BOGOR | KRIMSUS86.COM — Aktivitas pengolahan emas rakyat atau yang dikenal dengan istilah gelondong emas di wilayah Bogor Barat menjadi fenomena yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, kegiatan tersebut dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian masyarakat. Namun di sisi lain, penggunaan merkuri dalam proses pengolahan emas menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga dan kelestarian lingkungan.
Bagi sebagian masyarakat, keberadaan usaha pengolahan emas menjadi sumber penghasilan. Warga tidak hanya bekerja langsung di lokasi pengolahan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari berbagai aktivitas pendukung, seperti pengangkutan material, penyediaan bahan bakar, hingga usaha warung di sekitar lokasi.
“Sebelum ada usaha ini, kami sulit mencari penghasilan di tempat sendiri. Sekarang ada yang bisa bekerja di sana, ada yang membuka warung, dan perputaran uang di desa terasa lebih hidup,” ujar salah seorang warga, Minggu (16/8/2026).
Ancaman Paparan Merkuri
Di balik manfaat ekonomi tersebut, penggunaan merkuri dalam proses pemisahan emas menjadi perhatian serius. Proses pembakaran amalgam yang mengandung merkuri berpotensi melepaskan uap merkuri ke udara apabila tidak dilakukan dengan sistem pengendalian yang memadai.
Paparan merkuri secara berlebihan dan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Selain udara, pencemaran juga berpotensi memengaruhi tanah dan sumber air apabila limbah hasil pengolahan tidak dikelola dengan baik.
Warga di sekitar lokasi pun mengaku khawatir terhadap dampak aktivitas tersebut, terutama terhadap kualitas lingkungan dan sumber air yang digunakan sehari-hari.
“Asap pembakaran sering terlihat sampai ke pemukiman. Kami khawatir air sumur dan sawah di sekitar sini lama-lama ikut tercemar,” ungkap warga lainnya yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Pengelola Mengaku Terkendala Biaya
Saat dikonfirmasi, perwakilan pengelola usaha mengakui bahwa penggunaan merkuri masih dilakukan. Menurutnya, keterbatasan biaya dan minimnya pengetahuan mengenai teknologi pengolahan alternatif menjadi salah satu alasan praktik tersebut masih berlangsung.
“Kami sadar ada risikonya, tetapi sampai saat ini ini menjadi salah satu cara yang terjangkau bagi kami untuk memisahkan emas. Kami berharap ada bantuan atau pelatihan dari pemerintah agar bisa beralih ke cara yang lebih aman tanpa mengurangi hasil produksi,” ungkap pengelola.
Pihak pengelola juga menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dengan instansi terkait guna memperbaiki sistem pengolahan serta meminimalkan potensi dampak terhadap lingkungan.
DLH Diminta Turun ke Lapangan
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor disebut telah mengetahui adanya aktivitas tersebut dan berencana melakukan peninjauan ke lapangan.
Perwakilan DLH menyampaikan bahwa penggunaan merkuri harus dilakukan dengan memperhatikan ketentuan dan pengendalian lingkungan yang berlaku. Pemerintah daerah juga diharapkan memberikan sosialisasi serta pendampingan kepada pelaku usaha agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan lingkungan.
“Kami akan melakukan peninjauan, memberikan sosialisasi, dan meminta pelaku usaha untuk menyesuaikan dengan standar yang berlaku. Jika tidak dipatuhi, akan ada tindakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar perwakilan DLH Kabupaten Bogor.
Ekonomi Tetap Berjalan, Lingkungan Harus Dilindungi
Warga dan pemerhati lingkungan berharap persoalan tersebut tidak hanya diselesaikan melalui penindakan, tetapi juga melalui pembinaan dan pendampingan teknis. Pelaku usaha perlu didorong untuk menerapkan metode pengolahan emas yang lebih aman dan mengurangi bahkan menghentikan penggunaan merkuri.
Pemerintah daerah juga dinilai perlu memperkuat pengawasan, memberikan edukasi mengenai risiko merkuri, serta membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap teknologi pengolahan emas yang lebih ramah lingkungan.
Dengan demikian, aktivitas ekonomi masyarakat tetap dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi warga, tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.
Sumber: Krimsus86.com
Tanggal: 16 Agustus 2026
Peliput: Yoyon Nst
Redaksi: Krimsus86.com — Tegas, Lugas, Terpercaya






