Rumah Rutilahu di Karawang: Terbangun Megah, Tak Berpenghuni, dan Sarat Kisruh Lahan

 

Krimsus86.com/Karawang –
Sebuah kisruh mencuat di Dusun Pundong, RT 03/03, Desa Belendung, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Program pemerintah yang sejatinya hadir untuk membantu masyarakat miskin, justru menyisakan luka dan tanda tanya besar. Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang dibangun melalui anggaran aspirasi Dewan sejak tahun 2020 kini berdiri megah, namun ironisnya, kosong tak berpenghuni.

Berita Lainnya

Peristiwa ini kian memantik perhatian warga, sebab rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal bagi keluarga kurang mampu, justru terbangun di atas tanah milik pribadi yang statusnya masih penuh sengketa. Keluhan masyarakat pun menyeruak, menilai ada banyak kejanggalan dalam realisasi proyek tersebut.

“Rutilahu itu tadinya mau dibangun bukan di sini, Pak. Tapi entah kenapa tiba-tiba dipindahkan ke lahan kosong milik Ngkong Udin,” ungkap seorang warga dengan nada penuh heran.

Sarda Somantri atau yang akrab disapa Cardok, sebagai salah satu orang dari tim pelaksana, mengklaim bahwa pemindahan lokasi terjadi karena adanya urusan hutang piutang antara pemilik tanah dengan keluarga penerima manfaat, H. Endang.

“Engkong Udin pemilik lahan tersebut punya hutang sebesar 45 juta rupiah pada H. Endang sebagai KPM, Ditagih, engkong Udin malah ngasih lahan itu ke H. Endang “. Ungkapnya

Bahkan ia menyebut ada uang Rp10 juta yang diberikan oleh seorang anggota dewan kepada Abu Ali untuk membayar DP lahan tersebut.

Namun, tudingan itu dibantah keras oleh Abu Ali. Dengan wajah serius, ia menegaskan tidak pernah menerima uang sebesar itu.

“Innalillahi… Saya disebut terima Rp10 juta? Wallahi, saya tidak pernah merasa menerima uang sebesar itu sama sekali, saya harus menanggapi hal ini, karena ini adalah fitnah buat saya ” ucapnya penuh emosi.

Sementara itu, Ngkong Udin, pemilik lahan, merasa dirugikan. Ia mengaku tanah pribadinya digunakan tanpa kejelasan ganti rugi.

“Itu lahan punya saya pribadi. Saya sudah minta Pak Dewan Jitang untuk bayar lahan saya yang dipakai buat Rutilahu itu, tapi beliau tidak mau. Alasannya, katanya sudah punya lahan kebun lain,” ungkapnya dengan suara getir.

Kini, bangunan megah itu menjadi saksi bisu betapa program rakyat bisa terjerat dalam permainan kepentingan. Rumah yang seharusnya menjadi harapan, berubah menjadi simbol kekecewaan.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, semua pihak yang terkait dalam hal ini , belum memberikan keterangan apapun.

Masyarakat pun hanya bisa menunggu, berharap ada kejelasan dan keadilan. Sebab, program Rutilahu sejatinya hadir untuk memulihkan kehidupan rakyat kecil, bukan justru melahirkan konflik dan ketidakpastian.

(Aj)*

Pos terkait