DARI TIDORE KE AFRIKA SELATAN, UNIVERSITAS NUKU TELUSURI JEJAK TUAN GURU

TIDORE KEPULAUAN, KRIMSUS86.COM — Universitas Nuku menggelar Indonesia–South Africa Heritage Dialogue: Tracing the Legacy of Tuan Guru di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian International Forum on Social Research (IFSR) 2026 sekaligus memperingati 25 tahun Dies Natalis Universitas Nuku.

Forum menghadirkan akademisi, peneliti, tokoh agama, dan pemerhati sejarah, di antaranya Maulana Ibrahim, Ph.D.; Dr. Yanuardi Sukur, M.Si.; Prof. Dr. Muhamed Haron; Shaykh Muttakin Rakib; Nursakina Husen, S.Pd., M.Pd.; Drs. Nani Jafar, M.A.; Shafiq Morton; serta Hi. M. Amiin Faroek, S.IP.

Berita Lainnya

Tema Tracing the Legacy of Tuan Guru menjadi ruang akademik untuk menelusuri kembali jejak sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, khususnya terkait perjalanan pengetahuan, tradisi keagamaan, serta warisan intelektual yang berkembang dan melintasi batas geografis maupun generasi.

Nuku, Inovasi Kepulauan Berdampak Mendunia

Penyelenggaraan dialog internasional tersebut sejalan dengan gagasan “Nuku, Inovasi Kepulauan Berdampak Mendunia.” Melalui forum ini, Universitas Nuku berupaya membawa isu, sejarah, dan perspektif dari kawasan kepulauan ke dalam ruang dialog akademik yang memiliki jangkauan internasional.

Tidore tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan pertukaran pengetahuan.

Melalui pertemuan akademik tersebut, perspektif lokal dipertemukan dengan jejaring keilmuan internasional. Jejak sejarah Tuan Guru menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat bagaimana perjalanan manusia, gagasan, dan pengetahuan dapat membentuk hubungan lintas wilayah.

Dari Tidore Membuka Ruang Dialog Dunia

Momentum IFSR 2026 dan peringatan 25 tahun Dies Natalis Universitas Nuku menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas perguruan tinggi kepulauan yang tetap terhubung dengan dinamika global.

Dialog mengenai Tuan Guru juga membuka ruang bagi pengkajian warisan sejarah Indonesia–Afrika Selatan melalui pendekatan akademik dan lintas disiplin. Sejarah dan kebudayaan yang berkembang di wilayah kepulauan dapat menjadi bagian dari diskursus yang lebih luas ketika dikaji, didokumentasikan, dan didialogkan dalam forum internasional.

Gagasan “Nuku, Inovasi Kepulauan Berdampak Mendunia” dalam konteks tersebut menjadi narasi yang mengiringi upaya Universitas Nuku mempertemukan sejarah lokal dengan percakapan akademik global.

Forum ini menunjukkan bahwa pengetahuan, sejarah, dan pengalaman masyarakat kepulauan memiliki ruang untuk dikembangkan dalam jejaring internasional. Dari Tidore, dialog mengenai warisan Tuan Guru menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tentang hubungan Indonesia dan Afrika Selatan.

(Mirwan Taher//red)

Pos terkait