JAYAWIJAYA — KRIMSUS86.COM — Kabar duka kembali datang dari Papua Pegunungan. Seorang pengemudi lajuran atau travel asal Toraja, Sulawesi Selatan, bernama Aris Sanda alias Bapak Tasya, ditemukan meninggal dunia bersama kendaraan yang digunakannya dalam kondisi terbakar di kawasan sekitar Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIT ketika Aris sedang membawa penumpang melalui jalur Wamena menuju Mbua.
Menurut keterangan Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, rombongan kendaraan lajuran dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata. Pengemudi dan penumpang kemudian diperiksa.
Setelah pemeriksaan, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena. Sementara Aris dibawa oleh kelompok bersenjata ke arah kawasan Danau Habema.
Koops TNI Habema selanjutnya melakukan pencarian dan penyisiran di sekitar lokasi. Dalam pencarian tersebut, tim menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudinya.
Jenazah Aris kemudian dievakuasi dengan tetap mempertimbangkan faktor keamanan personel dan kondisi situasi di lapangan. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara dan proses penyelidikan terhadap kasus tersebut.
Koops TNI Habema menyebut kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut sebagai OPM Kodap III Ndugama. Namun, proses pendalaman dan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan rangkaian kejadian serta pihak yang bertanggung jawab. Sementara itu, penyebab pasti kematian korban masih dalam penyelidikan.
Aris diketahui selama ini menjalankan pekerjaan sebagai pengemudi yang melayani kebutuhan transportasi masyarakat sekaligus membawa logistik pada jalur Wamena menuju Mbua.
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan serius mengenai keselamatan masyarakat sipil di wilayah konflik bersenjata Papua Pegunungan. Warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk pengemudi transportasi, pekerja, pedagang, tenaga pendidik maupun masyarakat lainnya, berada pada posisi rentan ketika kekerasan terjadi di jalur aktivitas mereka.
Kematian Aris menyisakan duka bagi keluarga sekaligus pertanyaan mengenai sejauh mana perlindungan terhadap masyarakat sipil dapat diwujudkan di wilayah yang masih menghadapi ancaman kelompok bersenjata.
Apa pun latar belakang konflik yang terjadi di Papua, keselamatan warga sipil semestinya menjadi perhatian utama seluruh pihak.
Hak untuk hidup dan memperoleh rasa aman merupakan hak dasar setiap manusia. Warga sipil yang sedang bekerja mencari nafkah tidak seharusnya menjadi korban kekerasan bersenjata.
Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan mampu melakukan langkah terukur untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat sekaligus memastikan setiap tindakan kekerasan terhadap warga sipil diproses berdasarkan hukum.
Di sisi lain, penanganan keamanan di wilayah konflik perlu tetap memperhatikan prinsip perlindungan masyarakat sipil dan ketentuan hukum yang berlaku.
Peristiwa Aris Sanda juga menjadi pengingat bahwa persoalan Papua bukan semata-mata mengenai keamanan dan politik, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia yang setiap hari berusaha menjalani kehidupan dan mencari nafkah.
Keluarga Aris kini harus menerima kenyataan bahwa perjalanan mencari nafkah yang dijalani seperti biasa berubah menjadi perjalanan terakhirnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: sampai kapan warga sipil harus hidup dalam bayang-bayang kekerasan?
Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh perlindungan, sementara seluruh pihak yang terlibat dalam konflik harus menghormati kehidupan dan keselamatan warga sipil.
Tidak boleh ada pembenaran terhadap kekerasan yang menempatkan masyarakat biasa sebagai korban.
Semoga almarhum Aris Sanda mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
KRIMSUS86.COM — Tegas, Lugas, Terpercaya






