AMBON, KRIMSUS86.COM — Dampak kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dua gelombang terhadap keberlangsungan sekolah swasta kembali menjadi sorotan. Kepala salah satu sekolah swasta berbasis Islam di Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Sitti Marasabessy, menilai kebijakan tersebut turut berkontribusi terhadap menurunnya jumlah peserta didik dalam dua tahun terakhir.
Sitti Marasabessy mengatakan, pada tahun ajaran 2025–2026, pihaknya meluluskan sebanyak 21 siswa dengan tingkat kelulusan mencapai 100 persen. Namun, jumlah peserta didik baru yang diterima pada tahun ajaran berikutnya hanya mencapai 22 orang.
“Di tahun ajaran 2025–2026 ini, siswa yang lulus berjumlah 21 orang. Alhamdulillah 100 persen lulus ujian. Sementara untuk penerimaan siswa baru tahun ini hanya 22 orang,” ujarnya.
Menurutnya, proses pendaftaran peserta didik baru dilakukan melalui tautan yang diusulkan oleh Dinas Pendidikan, selain pendaftaran langsung ke sekolah.
Saat ini, sekolah tersebut memiliki tujuh rombongan belajar (rombel). Namun, masing-masing tingkat kelas hanya terisi satu rombel, yakni Kelas X, XI, dan XII.
“Kami punya tujuh rombel. Sekarang terisi Kelas 10 satu rombel, Kelas 11 satu rombel, dan Kelas 12 satu rombel. Dengan rombel sebanyak itu tetapi jumlah siswa sedikit, sangat berdampak pada keberlangsungan sekolah,” katanya.
Marasabessy menjelaskan, sekolah swasta juga memiliki tenaga pendidik yang telah bersertifikasi dan wajib memenuhi beban kerja mengajar. Penurunan jumlah siswa secara terus-menerus dinilai dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan pemenuhan beban mengajar para guru.
Ia menyebutkan, pada tahun ajaran 2023–2024, sekolahnya masih mampu meluluskan sebanyak 43 siswa. Namun, dalam dua tahun terakhir, jumlah siswa mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Di tahun 2023–2024 kami masih bisa meluluskan 43 siswa. Dua tahun belakangan ini siswa kami menurun sekali. Ini sangat berdampak untuk guru-guru sertifikasi,” ungkapnya.
Selain penurunan jumlah siswa, Marasabessy juga menyoroti pembukaan PPDB tahap kedua di sejumlah sekolah negeri yang menurutnya dilakukan secara tiba-tiba dan minim sosialisasi.
“Awalnya kami pikir hanya buka satu gelombang. Tiba-tiba ada gelombang kedua untuk beberapa sekolah. Ini berdampak ke kami,” jelasnya.
Ia mencontohkan, terdapat tiga calon siswa yang sebelumnya telah mendaftar melalui tautan sekolah dan dinyatakan lulus. Namun, saat proses konfirmasi registrasi, ketiga siswa tersebut menyampaikan telah diterima di salah satu SMA negeri melalui PPDB tahap kedua.
“Ada tiga siswa yang sudah daftar di link sekolah kami dan sudah kami nyatakan lulus. Tetapi saat konfirmasi registrasi, mereka bilang sudah lulus di SMA 2 tahap 2. Akhirnya mereka tidak jadi ke sini,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, menurut Marasabessy, semakin memperberat tantangan sekolah swasta dalam mempertahankan jumlah peserta didik. Padahal, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat, termasuk melaksanakan sosialisasi langsung dan program jemput siswa di sejumlah wilayah.
Sebagai salah satu sekolah swasta berbasis Islam di wilayah Nusaniwe, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke masyarakat di kawasan Waihang, Jalan Baru, Waringin, hingga Slamet.
“Kami sudah berupaya jemput bola dengan melakukan sosialisasi langsung ke warga. Harapan kami tahun ini bisa mendapatkan dua rombel,” ujarnya.
Ia menegaskan, sekolah swasta memiliki kesiapan dalam mendidik generasi bangsa, dengan mata pelajaran yang sesuai, serta didukung tenaga pendidik yang lengkap dan bersertifikasi.
“Mapel sama, guru juga lengkap dan bersertifikasi. Kami siap mendidik anak bangsa,” katanya.
Marasabessy berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah swasta dan menciptakan pemerataan antara sekolah negeri dan swasta. Ia juga meminta agar pelaksanaan penerimaan peserta didik baru mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk aturan dalam Permendikdasmen, sehingga tidak terjadi pembukaan gelombang susulan yang dinilai dapat merugikan sekolah swasta.
“Kami minta pemerintah melihat kondisi sekolah swasta yang jumlah siswanya menurun. Bukan hanya kami, tetapi juga sekolah Muhammadiyah lainnya yang total siswanya hanya sekitar 70 orang,” pungkasnya.
Pewarta: Erwin B. Ollong






