Krimsus86.com, Masyarakat Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, kembali melaksanakan tradisi adat Sedekah Rame atau lempar lemang sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sedekah Puyang tersebut dipusatkan di kediaman salah satu warga, Tarmizi, dan diawali dengan ziarah ke makam leluhur Puyang Tumamiah atau yang dikenal dengan sebutan Puyang Burung Jauh.
Kegiatan adat dan budaya ini dihadiri langsung oleh berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat, di antaranya Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan Kabupaten Musi Banyuasin Dr. Drs. H. Iskandar Syahrianto, M.H., Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Musi Banyuasin Ibu Siti Fatimah Syafaruddin, Camat Sungai Keruh Henri, S.Pd., M.Si., Ketua TP PKK Kecamatan Sungai Keruh Ibu Nuti Romayana Henri, unsur Forkopimcam, OPD Kabupaten Musi Banyuasin, Forum Pemangku Adat, komunitas budaya, serta masyarakat Kecamatan Sungai Keruh dan sekitarnya.
Camat Sungai Keruh, Henri, S.Pd., M.Si., mengatakan tradisi Sedekah Rame merupakan agenda rutin masyarakat Desa Kertayu yang memiliki nilai budaya, spiritual, dan sosial yang kuat.
“Sedekah Rame di Desa Kertayu ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur pasca panen. Selain itu, tradisi ini juga menjadi momentum untuk mendoakan para leluhur serta mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Henri menambahkan bahwa tradisi tersebut kini menjadi salah satu warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Musi Banyuasin.
“Tradisi Sedekah Rame ini merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia dan menjadi identitas budaya masyarakat Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh,” tambahnya.
Menurut Henri, salah satu rangkaian utama dalam kegiatan tersebut adalah doa bersama dan prosesi lempar lemang kepada masyarakat sebagai simbol berbagi hasil panen dan kebersamaan.
“Mayoritas masyarakat dahulu bekerja di sektor pertanian dengan hasil utama berupa ketan. Hasil panen tersebut kemudian diolah menjadi lemang dan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur,” jelasnya.
Sementara itu, Tarmizi selaku pemangku adat Desa Kertayu menyampaikan bahwa tradisi Sedekah Rame telah diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat hingga saat ini.
“Setiap tahun warga Desa Kertayu melaksanakan Sedekah Rame. Tradisi ini diawali dengan ziarah ke makam Puyang Burung Jauh, kemudian dilanjutkan dengan prosesi lempar lemang,” katanya.
Tradisi Sedekah Rame tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian budaya lokal di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya daerah tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.
(Enismiyana)






