Perebutan DKM Masjid Agung Karawang Memuncak, Askun Meledak, Kemenag Disorot

Krimsus86.com/KARAWANG —
Awan kelabu kembali menaungi Masjid Agung Syekh Quro Karawang. Di tempat suci yang seharusnya menjadi simbol persatuan umat, kini bergema nada ketegangan dan perebutan legitimasi kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Konflik lama yang sempat mereda kini kembali pecah ke permukaan. Dua agenda besar, Pelantikan Pengurus DKM baru dan Istighotsah Kubro PCNU Karawang, terjadwal di hari, tanggal, dan jam yang sama persis: Kamis, 13 November 2025, pukul 18.00 WIB, di lokasi yang sama pula, Masjid Agung Syekh Quro Karawang.

Berita Lainnya

Benturan jadwal ini bukan sekadar miskoordinasi. Ia adalah sinyal keras dari pertarungan dua kubu yang sama-sama ingin menunjukkan siapa yang paling berhak memimpin rumah Allah tertua dan paling bersejarah di Karawang itu.

Di balik lantunan adzan, kini bergema perebutan pengaruh dan kekuasaan.
Askun Meledak: “Jangan Pertontonkan Kebodohan di Rumah Allah!”

Dewan Penasehat DKM Masjid Agung, Asep Agustian (Askun), tak bisa lagi menahan amarah. Dengan nada tinggi dan penuh emosi, ia menuding pihak lawan sedang mempertontonkan kebodohan di hadapan publik.

“Terlalu sangat berhasrat menjadi Ketua DKM, seolah jabatan itu lebih tinggi dari kehormatan masjid,” ujarnya geram.

Askun menegaskan bahwa kubunya yang dipimpin H. Zeni Zaelani masih memegang SK kepengurusan yang sah, dan menantang siapa pun yang meragukan hal itu.

“Kalau mau jadi pengurus, silakan. Tapi selesaikan dulu SK lama!
Kalau bilang Ketua DKM kami tidak sah, cabut SK sebelumnya atau gugat SK kami!” tegasnya lantang.

Kemarahan Askun tak berhenti di situ. Ia menembakkan kritik tajam kepada Kementerian Agama (Kemenag) Karawang, yang dinilainya gagal menjaga keharmonisan umat dan kemakmuran masjid.

“Saya tidak melihat peran Kemenag dalam hal ini! Di mana mereka saat umat mulai terbelah?” katanya penuh kekecewaan.

Bahkan, Askun mensinyalir adanya keberpihakan lembaga vertikal itu kepada pihak tertentu.

“Kalau Kemenag terus diam dan membiarkan, maka yang jadi korban adalah jamaah Masjid Agung,” ucapnya dengan nada menekan.

Seruan Rekonsiliasi di Tengah Bara
Meski emosinya membuncah, Askun masih membuka pintu damai. Ia mengajak semua pihak duduk bersama, bermusyawarah, dan mengakhiri pertikaian yang mencoreng nama Masjid Agung Karawang.

“Tujuan utama kita adalah memakmurkan masjid, bukan memperebutkan kekuasaan. Kalau pemerintah tidak turun tangan, jamaah akan makin terpecah,” tuturnya menutup pernyataannya.

Kubu Zeni Zaelani Tegas: “Kami yang Sah, Berdasarkan SK Bupati”
Sementara itu, Nachrowi, juru bicara DKM kubu H. Zeni Zaelani, menyatakan pihaknya tidak akan mundur selangkah pun.

“Pelantikan pengurus sudah dijadwalkan jauh hari dan bahkan melibatkan agenda Pemerintah Daerah, termasuk penyerahan apresiasi MTQ,” katanya.

Ia menegaskan bahwa DKM yang sah hanyalah yang memiliki SK Bupati, bukan yang diakui oleh organisasi keagamaan tertentu.

“Semua kegiatan di Masjid Agung harus berada dalam koridor DKM yang sah, yaitu DKM H. Zeni Zaelani,” tegasnya, sekaligus mendelegitimasi kegiatan PCNU yang mengklaim sebaliknya.

Nachrowi pun menawarkan solusi kompromi: agar Istighotsah Kubro PCNU digeser setelah pukul 22.00 WIB, usai pelantikan DKM selesai.

Diamnya PCNU, Gelisahnya Jamaah
Hingga berita ini diturunkan, PCNU Karawang belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi ledakan emosi Askun dan klaim sah kubu Zeni Zaelani.

Namun di tengah diamnya elite, jamaah Masjid Agung kini terbelah, antara loyalitas dan rasa lelah melihat perebutan kuasa di tempat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan.

Masjid Agung Syekh Quro, yang dulu menjadi simbol dakwah dan pemersatu umat, kini berdiri di tengah pusaran konflik, menanti siapa yang benar-benar akan memakmurkannya, bukan memilikinya.

(Red)*

Pos terkait