Krimsus86.com Lebanon Selatan, 30 Maret 2026 — Tiga jurnalis dilaporkan meninggal dunia dalam sebuah serangan udara yang terjadi di wilayah dekat Jezzine, Lebanon Selatan, pada Senin (30/3). Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pekerja media dalam menjalankan tugas peliputan di kawasan konflik bersenjata.
Korban dalam peristiwa tersebut adalah Ali Shuaib (koresponden Al Manar TV), Fatima Ftuni (koresponden Al Mayadeen), serta Mohammad Ftuni, seorang jurnalis foto. Ketiganya dilaporkan tewas di lokasi setelah kendaraan yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan udara.
Berdasarkan informasi awal, para jurnalis tersebut tengah melakukan peliputan di wilayah dengan eskalasi ketegangan militer yang meningkat di sepanjang perbatasan Lebanon–Israel. Serangan terjadi secara tiba-tiba dan menghantam langsung kendaraan yang digunakan korban.
Insiden ini menambah daftar panjang jurnalis yang menjadi korban dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa pekan terakhir, situasi keamanan di Lebanon selatan dilaporkan terus memburuk seiring meningkatnya intensitas serangan dan aksi balasan militer.
Tragedi ini juga memperdalam duka bagi keluarga Ftuni. Sebelumnya, pada awal Maret 2026, tujuh anggota keluarga Ftuni dilaporkan tewas dalam serangan udara terpisah di wilayah yang sama.
Hingga saat ini, belum terdapat keterangan resmi mengenai kronologi rinci kejadian maupun tanggapan dari pihak militer Israel. Otoritas setempat di Lebanon masih melakukan proses pendataan serta penyelidikan lebih lanjut, termasuk verifikasi status para korban sebagai pekerja media saat insiden berlangsung.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius dari komunitas internasional terkait keselamatan jurnalis di wilayah konflik. Sejumlah organisasi pemerhati kebebasan pers menyerukan peningkatan perlindungan terhadap pekerja media serta penegakan hukum humaniter internasional yang menjamin keselamatan warga sipil, termasuk jurnalis.
Situasi di Lebanon selatan hingga kini dilaporkan masih belum kondusif, dengan potensi eskalasi konflik yang tetap terbuka. Masyarakat internasional terus mendorong upaya de-eskalasi serta perlindungan maksimal terhadap seluruh warga sipil.(Mj@.19)






