MALUKU UTARA | Krimsus86.com — Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, keresahan mengenai kesejahteraan masyarakat dan keterlibatan anak negeri dalam pengelolaan potensi sumber daya alam kembali menjadi perhatian.
Kaperwil KRIMSUS86 Maluku Utara, Mirwan Taher, menyampaikan pandangannya bahwa kemerdekaan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan secara simbolik, tetapi juga harus dirasakan masyarakat melalui kesempatan kerja, kehidupan yang layak, perlindungan lingkungan, serta keadilan dalam pengelolaan kekayaan alam.
Maluku Utara dikenal memiliki kekayaan alam yang besar. Gunung-gunung menyimpan mineral, laut terbentang luas, dan berbagai potensi ekonomi terus berkembang, termasuk aktivitas pertambangan dan hilirisasi.
Namun, menurut Mirwan, kemajuan tersebut hendaknya berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Mengapa negeri yang begitu kaya masih membuat rakyatnya hidup dalam kesusahan?” menjadi salah satu pertanyaan yang menurutnya patut direnungkan bersama pada momentum HUT RI ke-81.
Ia menilai masih banyak anak daerah yang telah menyelesaikan pendidikan dan membawa ijazah serta harapan, tetapi harus mencari pekerjaan hingga ke luar daerah. Sebagian lainnya terpaksa menerima pekerjaan apa pun karena terbatasnya kesempatan di tanah kelahiran sendiri.
“Ini bukan soal iri kepada investor. Bukan pula soal membenci perusahaan. Kami sadar investasi dibutuhkan. Kami tahu perusahaan datang membawa modal dan membuka kegiatan ekonomi. Tetapi kami juga ingin bertanya dengan hati yang jujur: di mana posisi rakyat Maluku Utara dalam semua kemajuan itu?” ujarnya.
Mirwan menegaskan, masyarakat tidak menolak investasi. Sebaliknya, investasi diharapkan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat lokal melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan yang berkelanjutan.
Ia mengingatkan agar masyarakat Maluku Utara jangan sampai hanya menjadi penonton di tengah pesatnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di daerahnya sendiri.
“Seharusnya kami menjadi tuan di negeri kami sendiri, bukan merasa seperti budak di negeri sendiri. Kalimat ini mungkin terdengar keras, tetapi di baliknya ada kesedihan, kekecewaan, dan harapan seorang ibu yang ingin anaknya bekerja serta seorang ayah yang ingin melihat anaknya memiliki masa depan,” katanya.
Pemerintah Diminta Hadir untuk Rakyat
Kepada pemerintah, Mirwan berharap kebijakan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi, produksi mineral, maupun penerimaan negara dan daerah.
Menurutnya, indikator keberhasilan pembangunan juga harus melihat kondisi masyarakat, termasuk jumlah anak daerah yang memperoleh pekerjaan, tingkat kesejahteraan keluarga, serta sejauh mana masyarakat lokal mendapatkan manfaat dari pengelolaan sumber daya alam.
“Jangan hanya menghitung berapa banyak investasi yang masuk, berapa banyak mineral yang diproduksi, dan berapa besar penerimaan negara. Hitung juga berapa banyak anak Maluku Utara yang belum mendapatkan pekerjaan dan berapa banyak harapan rakyat yang belum terwujud,” tegasnya.
Sementara kepada para investor, ia menyampaikan bahwa masyarakat Maluku Utara pada prinsipnya terbuka terhadap investasi yang membawa kemajuan.
“Silakan datang. Bangunlah negeri ini. Ciptakan lapangan pekerjaan. Kembangkan industri. Tetapi jangan pernah lupa bahwa di balik tanah yang menjadi tempat investasi berdiri, ada masyarakat yang memiliki sejarah, adat, dan kehidupan,” tuturnya.
Menurut Mirwan, keberadaan investasi hendaknya tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meninggalkan warisan kesejahteraan bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Kemerdekaan Harus Dirasakan Masyarakat
Pada momentum HUT RI ke-81, Mirwan berharap kemerdekaan benar-benar dirasakan hingga pelosok Maluku Utara.
Kemerdekaan, menurutnya, harus diwujudkan dalam bentuk kesempatan kerja bagi anak negeri, kehidupan yang layak bagi keluarga, perlindungan terhadap tanah dan lingkungan, keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat yang telah lama hidup di tanah tersebut.
“Maluku Utara bukan sekadar wilayah yang kaya mineral. Maluku Utara adalah rumah kami. Zajira Maluku Kie Raha bukan sekadar nama yang indah dalam sejarah. Ia adalah tanah tempat leluhur kami berpijak dan tempat kami menitipkan masa depan anak cucu,” ujarnya.
Ia berharap pembangunan di Maluku Utara tidak membuat masyarakat lokal merasa menjadi tamu di rumah sendiri.
“Kami ingin menjadi bagian dari masa depan Maluku Utara. Bukan sekadar penonton, bukan hanya pekerja ketika dibutuhkan, tetapi menjadi bagian penting dari pembangunan dan kesejahteraan daerah,” pungkas Mirwan.
Ia menutup refleksinya dengan pesan bahwa kemerdekaan harus membawa martabat bagi seluruh rakyat.
“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka untuk rakyat. Merdeka untuk Maluku Utara. Semoga kekayaan negeri ini akhirnya menjadi jalan menuju kesejahteraan rakyatnya.”
(Mirwan Taher//red)






