Tumpukan Sampah di TNGGP Makin Mengkhawatirkan, Aktivis Putri Nabila Damayanti, S.H. Angkat Suara

Jakarta sabtu 31 januari 2026 – krimsus86.com – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang ditetapkan pada tahun 1980. Berada di Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah mencapai 24.270,80 hektare, kawasan ini mencakup Gunung Gede dan Gunung Pangrango beserta hutan pegunungan di sekitarnya, yang berfungsi sebagai kawasan konservasi ekosistem dan flora pegunungan.

Namun, kondisi TNGGP saat ini dinilai semakin memprihatinkan. Aktivis dan Pengamat Lingkungan, Putri Nabila Damayanti, S.H., menyuarakan keprihatinannya terhadap meningkatnya tumpukan sampah di kawasan konservasi tersebut, khususnya di jalur pendakian dan kawasan Suryakencana.

Berita Lainnya

“Sebagai seorang pemerhati lingkungan, hati saya selalu bergejolak setiap kali menginjakkan kaki di wilayah TNGGP. Bukan perihal keindahannya, melainkan kabar yang saya bawa kali ini bukanlah tentang mekarnya Edelweiss, melainkan tentang ‘monumen’ plastik yang kian meninggi di wilayah konservasi,” ungkap Putri kepada awak media, Jumat (30/01/2026) di Jakarta.

Menurut Putri, Gunung Gede yang seharusnya menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa Barat, kini justru menghadapi krisis serius. Jalur pendakian yang ikonik perlahan berubah menyerupai tempat pembuangan akhir (TPA) tak terkelola, akibat minimnya pengawasan dan rendahnya kesadaran kolektif.

“Suryakencana yang selama ini diagungkan sebagai salah satu sabana tercantik di Indonesia kini ternodai oleh sampah plastik, kaleng bekas logistik, hingga sisa kain yang ditinggalkan pendaki. Meski aturan ‘bawa turun sampahmu’ telah lama digaungkan, realitas di lapangan menunjukkan kegagalan sistemik dalam pengawasan dan edukasi. Ini bukan semata kesalahan pendaki,” tegas Putri yang saat ini aktif di PP AMPG.

Ia juga menekankan bahwa persoalan sampah di TNGGP bukan hanya soal estetika, melainkan ancaman serius terhadap lingkungan. Sampah plastik yang tertimbun di tanah pegunungan dapat merusak sistem infiltrasi air serta membahayakan satwa liar yang berpotensi mengonsumsi sisa makanan maupun plastik.

“Jika dibiarkan, Gunung Gede akan kehilangan daya tarik alaminya dan berubah menjadi ‘gunung sampah’ dalam hitungan tahun,” tambahnya.

Putri mengingatkan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak alam.

“Kita bukan generasi yang mewarisi alam dari nenek moyang, melainkan generasi yang meminjamnya dari anak cucu kita. Jangan mengembalikannya dalam keadaan hancur,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Putri Nabila Damayanti, S.H. mendesak otoritas TNGGP untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem perizinan pendakian dan pengelolaan sampah, serta memperkuat pengawasan di lapangan.

“Kita membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar spanduk imbauan,” pungkasnya.

Reporter: DC

Editor: Tim krimsus86.com

Pos terkait