SINTANG, KRIMSUS86.COM — 18 Agustus 2026 — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi refleksi bagi masyarakat di berbagai pelosok negeri. Namun, bagi warga Desa Tapang Menua dan masyarakat yang bermukim sepanjang jalur Sungai Kayan, makna kemerdekaan masih dirasakan belum sepenuhnya hadir dalam bentuk pemerataan pembangunan dan infrastruktur dasar.
Hingga saat ini, masyarakat setempat masih menghadapi keterbatasan akses transportasi, khususnya belum tersedianya jalan penghubung yang memadai dari wilayah mereka menuju Kecamatan Kayan Hilir.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu kendala utama bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk mengakses pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, maupun kegiatan ekonomi.
Keterbatasan infrastruktur juga dinilai berpotensi memperlambat perkembangan wilayah serta memperlebar kesenjangan pembangunan antara masyarakat di jalur Sungai Kayan dengan wilayah lainnya.
Hendrikus Tingang, putra daerah asli jalur Kayan, menyampaikan aspirasi dan keprihatinan masyarakat terkait kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan jalan bukan hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Sudah 81 tahun kita merdeka, namun warga Desa Tapang Menua dan sepanjang jalur Sungai Kayan belum merasakan arti kemerdekaan dalam pemerataan pembangunan. Sangat memprihatinkan bahwa sampai saat ini belum ada jalan yang menghubungkan kami menuju Kecamatan Kayan Hilir,” ujar Hendrikus Tingang.
Ia berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang bersama DPRD Kabupaten Sintang dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi masyarakat di sepanjang jalur Sungai Kayan.
“Kami berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang beserta segenap anggota DPRD dapat melihat dan mendengar langsung penderitaan rakyat di jalur Sungai Kayan ini. Jangan biarkan kami tertinggal dan terasing di tanah sendiri,” tegasnya.
Menurut Hendrikus, pembangunan akses jalan yang menghubungkan wilayah masyarakat dengan pusat kecamatan sangat dibutuhkan untuk membuka keterisolasian serta meningkatkan mobilitas warga.
Ia juga meminta agar aspirasi masyarakat tersebut dapat menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan daerah, sehingga pembangunan infrastruktur tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, tetapi benar-benar menjangkau masyarakat hingga pelosok.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat melakukan peninjauan langsung ke wilayah Desa Tapang Menua dan sepanjang jalur Sungai Kayan guna melihat kondisi yang dihadapi warga sekaligus menyusun langkah konkret pembangunan akses jalan.
Pemerataan pembangunan, khususnya infrastruktur dasar, diharapkan dapat menjadi bagian nyata dari implementasi semangat kemerdekaan. Dengan adanya akses jalan yang layak, masyarakat di jalur Sungai Kayan diharapkan dapat lebih mudah memperoleh pelayanan publik, mengembangkan perekonomian, serta meningkatkan kualitas kehidupan.
(Hendrikus Tingang)






