Gelar FGD, Dirintelkam Polda Jambi Ajak Generasi Muda Cerdas Bermedia dan Putus Rantai Hoaks

JAMBI, FRIC | KRIMSUS86.COM,  Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Jambi menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Cerdas Bermedia, Bijak Menyikapi Berita, Meneguhkan Peran Anak Bangsa sebagai Generasi Kritis dan Berintegritas di Era Transformasi Digital serta Mendukung Stabilitas Kamtibmas yang Aman dan Kondusif.”

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Apollo Hotel Ratu Duo Jambi dan dihadiri langsung oleh Dirintelkam Polda Jambi Kombes Pol. Yuli Haryudo, S.E., Kasubdit Kamsus Ditintelkam Polda Jambi Kompol Agung Pratama, S.I.K., M.H., serta sekitar 45 peserta FGD.

Berita Lainnya

Sejumlah narasumber turut memberikan materi dalam kegiatan tersebut, yakni Akademisi/Dosen Universitas Adiwangsa Jambi (Unama) bidang Informatika Dr. Dodo Zainal Abidin, S.Kom., M.Kom., Akademisi sekaligus Ahli Jurnalistik Provinsi Jambi Hery Novialdi, S.H., M.H., Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jambi Siti Masnidar, S.E., C.Med., serta Direktur Eksekutif Jambi Impact Institute Mujib Barohman, S.H., M.H.

Dalam sambutannya, Dirintelkam Polda Jambi Kombes Pol. Yuli Haryudo menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan besar bagi masyarakat dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa informasi tidak benar, hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk gangguan informasi lainnya.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun kebiasaan “saring sebelum sharing” dengan terlebih dahulu memeriksa sumber, kebenaran, serta konteks informasi sebelum menyebarkannya.

“Kecerdasan bermedia juga harus disertai dengan etika dan integritas. Kebebasan dalam menyampaikan pendapat harus tetap memperhatikan norma, hukum serta hak orang lain,” ujar Yuli Haryudo.

Ia berharap FGD tersebut dapat meningkatkan kesadaran peserta, khususnya generasi muda, agar menjadi pengguna media yang cerdas, bijak, kritis, dan bertanggung jawab sehingga turut menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Provinsi Jambi tetap aman dan kondusif.

Sementara itu, Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jambi Siti Masnidar menyampaikan bahwa perkembangan dunia digital telah membawa Indonesia pada kondisi yang dapat disebut sebagai “surplus” informasi digital.

Karena itu, menurutnya, pemahaman terhadap literasi media dan literasi informasi menjadi penting agar masyarakat mampu mengidentifikasi setiap informasi yang diterima.

“Sebagai pintu awal literasi, perlu dilakukan verifikasi sumber informasi. Kita juga harus mewaspadai sumber-sumber digital karena bisa berasal dari manusia, troll maupun bot,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan adanya berbagai bentuk gangguan informasi yang perlu diwaspadai masyarakat, antara lain disinformasi, misinformasi, dan malinformasi.

Materi berikutnya disampaikan Akademisi sekaligus Ahli Jurnalistik Provinsi Jambi Hery Novialdi. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap etika pers di tengah arus informasi digital yang bergerak sangat cepat.

Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran sebuah informasi. Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan memperoleh berita, namun etika tetap harus menjadi pedoman.

Hery juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan sesuatu yang viral sebagai ukuran kebenaran.

“Viral bukan berarti valid. Popularitas informasi tidak sama dengan validitas informasi,” tegasnya.

Ia menyebut terdapat tiga pilar penting dalam membangun pers yang kredibel, yaitu akurat, berimbang, dan independen, yang menjadi fondasi dalam menjalankan kerja jurnalistik secara bertanggung jawab.

Sementara itu, Akademisi/Dosen Unama bidang Informatika Dr. Dodo Zainal Abidin membahas perkembangan hoaks dalam perspektif teknologi dan kecerdasan buatan.

Menurutnya, hoaks di era transformasi digital bukan sekadar tulisan atau gambar yang dibuat tanpa tujuan, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu bentuk ancaman di ruang siber karena berpotensi memengaruhi masyarakat dan mengganggu situasi yang kondusif.

Ia menjelaskan bahwa teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Natural Language Processing (NLP) dapat membantu menganalisis pola, konteks, serta makna suatu naskah. Namun, teknologi tersebut tidak secara otomatis menentukan apakah sebuah informasi benar atau salah.

“AI membantu menemukan pola bahasa yang mencurigakan dalam sebuah naskah,” jelasnya.

Melalui FGD tersebut, para peserta didorong untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, memahami etika bermedia, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum teruji kebenarannya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang berintegritas dan mampu mengambil peran dalam memutus mata rantai penyebaran hoaks di ruang digital.

“Menjadi generasi berintegritas berarti berani memutus rantai hoaks di tangan kita sendiri. Jaga Jambi tetap aman dan kondusif.”

(RED//TIMMEDIAFRIC)

Pos terkait