LAMPUNG SELATAN — KRIMSUS86.COM — Sebanyak 11 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif, Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan dari Dapur SPPG 03 Pematang Pasir.
Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, di antaranya mual, muntah-muntah, dan sakit atau mulas pada bagian perut. Sebagian siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Ketapang dan fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis.
Keterangan tersebut disampaikan Khoirudin, pihak sekolah, yang mengatakan keluhan mulai muncul setelah para siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Setelah jam istirahat berakhir, para siswa kembali masuk kelas. Sekitar satu setengah jam kemudian, sejumlah anak mulai mengeluh sakit perut dan mual. Saya segera mengonfirmasi hal ini kepada pihak SPPG,” ujar Khoirudin.
Menurutnya, pada awal kejadian terdapat empat siswa yang mengeluhkan mulas dan mual sehingga dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Ketapang. Sekitar setengah jam kemudian, pihak sekolah kembali menerima laporan adanya siswa lain dengan keluhan serupa.
“Empat siswa kemudian mengalami keluhan yang sama, disusul tiga siswa lainnya. Total ada 11 siswa yang mendapat penanganan,” lanjutnya.
Khoirudin menyebut kejadian tersebut merupakan pertama kalinya terjadi di sekolah. Dari sekitar 80 siswa yang menerima program MBG, sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan pada waktu yang berdekatan.
Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, dr. Sutji Mendrofa, membenarkan adanya siswa yang datang untuk mendapatkan penanganan medis.
“Sekitar pukul 12.00 siang, ada empat anak dibawa ke UGD Puskesmas Rawat Inap Ketapang dengan keluhan utama muntah-muntah setelah menyantap makanan program MBG di sekolah,” kata Sutji.
Para siswa yang datang ke fasilitas kesehatan kemudian mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing, termasuk pemberian obat anti-mual dan pemantauan.
“Dari lima siswa yang semula dirawat, empat orang telah diperbolehkan pulang dan satu orang harus menjalani perawatan inap,” jelasnya.
Namun demikian, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Dugaan keterkaitan dengan makanan MBG belum dapat disebut sebagai fakta hukum maupun kesimpulan medis sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang berwenang.
Kondisi Dapur SPPG 03 Pematang Pasir juga menjadi perhatian dan dinilai perlu mendapatkan evaluasi menyeluruh, terutama berkaitan dengan standar kebersihan, pengolahan, penyimpanan, distribusi makanan, serta kelayakan fasilitas.
Apabila ditemukan pelanggaran terhadap standar keamanan pangan atau ketentuan penyelenggaraan program MBG, pihak berwenang diharapkan mengambil langkah sesuai aturan, termasuk melakukan pembinaan, penghentian sementara operasional, atau tindakan lain berdasarkan hasil pemeriksaan.
Peristiwa ini juga diharapkan menjadi perhatian serius bagi pengelola SPPG dan instansi terkait agar kualitas serta keamanan makanan yang diberikan kepada peserta didik dapat benar-benar terjamin.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan, kondisi lingkungan dapur, serta keterangan dari pihak sekolah, siswa, pengelola SPPG dan tenaga medis penting dilakukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
(M. Dahlan//Red)






