Wonosobo Deklarasikan Gerakan Melawan Hoaks Lewat Seminar Nasional

 

Krimsus86.com Wonosobo, 26 April 2026 – Ribuan masyarakat memadati Gedung Unsiq 2, Kabupaten Wonosobo, dalam kegiatan Seminar Nasional bertajuk “Melawan Hoaks” yang digelar pada Sabtu (24/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran publik terhadap bahaya penyebaran informasi palsu di era digital.

Berita Lainnya

Seminar yang diinisiasi oleh tokoh muda sekaligus Koordinator Nasional Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP), Abdul Ghoni, berhasil menarik lebih dari 2.000 peserta dari berbagai kalangan. Hadir dalam acara ini antara lain mahasiswa, komunitas sosial, pengemudi ojek online, serta masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Abdul Ghoni mengajak seluruh masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia menegaskan bahwa penyebaran hoaks dapat memicu opini negatif dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

“Kita harus melawan hoaks dengan akal sehat. Jangan sampai ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Wonosobo harus tetap kondusif agar mampu berkembang sebagai destinasi wisata dan daerah investasi,” ujarnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, serta Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat. Kehadiran para pemimpin daerah tersebut memperkuat komitmen bersama dalam memerangi hoaks secara sistematis.

Seminar ini sekaligus menjadi ajang Deklarasi “Wonosobo Melawan Hoaks”, di mana seluruh peserta menyatakan komitmen untuk:

Menolak segala bentuk hoaks, disinformasi, dan informasi menyesatkan

Menjadi pengguna media digital yang bijak, kritis, dan bertanggung jawab

Sejumlah narasumber nasional turut memberikan pemaparan dalam seminar ini. Wartawan senior Hersubeno Arief menyoroti berbagai contoh hoaks yang beredar di media sosial dan dampaknya yang dapat memicu perpecahan sosial serta konflik antar kelompok.

Sementara itu, Indra Jaya Piliang menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. “Dalam jurnalistik, prinsip utama adalah cek dan ricek. Pastikan kebenaran informasi melalui berbagai sumber terpercaya,” ujarnya.

Narasumber lainnya, Iswandi Saputra, menjelaskan perbedaan antara hoaks dan mitos. Menurutnya, hoaks umumnya berkaitan dengan kepentingan politik dan kekuasaan, sedangkan mitos lebih terkait dengan budaya dan kepercayaan masyarakat.

Ia juga menyoroti peran algoritma media sosial dalam mempercepat penyebaran hoaks. “Salah satu cara sederhana untuk menghentikan penyebaran hoaks adalah dengan tidak berinteraksi dengan konten tersebut, termasuk tidak menonton video hoaks lebih dari beberapa detik,” jelasnya.

Para narasumber dan peserta sepakat bahwa upaya melawan hoaks membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh nasional. Gerakan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ketahanan sosial yang kuat di daerah.

Melalui kegiatan ini, Wonosobo diharapkan tidak hanya berkembang sebagai daerah tujuan wisata, tetapi juga menjadi wilayah yang memiliki daya saing tinggi dalam investasi serta masyarakat yang cerdas dalam bermedia digital.

“Dari Wonosobo, kami menyatakan bahwa melawan hoaks adalah langkah nyata untuk menjaga kebenaran, persatuan, dan masa depan bangsa,” menjadi pesan penutup dalam deklarasi tersebut.(Tim KJN Cakmet//red)

Pos terkait