MUSI BANYUASIN | KRIMSUS86.COM — Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun, kekayaan tersebut dinilai tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kompeten, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog Live Podcast Radio Gema Randik 97 FM Sekayu, Rabu (2/9/2026), yang mengangkat tema “Pendidikan Tinggi di Kabupaten Musi Banyuasin: Antara Harapan dan Kenyataan.”
Rektor Institut Rahmaniyah Sekayu, Dr. Wandi Subroto, S.H., M.H., menegaskan bahwa keberadaan perguruan tinggi di Kabupaten Musi Banyuasin tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat untuk memperoleh gelar atau ijazah akademik semata.
Menurutnya, perguruan tinggi harus hadir sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan daerah sekaligus mengambil peran aktif dalam menggerakkan pembangunan melalui peningkatan kualitas manusia.
Pendidikan tinggi, kata Dr. Wandi, harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, kemampuan berpikir, serta kesiapan untuk memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Masyarakat Musi Banyuasin tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerah. Mereka harus menjadi pelaku utama.”
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah besarnya potensi ekonomi dan pembangunan yang terus berkembang di Kabupaten Musi Banyuasin.
Menurut Dr. Wandi, persoalan pembangunan bukan hanya berbicara mengenai seberapa besar investasi atau pembangunan fisik yang masuk ke suatu daerah, tetapi juga sejauh mana masyarakat lokal memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengambil bagian di dalamnya.
Kampus Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Dr. Wandi menilai perguruan tinggi harus mampu membaca berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Kampus, menurutnya, tidak cukup hanya berkutat pada teori dan aktivitas akademik di ruang perkuliahan. Perguruan tinggi juga harus menghasilkan pemikiran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta solusi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
“Perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mahasiswa belajar secara teori, tetapi juga harus menjadi pusat pemikiran, penelitian, pengabdian dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, kualitas sebuah perguruan tinggi tidak semestinya hanya diukur dari jumlah mahasiswa maupun banyaknya lulusan yang dihasilkan setiap tahun.
Lebih dari itu, kualitas lulusan serta dampak nyata keberadaan perguruan tinggi terhadap kehidupan masyarakat menjadi ukuran yang jauh lebih penting.
Pemerintah, Kampus dan Dunia Usaha Harus Bersinergi
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Wandi juga menekankan bahwa pembangunan SDM tidak mungkin dibebankan kepada perguruan tinggi semata.
Menurutnya, diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia industri agar proses pendidikan memiliki keterkaitan yang nyata dengan kebutuhan dunia kerja serta arah pembangunan Kabupaten Musi Banyuasin.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perguruan tinggi membutuhkan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri. Sebaliknya, pemerintah daerah juga membutuhkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia,” katanya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan masyarakat Muba tidak hanya menjadi pasar tenaga kerja, melainkan mampu tumbuh menjadi pelaku utama pembangunan di daerahnya sendiri.
Dengan keterlibatan dunia usaha dan industri, pendidikan tinggi juga diharapkan dapat semakin responsif terhadap kebutuhan kompetensi yang diperlukan di lapangan.
Antara Harapan dan Kenyataan
Di sisi lain, Dr. Wandi tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan yang masih dihadapi pendidikan tinggi di Kabupaten Musi Banyuasin.
Persoalan akses pendidikan, kemampuan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas SDM, hingga tuntutan untuk terus meningkatkan mutu perguruan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan bersama.
Namun demikian, berbagai tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melakukan perubahan dan perbaikan.
“Kita harus jujur melihat kondisi pendidikan tinggi kita. Harapan masyarakat sangat besar, tetapi tentu masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus melakukan perbaikan dan memastikan pendidikan tinggi memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mendorong generasi muda Musi Banyuasin agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan tinggi bukan semata-mata bertujuan memperoleh ijazah, melainkan merupakan proses untuk membentuk pola pikir, meningkatkan kompetensi, membangun karakter, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
Investasi Terbesar Ada pada Manusia
Bagi Dr. Wandi, pembangunan infrastruktur memang memiliki peranan penting dalam mendorong kemajuan daerah. Namun, pembangunan manusia merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan suatu daerah.
“Kalau kita ingin Muba maju dan masyarakatnya sejahtera, maka investasi terbesar yang harus kita lakukan adalah investasi pada manusia. Infrastruktur bisa dibangun dalam beberapa tahun, tetapi membangun kualitas manusia membutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menempatkan pendidikan tinggi bukan sekadar sebagai bagian dari sektor pendidikan, melainkan sebagai salah satu strategi penting dalam pembangunan daerah.
Sebab, sumber daya alam dapat mengalami penurunan dan habis, sementara infrastruktur dapat menua dan membutuhkan pembaruan. Namun, kualitas manusia yang dibangun melalui pendidikan akan menjadi modal pembangunan yang dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui dialog di Radio Gema Randik 97 FM Sekayu, masa depan pendidikan tinggi di Kabupaten Musi Banyuasin kembali menjadi ruang refleksi bersama.
Tantangan ke depan bukan sekadar memperbanyak jumlah lulusan, tetapi memastikan lahirnya SDM Muba yang kompeten, berkarakter, mampu bersaing, serta berani mengambil peran dalam pembangunan daerahnya sendiri.
Karena pada akhirnya, Musi Banyuasin tidak hanya membutuhkan generasi yang memiliki ijazah, tetapi generasi yang memiliki kemampuan untuk mengubah ilmu menjadi karya dan pembangunan menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.
(Enis//red)






