PANGANDARAN | Krimsus86.com – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Barat terus melakukan pendalaman dan koordinasi lintas instansi terkait penanganan kecelakaan kapal berupa kandasnya Kapal Tongkang NAUTICA 22 yang ditarik Tug Boat (TB) TITAN 33 di perairan Laut Cibenda, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.
Tongkang tersebut diketahui mengangkut sekitar 8.100 ton batu bara dari Pelabuhan Belawan menuju Pelabuhan Cilacap. Kapal berada di bawah pengelolaan PT Trans Logistik Perkasa dengan agen pelayaran PT Tirta Samudra.
Pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, Tim Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Jawa Barat tiba di lokasi untuk melakukan pengecekan dan pengumpulan bahan keterangan. Lokasi kandasnya kapal berada pada koordinat 07°41’34,44” LS dan 108°33’41,64” BT.
Sekitar pukul 08.30 WIB, tim gabungan yang terdiri dari Ditpolairud Polda Jabar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Pangandaran, Unit Tipidter Satreskrim Polres Pangandaran, Unit Gakkum Satpolairud Polres Pangandaran, serta Pos TNI AL Pangandaran melakukan peninjauan terhadap tumpahan batu bara yang berasal dari tongkang tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, DLH Provinsi Jawa Barat mengambil sampel air laut guna mengidentifikasi dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan akibat tumpahan batu bara. Sampel tersebut akan diuji di Laboratorium Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat di Bogor dengan estimasi hasil keluar dalam waktu sekitar 14 hari kerja.
Pada siang harinya, pengambilan sampel kembali dilakukan menggunakan kapal TB TITAN 33. Langkah ini diambil mengingat kondisi cuaca dan gelombang laut yang tidak memungkinkan penggunaan speedboat maupun kapal nelayan.
Selain kegiatan lapangan, berbagai instansi terkait juga menggelar rapat koordinasi di Kabupaten Pangandaran yang dihadiri unsur DPRD, Polres Pangandaran, UPP Kelas III Pangandaran, TNI AL, DLH, Dinas Perhubungan, Dinas Perikanan dan Kelautan, serta stakeholder terkait lainnya.
Dalam rapat tersebut disepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya percepatan evakuasi kapal dan normalisasi dampak tumpahan batu bara, penegakan hukum apabila ditemukan indikasi pencemaran lingkungan, serta penguatan sinergi antarinstansi dalam menjaga kebersihan dan keamanan perairan Pangandaran.
Kepala UPP Kelas III Pangandaran menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kepolisian, pemilik kapal, agen pelayaran, dan instansi terkait guna mempercepat proses evakuasi kapal serta penanganan muatan yang tumpah. UPP juga memberikan relaksasi administrasi terhadap TB TITAN 33 untuk mendukung kelancaran proses evakuasi.
Sementara itu, pihak pemilik kapal melalui perwakilannya menjelaskan bahwa setelah menerima laporan kejadian, perusahaan segera berkoordinasi dengan pihak asuransi, syahbandar, agen pelayaran, serta berbagai pihak terkait lainnya. Tim surveyor juga telah diterjunkan untuk memeriksa kondisi kapal, muatan, dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa Polda Jabar melalui Ditpolairud terus melakukan pengawasan dan koordinasi guna memastikan seluruh proses penanganan berjalan secara optimal.
“Polda Jabar melalui Ditpolairud terus melakukan pendalaman dan berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait untuk memastikan proses penanganan kecelakaan kapal ini berjalan secara cepat, tepat, dan sesuai ketentuan. Kami juga mendukung langkah pengujian laboratorium guna mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta akan mengawal proses penegakan hukum apabila ditemukan adanya unsur pelanggaran,” ujar Hendra, Sabtu (20/6/2026).
Ia menambahkan, sinergi antarinstansi menjadi faktor penting dalam percepatan evakuasi kapal, pemulihan kondisi lingkungan, serta menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Pangandaran.
Hingga saat ini, penanganan kandasnya Tongkang NAUTICA 22 masih terus berlangsung melalui proses investigasi dan pendalaman oleh instansi yang berwenang. Upaya percepatan normalisasi area terdampak, pembersihan tumpahan batu bara, serta rencana evakuasi bangkai tongkang menjadi fokus utama penanganan.
Selama kegiatan pemantauan dan koordinasi berlangsung, situasi di lokasi kejadian dilaporkan dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.
(Red//tim media Fric)






