Profesor Sutan Nasomal Soroti Dampak Digitalisasi: “Jangan Sampai Teknologi Menggeser Peran Tuhan dalam Kehidupan”

JAKARTA, KRIMSUS86.COM — Perkembangan teknologi digital dinilai telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, digitalisasi memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi, mendukung pendidikan, kesehatan, pertanian, pembangunan hingga pertahanan. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa kontrol dinilai dapat membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosial, moral dan spiritual masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., pakar hukum internasional dan ekonom, saat memberikan pandangannya kepada sejumlah pemimpin redaksi media cetak online dan media luar negeri melalui sambungan telepon dari kantornya di kawasan Cijantung, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Berita Lainnya

Menurut Sutan Nasomal, masyarakat perlu memahami bahwa teknologi digital pada dasarnya merupakan alat yang dapat digunakan untuk tujuan positif maupun negatif.

“Kemajuan dunia teknologi tidak dapat dihindari dalam perkembangan zaman. Digitalisasi dapat membantu manusia dalam berbagai hal, tetapi masyarakat harus memahami sisi positif dan negatifnya,” ujarnya.

Ia kemudian melontarkan pernyataan keras mengenai perkembangan digitalisasi yang menurut pandangannya berpotensi dimanfaatkan oleh kekuatan global tertentu untuk memengaruhi kehidupan negara dan masyarakat.

“Digitalisasi adalah alat perang Zionis melumpuhkan negara bertuhan,” kata Sutan Nasomal.

Menurut dia, perkembangan teknologi digital telah menciptakan sistem informasi yang sangat luas. Data masyarakat, aktivitas ekonomi, komunikasi hingga berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari kini banyak tersimpan dan berlangsung melalui perangkat digital.

Ia menilai kondisi tersebut perlu diikuti dengan penguatan keamanan data nasional, kemandirian teknologi serta peningkatan literasi digital masyarakat.

Sutan Nasomal juga menyampaikan pandangannya mengenai apa yang disebutnya sebagai “elite global Zionis” dan kelompok-kelompok berpengaruh yang menurutnya dapat memanfaatkan teknologi, jaringan keuangan serta informasi untuk memengaruhi berbagai negara.

Namun, sejumlah pernyataan tersebut merupakan pandangan dan klaim narasumber yang belum disertai bukti independen dalam materi yang disampaikan kepada redaksi. Karena itu, pernyataan mengenai kelompok tertentu, penguasaan sistem keuangan dunia, pengendalian persenjataan, serta tudingan terhadap pihak tertentu perlu ditempatkan sebagai pendapat narasumber dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.

Digitalisasi dan Ancaman Ketergantungan

Lebih lanjut, Sutan Nasomal menyoroti ketergantungan negara terhadap teknologi digital. Menurutnya, negara harus memiliki kemampuan menjaga data strategis dan tidak sepenuhnya bergantung kepada teknologi yang dikembangkan pihak lain.

Ia mencontohkan sejumlah sektor strategis seperti pertahanan, kesehatan, pertanian, energi, perbankan dan komunikasi yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian serius.

“Kalau semua sistem strategis bergantung pada pihak lain, maka ada potensi kerentanan ketika terjadi gangguan atau konflik kepentingan,” katanya.

Menurutnya, kemandirian teknologi nasional menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketahanan negara di era digital.

Waspadai Informasi Negatif di Media Sosial

Sutan Nasomal juga mengingatkan masyarakat agar tidak menerima seluruh informasi yang beredar di internet secara mentah.

Media sosial, menurutnya, dapat menjadi sarana edukasi dan komunikasi yang sangat bermanfaat. Namun, apabila digunakan tanpa pengawasan dan literasi yang memadai, ruang digital juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, provokasi, penipuan, pornografi, ujaran kebencian maupun berbagai konten negatif lainnya.

Ia mengingatkan bahwa kecanggihan perangkat seperti telepon pintar, komputer dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus diimbangi dengan nilai moral, agama dan tanggung jawab manusia.

“Teknologi tidak mengenal halal dan haram. Yang menentukan bagaimana teknologi itu digunakan adalah manusia,” ujarnya.

Jangan Sampai Teknologi Menjadi “Tuhan Baru”

Salah satu perhatian utama Sutan Nasomal adalah semakin besarnya ketergantungan manusia terhadap teknologi dan AI dalam mengambil keputusan.

Ia menilai manusia tetap harus menggunakan akal, ilmu pengetahuan, nilai agama dan nasihat para ahli sebagai pertimbangan dalam kehidupan, bukan menyerahkan seluruh keputusan kepada mesin atau kecerdasan buatan.

“Kalau manusia mulai menjadikan teknologi sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan meninggalkan Tuhan, agama serta nilai kemanusiaan, maka itu menjadi persoalan besar,” katanya.

Sutan Nasomal kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hati atau qolbu.

Ia merujuk hadis riwayat Bukhari dari Nu’man bin Basyir yang menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik maka baik pula seluruh tubuh, dan apabila buruk maka buruk pula seluruh tubuh; segumpal daging tersebut adalah hati.

Menurutnya, pesan tersebut relevan untuk mengingatkan masyarakat agar kemajuan teknologi tidak menghilangkan nilai moral dan spiritual.

“Jangan sampai kecanggihan teknologi digital menghancurkan qolbu dan ketaqwaan,” pesannya.

Ia berharap masyarakat Indonesia mampu mengambil manfaat dari perkembangan teknologi sekaligus tetap kritis terhadap informasi, menjaga keamanan data pribadi, memperkuat literasi digital dan mempertahankan nilai-nilai agama serta kemanusiaan.

“Mesin teknologi digital bisa membawa manusia menjadi lebih baik, tetapi juga bisa membawa manusia kepada kerusakan. Semua bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya,” pungkas Sutan Nasomal.

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.

Pakar Hukum Internasional dan Ekonom; Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (Association of Young Indonesian Advocates); Ketua Umum YPLBH; serta Rektor Universitas STIA Pronass.

(Red//Tim KRIMSUS86.COM)

Tegas, Lugas, Terpercaya

Pos terkait