MUBA-PALI | Krimsus86.com – Kondisi jembatan penghubung antara Desa Talang Akar, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Desa Sungai Dua, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), semakin memprihatinkan. Infrastruktur yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan tersebut kini berada dalam kondisi yang dinilai sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Jembatan yang selama ini menjadi akses utama bagi warga untuk beraktivitas, mengangkut hasil pertanian, berdagang, hingga menjangkau layanan pendidikan dan kesehatan, kini mengalami kerusakan cukup parah. Warga mengaku khawatir setiap kali melintas karena kondisi konstruksi jembatan yang terus mengalami penurunan kualitas.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pipa besi penyangga jembatan terlihat mengalami korosi berat akibat termakan usia dan cuaca. Selain itu, bagian oprit atau tanah penyangga di ujung jembatan juga mengalami abrasi dan pengikisan yang cukup serius hingga membentuk lubang besar. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu ambruknya struktur jembatan apabila tidak segera dilakukan perbaikan.
“Saat ini masyarakat sangat waswas ketika melintas. Jembatan ini setiap hari digunakan warga dari dua kabupaten. Kami berharap pemerintah jangan menunggu sampai terjadi kecelakaan atau korban jiwa baru turun melakukan perbaikan,” ujar salah seorang warga setempat.
Menurut warga, kerusakan yang terjadi semakin hari semakin parah. Apabila dibiarkan berlarut-larut, bukan hanya mengancam keselamatan pengguna jalan, tetapi juga dapat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada akses tersebut.
Jembatan ini memiliki peran strategis karena menjadi penghubung langsung antara wilayah Kabupaten PALI dan Kabupaten Musi Banyuasin. Banyak kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas setiap harinya untuk mengangkut hasil perkebunan, kebutuhan pokok, serta berbagai aktivitas sosial masyarakat.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten PALI, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, serta instansi terkait dapat segera melakukan peninjauan lapangan dan mengambil langkah konkret berupa perbaikan maupun rehabilitasi jembatan sebelum kondisi semakin memburuk.
Warga juga meminta adanya pemasangan rambu-rambu peringatan dan pembatasan tonase kendaraan sebagai langkah antisipasi sementara demi mengurangi risiko kecelakaan.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Jangan sampai infrastruktur vital ini ambruk dan menimbulkan korban jiwa. Kami berharap ada tindakan nyata secepatnya,” tegas warga.
Hingga saat ini, masyarakat kedua desa masih menunggu respons dan perhatian serius dari pemerintah daerah agar jembatan perbatasan tersebut dapat kembali aman digunakan dan mendukung kelancaran mobilitas serta perekonomian warga.
(Enismiyana)






