MUSI BANYUASIN, KRIMSUS86.COM — Sorotan tajam terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin kembali mencuat. ABS Jelata mempertanyakan kesenjangan antara besarnya potensi sumber daya alam dan aktivitas investasi dengan kondisi sebagian masyarakat yang masih menghadapi tekanan ekonomi.
Menurut data yang tercantum dalam infografis Daftar Seluruh Perusahaan di Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2026, sedikitnya terdapat 1.562 perusahaan dari berbagai sektor yang tercatat beroperasi atau terdaftar di Kabupaten Musi Banyuasin.
Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di berbagai bidang, mulai dari perkebunan, pertambangan, minyak dan gas bumi, konstruksi dan real estat, perdagangan, industri, transportasi, jasa hingga sektor usaha lainnya.
Menanggapi kondisi tersebut, ABS Jelata menyampaikan kritik keras dan meminta agar seluruh pemangku kepentingan melakukan evaluasi serius terhadap sejauh mana kekayaan daerah dan aktivitas investasi telah memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Bohong besar kalau kekayaan alam Muba disebut tidak mampu menyejahterakan rakyatnya. Perusahaan begitu banyak, perkebunan luas, tambang ada, migas ada, industri dan perdagangan juga ada. Tapi kalau masyarakat masih banyak yang hidup susah dan berada dalam tekanan ekonomi, maka ada yang harus dievaluasi secara serius,” tegas ABS Jelata.
Menurutnya, keberadaan perusahaan dan investasi dalam jumlah besar seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi bagi korporasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Ia menilai, pertumbuhan investasi idealnya berbanding lurus dengan terbukanya lapangan pekerjaan, meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, bertambahnya pendapatan daerah serta terlaksananya program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
1.562 Perusahaan, Kesejahteraan Rakyat Dipertanyakan
ABS Jelata menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui sejauh mana aktivitas ekonomi dan investasi yang berlangsung di Musi Banyuasin telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka, kata dia, adalah apabila investasi terus tumbuh, jumlah perusahaan mencapai ribuan dan sumber daya alam terus dikelola, mengapa kesejahteraan masyarakat belum sepenuhnya berbanding lurus dengan besarnya aktivitas ekonomi tersebut?
Ia menegaskan persoalan kesejahteraan tidak cukup dijawab dengan slogan pembangunan maupun angka-angka pertumbuhan semata.
“Rakyat tidak bisa makan statistik. Rakyat membutuhkan pekerjaan, pendapatan, pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan, infrastruktur dan kehidupan yang layak. Jangan bicara pembangunan besar kalau masih ada masyarakat yang belum merasakan hasil pembangunan itu,” ujarnya.
Dorong Transparansi Data Investasi dan Kontribusi Perusahaan
Dalam pernyataannya, ABS Jelata juga mendorong pemerintah daerah, perusahaan dan pihak-pihak terkait untuk membuka data secara transparan kepada publik.
Menurutnya, sejumlah aspek penting perlu menjadi perhatian bersama, di antaranya kontribusi investasi terhadap daerah, penyerapan tenaga kerja lokal, realisasi program CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan, kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan serta dampak ekonomi perusahaan bagi masyarakat Musi Banyuasin.
Transparansi tersebut dinilai penting agar publik dapat mengetahui secara objektif sejauh mana keberadaan investasi dan perusahaan telah memberikan manfaat terhadap pembangunan daerah dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Jangan Sampai Rakyat Hanya Menjadi Penonton
Musi Banyuasin selama ini dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi besar di sektor perkebunan, minyak dan gas bumi serta berbagai sumber daya ekonomi lainnya.
Karena itu, ABS Jelata menilai sudah saatnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan serta pola hubungan antara investasi, pengelolaan sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai perusahaan tumbuh subur, investasi terus masuk, kekayaan alam terus dikelola, tetapi rakyat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ini persoalan serius yang harus dijawab dengan data dan tindakan nyata, bukan sekadar pidato,” katanya.
Menurut ABS Jelata, keberadaan 1.562 perusahaan sebagaimana data yang tercantum dalam infografis tersebut seharusnya dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah apabila seluruh aktivitas investasi mampu memberikan efek berganda bagi masyarakat.
Namun demikian, diperlukan kajian dan data yang transparan untuk menilai secara objektif kontribusi masing-masing sektor terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan daerah, pembangunan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.
Sorotan publik pun diarahkan kepada pertanyaan mendasar: apakah keberadaan ribuan perusahaan tersebut telah benar-benar menjadi mesin penggerak kesejahteraan rakyat Musi Banyuasin, atau masih terdapat persoalan dalam distribusi manfaat ekonomi yang perlu segera dibenahi?
ABS Jelata menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan jawaban yang dapat dibuktikan melalui data, kebijakan dan hasil nyata.
“Rakyat Muba membutuhkan bukti, bukan sekadar pencitraan dan janji. Daerah yang kaya sumber daya harus mampu menghadirkan kesejahteraan yang semakin nyata bagi masyarakatnya,” pungkasnya.
MUBA KAYA HARUS BERARTI RAKYATNYA SEJAHTERA.
(Enis//red)






