Disdikbud Muba Dorong Guru IPA Ubah Kelas Jadi Laboratorium Riset Berbasis Data

SEKAYU, MUSI BANYUASIN | Krimsus86.com — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mendorong perubahan pola pembelajaran di sekolah dengan memperkuat budaya riset, berpikir kritis, serta pengambilan keputusan berbasis data dan bukti.

Hal tersebut disampaikan dalam Workshop Sekolah Berbasis Riset, Berkearifan Lokal dan Berkelanjutan Jenjang SD dan SMP Tahun 2026 yang digelar di Aula Gambo Hotel Sekayu, Jumat (14/8/2026). Kegiatan berlangsung hingga Senin (17/8/2026) dan diikuti para guru mata pelajaran IPA jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Musi Banyuasin.

Berita Lainnya

Mewakili Kepala Disdikbud Muba Yayan, S.E., M.M., Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Sobriadi, S.Si., M.Pd., membacakan sambutan Kepala Dinas sekaligus membuka kegiatan workshop secara resmi.

Dalam sambutannya, Kepala Disdikbud menegaskan bahwa sekolah berbasis riset merupakan salah satu strategi untuk membangun budaya belajar yang kritis, ilmiah, kreatif, dan solutif.

“Guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, sekaligus penggerak budaya riset di sekolah,” ujar Sobriadi saat membacakan sambutan Kepala Disdikbud Muba.

Menurutnya, peserta didik perlu dibiasakan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu mengamati persoalan, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, melakukan analisis, menguji temuan, hingga menyusun solusi berdasarkan bukti.

Dengan demikian, guru diharapkan menjadi motor perubahan cara berpikir siswa, sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga membangun kemampuan memecahkan persoalan nyata.

BRIN: Pembelajaran Harus Berbasis Data dan Bukti

Sementara itu, Dr. Deni Hadiana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya pembelajaran yang berbasis riset dan bukti.

Ia menjelaskan bahwa berbagai perubahan kurikulum di Indonesia belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan literasi. Salah satu gambaran yang kerap menjadi perhatian adalah capaian Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Menurut Deni, pendekatan sekolah berbasis riset dapat menjadi salah satu upaya memperkuat kualitas pembelajaran.

“Sekolah berbasis riset mengajak guru memikirkan pembelajaran dan apa yang harus dilakukan, semuanya berbasis data dan bukti,” jelasnya.

Ia menekankan agar guru tidak mengambil keputusan pembelajaran hanya berdasarkan kebiasaan maupun asumsi. Setiap proses pembelajaran perlu dievaluasi melalui data sehingga perbaikan metode dapat dilakukan secara tepat.

Guru dituntut mampu melihat apakah peserta didik benar-benar memahami materi, mengidentifikasi penyebab ketika hasil belajar belum optimal, serta menentukan intervensi yang sesuai berdasarkan temuan di lapangan.

Riset Harus Masuk ke Ruang Kelas

Deni menilai tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran, tetapi juga menyangkut mentalitas dalam proses belajar mengajar.

Guru perlu memiliki kemauan untuk terus melakukan refleksi, menguji efektivitas pembelajaran, membaca bukti, serta berani melakukan perbaikan apabila hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Karena itu, riset tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam dokumen sekolah. Budaya riset harus benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Ruang kelas diharapkan menjadi tempat bagi siswa untuk mengamati persoalan, mengolah informasi, membaca data, menguji dugaan, dan mencari solusi berdasarkan fakta.

Kearifan Lokal Jadi Laboratorium Pembelajaran

Workshop tersebut juga menekankan pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dan prinsip keberlanjutan ke dalam pembelajaran.

Lingkungan, budaya, sumber daya alam, serta berbagai persoalan yang terdapat di daerah dapat menjadi sumber belajar sekaligus objek penelitian sederhana bagi peserta didik.

Kabupaten Musi Banyuasin memiliki potensi yang luas untuk dikembangkan sebagai laboratorium pembelajaran, mulai dari lingkungan, pertanian, perkebunan, sungai, keanekaragaman hayati, budaya masyarakat hingga potensi ekonomi lokal.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga memahami kondisi lingkungan dan persoalan yang ada di sekitar mereka.

Pembelajaran pun menjadi lebih kontekstual sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah sejak usia dini.

Dukung Visi Muba Maju Lebih Cepat

Penguatan budaya riset di lingkungan sekolah juga dinilai sejalan dengan upaya mendukung visi “Muba Maju Lebih Cepat”.

Pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, rasional, serta mampu menyelesaikan persoalan berdasarkan bukti.

Jika sejak jenjang SD dan SMP siswa telah dibiasakan mengolah data, memecahkan masalah, menghargai bukti, memahami lingkungan, dan mengenali potensi daerahnya, maka pendidikan diharapkan mampu menghasilkan generasi yang tidak sekadar mampu menjawab soal.

Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu mempertanyakan persoalan, mencari penyebab, menguji solusi, dan mengambil keputusan secara rasional.

Melalui workshop tersebut, Disdikbud Muba menegaskan bahwa tantangan bagi guru bukan sekadar mengajar lebih banyak, melainkan mengajar dengan bukti, membangun cara berpikir, serta menyiapkan generasi yang mampu membaca persoalan nyata dan menciptakan solusi bagi daerahnya.

(Enis//red)

Pos terkait