PROF. DR. SUTAN NASOMAL SOROTI LEBIH DARI 1 JUTA SARJANA MENGANGGUR, JANJI PRESIDEN DITAGIH RAKYAT

JAKARTA — KRIMSUS86.COM | Persoalan meningkatnya jumlah sarjana yang belum memperoleh pekerjaan kembali menjadi sorotan. Pakar Hukum Internasional dan Ekonom, Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret dan terukur untuk mendata serta membuka akses lapangan kerja bagi para lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Sutan Nasomal, persoalan pengangguran sarjana tidak boleh terus dibiarkan tanpa solusi yang nyata. Pemerintah, menurut pandangannya, dapat melakukan pendataan berdasarkan disiplin ilmu dan kompetensi para sarjana, kemudian membantu proses penyaluran tenaga kerja ke berbagai sektor.

Berita Lainnya

“Pengangguran sarjana yang jumlahnya terus membengkak setiap tahun perlu mendapatkan perhatian serius. Presiden dapat memerintahkan kementerian terkait untuk melakukan pendataan dan membantu penyaluran sesuai klasifikasi serta kemampuan masing-masing sarjana,” ujar Prof. Dr. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online, baik dari dalam maupun luar negeri, di Jakarta, Kamis (28/8/2026), melalui sambungan telepon seluler.

Ia menyampaikan bahwa para sarjana dapat diberikan peluang untuk bekerja pada sektor swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dunia industri maupun berbagai kementerian dan lembaga sesuai dengan kebutuhan serta bidang keahlian masing-masing.

Prof. Dr. Sutan Nasomal juga menilai persoalan ekonomi dan ketenagakerjaan saat ini menjadi perhatian luas masyarakat. Menurutnya, masyarakat berharap adanya perbaikan kondisi ekonomi serta peningkatan kesempatan kerja yang dapat dirasakan secara nyata.

“Rakyat tentu bertanya, kapan kondisi Indonesia benar-benar membaik. Persoalan sulitnya lapangan pekerjaan, ditambah gelombang pemutusan hubungan kerja, menjadi persoalan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya,” katanya.

SOROT MIGRASI PERUSAHAAN DAN INVESTASI

Dalam pandangannya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah berkurangnya aktivitas sejumlah perusahaan dan industri di Indonesia serta adanya perusahaan yang memilih mengembangkan kegiatan usahanya di negara lain.

Menurut Prof. Dr. Sutan Nasomal, pemerintah perlu membangun iklim investasi yang sehat dan memberikan kepastian kepada para pelaku usaha agar Indonesia kembali menjadi tempat yang menarik bagi investasi dan pembangunan industri.

Ia berharap Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dapat mengambil langkah strategis untuk menarik lebih banyak perusahaan nasional maupun internasional membangun industri di Indonesia.

“Apabila industri tumbuh dan investasi masuk, maka akan semakin banyak tenaga kerja yang dapat terserap, termasuk para sarjana yang memiliki berbagai disiplin ilmu dan keahlian,” ujarnya.

Prof. Dr. Sutan Nasomal menilai persoalan ketenagakerjaan dan perekonomian nasional tidak dapat diselesaikan secara instan. Dibutuhkan pembenahan sistem dan mekanisme secara menyeluruh agar kepercayaan dunia usaha dapat tumbuh.

Ia mengibaratkan pembangunan ekonomi seperti menanam padi yang membutuhkan tanah subur dan kondisi yang mendukung untuk menghasilkan panen.

“Tidak mungkin pohon padi ditanam di atas gurun yang tandus dan keras seperti batu. Sistem yang sehat, kepastian hukum, serta mekanisme yang baik menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan dan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

SARJANA DIDORONG MENJADI PENCIPTA LAPANGAN KERJA

Selain mendorong peran pemerintah dalam membuka lapangan kerja, Prof. Dr. Sutan Nasomal juga mengajak para sarjana Indonesia untuk tidak hanya bergantung pada ketersediaan pekerjaan.

Menurutnya, para lulusan perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk membangun usaha secara mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

“Para sarjana Indonesia memiliki kecerdasan dan kemampuan. Karena itu, jangan hanya menjadi pencari pekerjaan. Mulailah membangun usaha, menjadi pendiri perusahaan dan menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.

Ia mendorong para sarjana untuk membentuk kelompok kerja dan jaringan usaha di daerah masing-masing. Berbagai sektor, mulai dari pertanian, industri, teknologi mesin hingga bidang teknologi informasi, dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

Menurutnya, pengembangan usaha tidak harus dilakukan sendiri. Kerja sama antarsarjana dengan latar belakang keilmuan berbeda dapat menjadi kekuatan untuk membangun usaha produktif yang mampu menyerap tenaga kerja.

“Peluang di bidang pertanian, industri mesin dan teknologi informasi sangat terbuka. Para sarjana harus mampu menciptakan peluang usaha lokal, nasional bahkan menjangkau pasar internasional,” ujarnya.

PESAN UNTUK SARJANA INDONESIA

Prof. Dr. Sutan Nasomal juga menyampaikan pesan kepada para sarjana di seluruh Indonesia agar tidak hanya menunggu bantuan atau kesempatan dari pihak lain.

Ia mengajak generasi terdidik untuk mulai membangun kemandirian, membentuk jaringan kerja dan menciptakan kegiatan ekonomi yang produktif.

“Jangan menunggu hujan dari langit sementara air di tempayan dibuang sia-sia. Jangan menunggu belas kasihan orang lain untuk belajar berdiri, padahal kita mampu berdiri dan berlari secara mandiri. Semua membutuhkan proses,” pesannya.

Menurutnya, pembentukan kelompok kerja dan jaringan usaha sarjana Indonesia dapat menjadi salah satu jalan untuk menciptakan kekuatan ekonomi baru yang berbasis pada ilmu pengetahuan, kreativitas dan kemampuan generasi terdidik.

Prof. Dr. Sutan Nasomal juga membuka ruang komunikasi bagi para sarjana yang membutuhkan masukan, pengalaman dan pandangan dalam membangun kelompok usaha maupun jaringan kerja.

Ia berharap para lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat bersama-sama membangun semangat kemandirian dan menjadi bagian dari penciptaan lapangan pekerjaan baru.

NARASUMBER

Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.

Pakar Hukum Internasional dan Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompii, Pendiri dan Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, Rektor Univ STIA STIH Pronass, serta Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia / Association of Young Indonesian Advocates.

Jakarta, 28 Agustus 2026

KRIMSUS86.COM

Tegas, Lugas, Terpercaya

Pos terkait