H. Endang Sodikin Sebut Antusiasme Warga di Kirab Binokasih Jadi Bukti Kuatnya Cinta Budaya Sunda

Krimsus86.com/Karawang, _
Lautan Manusia Sambut Mahkota Binokasih di Karawang, Semangat Sunda Bergema di Jalanan Kota
Ribuan warga tumpah ruah memenuhi ruas-ruas jalan utama Kabupaten Karawang dalam gelaran Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang berlangsung penuh khidmat dan kemeriahan, Minggu.

Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai penjuru sudah memadati jalur kirab mulai dari Jalan Arif Rahman Hakim hingga pelataran Masjid Agung Karawang demi menyaksikan momen bersejarah kedatangan Mahkota Binokasih.
Suasana berubah menjadi lautan manusia. Warga berdesakan di sepanjang jalan, berdiri berjam-jam tanpa menghiraukan panas dan lelah. Antusiasme yang begitu besar membuat laju rombongan kirab bergerak sangat perlahan. Namun di tengah kepadatan itu, tersimpan rasa bangga dan haru yang sulit disembunyikan.

Berita Lainnya

Mahkota Binokasih, simbol sakral peninggalan Kerajaan Pajajaran yang sarat nilai sejarah dan filosofi budaya Sunda, seolah menjadi magnet yang membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat akan kejayaan dan jati diri tanah Sunda.

Ketua DPRD Kabupaten Karawang, H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.
, turut hadir langsung dalam kirab budaya tersebut. Ia mengaku terharu melihat begitu besarnya kecintaan masyarakat Karawang terhadap warisan budaya leluhur.

“Kerumunan warga yang begitu padat sampai sulit berjalan kaki menjadi bukti bahwa masyarakat Karawang masih sangat mencintai budaya dan sejarah leluhurnya,” ujarnya usai kegiatan.

Menurutnya, kehadiran Mahkota Binokasih di Karawang bukan sekadar seremoni budaya biasa. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan para karuhun Sunda kepada generasi hari ini.
Ia menuturkan, Mahkota Binokasih bukan hanya lambang kebesaran Kerajaan Pajajaran, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kepemimpinan, pengabdian, dan kasih sayang seorang pemimpin terhadap rakyatnya.

“Mahkota ini memiliki makna filosofi kaitan dengan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Di dalamnya ada nilai kemuliaan dan dedikasi,” katanya.

Di tengah gegap gempita kirab budaya, H. Endang juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai luhur Tri Tangtu yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Sunda. Filosofi Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh, menurutnya, harus terus hidup dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Sebagai orang Sunda, kita harus mampu memetik pesan Tri Tangtu. Bagaimana Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh tercermin dalam setiap ucapan maupun perbuatan,” lanjutnya.

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda pun dinilai menjadi langkah nyata dalam menjaga dan memajukan kebudayaan daerah, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam kesempatan itu, H. Endang juga menyinggung eratnya hubungan sejarah antara Karawang dengan Kerajaan Pajajaran. Salah satu jejak penting sejarah tersebut hadir melalui sosok yang dikenal memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah Sunda dan penyebaran Islam di Jawa Barat.

“Sejarah mencatat bagaimana Nyi Subang Larang menuntut ilmu kepada Syekh Quro hingga menemukan jodohnya di Karawang. Hubungan sejarah itulah yang melahirkan momentum kedatangan Mahkota Binokasih hari ini,” jelasnya.

Kirab budaya itu bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga ruang perenungan tentang identitas, sejarah, dan warisan leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat Karawang. Di bawah kibaran semangat Sunda, ribuan warga seakan dipersatukan oleh satu rasa yang sama: cinta terhadap budaya dan tanah leluhur mereka.

(Red)*

Pos terkait