Dedi Mulyadi Siapkan Jalan Tuparev Jadi Kawasan Kota Tua Penuh Kenangan

Krimsus86.com/Karawang, _
Lautan manusia memenuhi jalanan Karawang pada Sabtu malam (9/5/2026). Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda hingga Alun-alun Masjid Agung Karawang untuk menyaksikan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Mahkota Binokasih yang berlangsung megah dan penuh haru.

Di tengah gemerlap budaya Sunda dan iring-iringan para ksatria berkuda, Gubernur Jawa Barat, , menyampaikan pesan yang tak sekadar soal perayaan budaya. Ia membawa mimpi besar tentang wajah baru Karawang—kota yang bukan hanya maju secara pembangunan, tetapi juga hidup dengan identitas sejarah dan rasa cinta terhadap budayanya sendiri.

Berita Lainnya

Dengan menggunakan bahasa Sunda yang hangat dan menyentuh, Dedi menyebut malam kirab budaya di Karawang sebagai salah satu malam paling meriah yang pernah ia saksikan. Sorak masyarakat, padatnya kerumunan warga, hingga antusiasme yang tak surut sejak sore menjadi bukti bahwa budaya masih hidup di hati masyarakat Karawang.

“Malam ini Karawang luar biasa ramai. Tapi yang paling penting bukan hanya ramainya, melainkan isi dari kegiatan ini, yaitu mengembalikan rasa cinta dan kasih sayang. Mustika Binokasih hadir di Karawang membawa semangat cinta dan sejarah panjang Tatar Sunda,” ujar Dedi disambut tepuk tangan warga.

Di balik kemeriahan kirab budaya, Dedi mengungkap rencana besar yang langsung menyita perhatian masyarakat. Ia menyatakan akan menata kawasan Jalan Tuparev menjadi kawasan Kota Tua Karawang—sebuah ruang kota yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat nilai sejarah dan romantisme budaya Sunda.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Karawang akan membangun konsep “Pelataran Cinta”, yang membentang dari kawasan stasiun hingga Alun-alun Karawang. Jalan Tuparev nantinya akan dipercantik dengan penataan kabel listrik bawah tanah dan penyeragaman tampilan pertokoan agar memiliki nuansa klasik dan tertata rapi.

“Kita tata kotanya supaya menjadi kenangan cinta yang indah. Bukan hanya kirab budaya, tapi bagaimana Karawang menjadi kota yang nyaman, bersih, dan memiliki identitas budaya,” katanya.

Ucapan itu langsung memantik harapan baru bagi masyarakat. Di tengah pesatnya pembangunan dan hiruk-pikuk industri, Karawang dinilai mulai kehilangan wajah lamanya. Kini, lewat konsep kota tua yang diusung Dedi, masyarakat berharap Karawang kembali memiliki ruh budaya yang kuat dan menjadi kota yang membanggakan.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri berlangsung khidmat dan penuh simbol sejarah. turut mendampingi Dedi Mulyadi menunggang kuda bersama barisan ksatria dan rombongan budaya dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Tabuhan musik tradisional Sunda, kostum adat, hingga iring-iringan seniman dan budayawan menciptakan suasana yang begitu emosional. Warga dari berbagai usia tampak rela berdesakan demi menyaksikan langsung perjalanan Mahkota Binokasih yang diyakini membawa pesan kasih sayang dan persatuan masyarakat Sunda.
Bupati Aep Syaepuloh mengaku bangga dan bersyukur Karawang menjadi salah satu daerah yang disinggahi dalam rangkaian kirab budaya tersebut.

“Hari ini menjadi kebahagiaan bagi masyarakat Karawang karena Mahkota Binokasih sudah sampai di Karawang,” ujar Aep.

Ia menegaskan bahwa Kirab Mahkota Binokasih bukan sekadar seremoni budaya, melainkan pengingat bahwa pemimpin harus hadir dan menyayangi rakyatnya.

“Binokasih memiliki makna kasih sayang, dan kasih sayang itu harus diberikan kepada seluruh masyarakat,” katanya.

Meski acara sempat menyebabkan kemacetan panjang di sejumlah ruas jalan, Dedi Mulyadi tetap menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia juga memberikan apresiasi kepada aparat keamanan dan warga Karawang yang tetap menjaga suasana kondusif sepanjang acara berlangsung.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi langkah untuk menghadirkan masyarakat yang raharja, masyarakat yang sejahtera,” tutupnya.

Diketahui, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Mahkota Binokasih merupakan rangkaian budaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dimulai sejak 2 Mei 2026. Tradisi ini berasal dari Keraton Sumedang Larang dan telah melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat sebelum nantinya berakhir di Gedung Sate, Bandung, pada 17 Mei 2026.

(Red)*

Pos terkait