat. Indonesia membutuhkan lebih banyak pemuda yang bersedia menggunakan kehebatannya untuk membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Pemuda diharapkan bukan hanya ingin namanya dikenal, melainkan juga ingin kehadirannya dirasakan. Bukan hanya mengejar masa depan pribadi, tetapi turut membuka masa depan bagi sesama.
Itulah patriotisme yang berempati dan semangat Sumpah Pemuda yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026.
Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, dan satu kepedulian untuk Indonesia
(Ajang setiana//red)
KRIMSUS86.COM — Tegas, Lugas, Terpercaya.






