BUOL, KRIMSUS86.COM — 30 Agustus 2026 — Sebanyak 49 hari pascagempa yang mengguncang Kabupaten Buol pada 12 Juli 2026, pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Mokoyurli hingga kini dilaporkan belum kembali beroperasi di gedung utama.
Pelayanan gawat darurat sementara masih dilakukan di lokasi alternatif di bagian belakang rumah sakit. Dalam kondisi tertentu, sebagian pasien juga harus menunggu dan mendapatkan pelayanan dengan dukungan fasilitas sementara, termasuk tenda darurat.
Kondisi tersebut mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan kepastian waktu penyelesaian perbaikan serta kapan UGD dapat kembali menempati gedung utama seperti sebelumnya.
Gempa yang terjadi pada malam 12 Juli 2026 membuat masyarakat Kabupaten Buol sempat panik. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap bangunan, sejumlah bagian di area UGD gedung utama dilaporkan mengalami kerusakan, di antaranya pada bagian dinding, plafon, serta instalasi listrik.
Demi menjaga keselamatan pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan, pelayanan UGD kemudian dipindahkan ke lokasi sementara di area belakang rumah sakit.
Pada awal proses pemindahan, perbaikan gedung disebut diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu dekat dan UGD ditargetkan kembali dapat digunakan pada awal Agustus 2026. Namun, hingga memasuki 30 Agustus 2026, target tersebut belum terealisasi.
Pelayanan UGD masih berlangsung di lokasi sementara, sementara kepastian mengenai kapan gedung utama dapat kembali digunakan belum diketahui secara terbuka oleh masyarakat.
Kapasitas Terbatas Mulai Dikeluhkan
Persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan. Pemindahan pelayanan UGD ke lokasi sementara juga dinilai mulai berdampak terhadap kenyamanan pasien dan keluarga.
Pasien yang membutuhkan pelayanan gawat darurat terus berdatangan, sedangkan ruang pelayanan sementara memiliki keterbatasan kapasitas. Dalam kondisi tertentu, pasien maupun keluarga pasien dilaporkan harus menunggu di luar ruangan atau di area tenda.
Seorang warga yang mendampingi keluarganya menjalani perawatan berharap pemerintah dan pihak rumah sakit dapat segera memberikan kepastian.
“Sudah sekitar 49 hari. Kami berharap ada kepastian. Pasien makin banyak, kadang harus antre di luar tenda. Privasi juga terganggu. Apalagi pasien anak-anak dan lansia, tentu sangat tidak nyaman,” ujarnya.
Warga menilai kondisi pelayanan sementara tersebut perlu segera mendapat perhatian serius, mengingat UGD merupakan salah satu pintu utama pelayanan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat, ruang yang aman, kondisi higienis, serta alur pelayanan yang tertata.
Penggunaan fasilitas sementara dalam jangka waktu yang terlalu lama dinilai bukan merupakan solusi ideal, terutama ketika jumlah pasien terus meningkat.
Selain persoalan kenyamanan, keterbatasan ruang juga dikhawatirkan dapat memengaruhi penataan peralatan medis, mobilitas petugas kesehatan, serta pengaturan pasien dalam kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan cepat.
Risiko Gempa Susulan Turut Menjadi Perhatian
Buol merupakan salah satu wilayah yang memiliki aktivitas kegempaan. Karena itu, masyarakat juga berharap aspek keselamatan dan kelayakan bangunan rumah sakit menjadi perhatian utama sebelum pelayanan UGD dikembalikan ke gedung utama.
Di sisi lain, pelayanan di lokasi sementara juga menghadapi berbagai keterbatasan. Peralatan gawat darurat harus ditempatkan dalam ruang yang lebih terbatas dibandingkan gedung utama.
Pengaturan mobilitas pasien, tenaga kesehatan, dan keluarga pasien juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan manajemen rumah sakit dapat memastikan seluruh fasilitas pelayanan tetap memenuhi aspek keselamatan dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan keadaan darurat lainnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul di tengah masyarakat adalah, sampai kapan pelayanan gawat darurat akan terus dilakukan dalam kondisi sementara.
Pemerintah Diminta Memberikan Penjelasan Terbuka
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi terbaru yang menjelaskan secara rinci perkembangan perbaikan gedung UGD RSUD Mokoyurli serta jadwal pasti pengembalian pelayanan ke gedung utama.
Oleh karena itu, masyarakat meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Buol, pemerintah daerah, dan manajemen RSUD Mokoyurli dapat memberikan informasi yang jelas dan terbuka kepada publik.
Apabila masih terdapat kendala teknis dalam proses perbaikan, masyarakat berharap hal tersebut dapat dijelaskan. Demikian pula apabila terdapat persoalan anggaran atau kendala administratif, warga meminta adanya penjelasan mengenai langkah konkret yang sedang dan akan dilakukan pemerintah untuk mempercepat penyelesaiannya.
Sebab, menurut masyarakat, pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat dibiarkan berada dalam kondisi sementara tanpa kepastian dalam waktu yang berkepanjangan.
“UGD itu pintu pertama pertolongan. Jangan sampai keterlambatan perbaikan justru menghambat pelayanan bagi kami warga Buol,” ujar warga lainnya.
Kini, perhatian masyarakat bukan hanya tertuju pada pertanyaan kapan gedung UGD diperbaiki, tetapi juga sampai kapan pasien harus menerima pelayanan dalam kondisi fasilitas sementara.
KRIMSUS86.COM akan terus membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada Pemerintah Kabupaten Buol, Dinas Kesehatan Kabupaten Buol, serta manajemen RSUD Mokoyurli terkait perkembangan perbaikan gedung dan kepastian pengembalian pelayanan UGD ke gedung utama.
(Safri//red)






